43 Inovasi untuk Negeri : L.T. Handoko Si Pencari Partikel Tuhan

 
 

Berawal dari teori yang dikembangkan fisikawan dunia, dia menemukan teori-teori baru yang akan disumbangkan ke dunia internasional.

Nama partikel tuhan tiba-tiba mencuat dan akrab di telinga masyarakat setelah novelis Dan Brown memperkenalkannya dalam novel Angles and Demons. Partikel tuhan yang diperebutkan antara detektif John Langdon dan perkumpulan Illuminati menjadi daya tarik novel itu. Apalagi salah satu partikel nuklirnya akan mengjhancurkan kota Vatikan. Dalm novel itu, Brown pun menggambarkan aktivitas para fisikawan di CERN.

Apa sebenarnya partikel tuhan Ternyata salah seorang peneliti Indonesia ikut terlibat dalam riset partikel tuhan tersebut. Dialah L.T. Handoko. atau yang akrab disapa LTH. Fisikawan dari LIPI itu menjelaskan god particle sebetulnya adalah partikel Higgs.

"Partikel tuhan hanya istilah. Dulu malah pernah ada buku yang menulis god damn particle karena partikel yang dicari-cari enggak ketemu. Intinya susah, " kata Handoko. Namun. istilah itu dianggap terlalu kasar, kemudian diganti menjadi god particle. Istilah itu dipakai hingga sekarang.

Handoko merupakan satu dari sekian banyak ilmuwan yang terpanggil untuk mencari partikel-partikel yang susah ditemukan itu. Meski begitu, Handoko lebih fokus pada teori.

Dialah salah satu dari sekian banyak ahli fisika teori yang direkrut dalam proyek internasional di laboratorium CERN, yang berkedudukan di Jenewa, Swiss. CERN, atau Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire, merupakan organisasi riset nuklir Eropa yang fokus pada partikel-partikel fisika. Handoko mengaku dalam empat tahun ke depan, dia akan aktif dalam tim tersebut karena teori yang ia buat sudah rampung.

"Memang Indonesia baru menjajaki untuk kontribusi aktif. Berharap empat tahun ini sudah mulai terlihat. Pada dasarnya fisika partikel tidak banyak ditekuni. Saya memang tertarik pada teori fisika ketimbang fisika eksperimental, " ujar dosen fisika di Universitas Indonesia (UI) itu.

Dia menjelaskan, secara teoretis, partikel fisika itu sudah diteliti sejak 1968. Apa pun materinya, ada pembentuknya.

"Nah, kita mencari tahu apa sih pembentuk elementernya. Lebih kecil daripada atom. Itu topik utama kajiannya, kami sudah menemukan 16 partikel ditambah yang belum dikonfirmasi. Ke-16 partikel itu sudah ditemukan pada 1998, " terangnya.

Tujuan menemukan partikel itu ialah untuk mengetahui materi paling dasar sehingga mudah memahami alam semesta. Selain itu, hasil riset bisa dimanfaatkan untuk teknologi ke depan.

Handoko menyebutkan saat ilmuwan fisika menemukan elektron pada 1930-an, manfaat elektron belum diketahui. Pada saat itu orang hanya mengetahui ada partikel kecil yang membawa partikel listrik. Kini elektron dipakai untuk barang-barang elektronik karena basisnya elektron.

Partikel tuhan, atau partikel Higgs, sebetulnya belum ditemukan, tapi masih dalam tahap indikasi. Menurut Handoko, partikel Higgs ini ada kemiripan berdasarkan teori fisika.

"Prediksinya kan kami dalam riset menemukan 16 partikel dan satu yang belum ditemukan. Di situ ada 6 jenis kuark, 6 jenis elektron, dan seterusnya. Kalau partikel itu tidak ditemukan, kami harus modifikasi teorinya. "

Menurutnya, partikel Higgs dikembangkan tiga fisikawan, tetapi Peter Higgs-lah yang paling populer. Teori tersebut sudah mereka kembangkan sejak 1964 dan ditengarai akan menjadi dasar teori fisika baru.

Penelitian di laboratorium CERN saat ini tengah mencarikan collider bagi teori yang diusung Higgs dkk. Proyek tersebut melibatkan 47 negara dengan biaya cukup besar.

Handoko menyebutkan, untuk eksperimentasi teori tersebut, dibuatlah terowongan sepanjang 27 km dengan diameter 3 km di bawah tanah.

"Nantinya di beberapa titik ini ada laboratorium untuk pemasangan detektor. Di permukaan sebenarnya tidak berbahaya, tetapi jadi banyak intervensi partikel lainnya, sedangkan di bawah tanah sudah terendam. Kalau di darat harus memakai tanah orang. Penyokong utamanya Amerika, Uni Eropa dan Jepang, " ungkapnya.

Handoko akan terlibat di megaproyek tersebut.

Penelitian lain

Dalam proyek yang dana penelitiannya mencapai ratusan triliun rupiah itu, Handoko tidak hanya mencari partikel Higgs, tetapi juga banyak hal lain yang bisa dikuak.

"Di situ tidak harus terkait dengan teori Big Bang karena yang dicari partikel mikro yang amat kecil, sedangkan Big Bang di level besar. Ingin tahu materi pembentuk manusia seperti protein dan DNA atau mengapa listrik punya pembangkit yang bisa beroperasi berbulan-bulan tanpa bisa dihentikan dan sebagainya. "

Sebagai ahli teori fisika, Handoko memang tertarik dengan masalah DNA. Saat ia kuliah program master di Jepang, Handoko menekuni fenomenologi peluruhan meson B dan perusakan charge parity. Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di DESY, lembaga riset di Hamburg, Jerman, guna menekuni efek supersimetri pada peluruhan meson B serta neutrino. Hasil penelitian kolaborasi itu kemudian dikenal secara global.

Saat kembali ke Indonesia pada 2002, Handoko bersama sejumlah mahasiswanya di Fakultas Fisika UI mengkaji teori unifikasi berbasis simetri SU(6). Ia kemudian mengkaji pula teori medan di dinamika fluida pada 2005. Dari situlah Handoko bersama teman-temannya menemukan relasi matematis untuk mendapatkan persamaan Euler relativistik untuk fluida.

Teori itu terus dikembangkan guna memodelkan magnetofluida untuk plasma serta dinamika DNA pada biofisika. Handoko pun siap menjadi bagian tim riset dunia untuk memajukan dan mengembangkan teori fisika dengan penemuannya. (/M-6)

Biodata

    Nama : Laksana Tri Handoko
    Tempat, tanggal lahir : Malang, 7 Mei 1968
    Anak : Arsya Asharhadi, Hania Nayla
    Pendidikan : S1 - Fisika Kumamoto University, S2 dan S3 - Fisika Teori Hiroshima University


DARI HOBI JADI PATEN

Penelitian di bidang fisika banyak bersentuhan dengan teknologi informasi. Tak mengherankan jika kemudian Handoko jatuh cinta pada dunia komputasi.

Saya memang hobi berat terkait dengan teknologi informasi maupun komputasi. Ini memang semacam hobi yang kebablasan, bahkan saya sekarang menjadi Direktur Pusat Penelitian Informatika LIPI di Bandung, " ujarnya semangat.

Rupanya hobi itu tidak main-main. Peraih Habibie Award 2003 tersebut secara serius mengadakan riset informatika hingga menghasilkan 3 paten dan 9 hak cipta.

Saya sudah melakukannya sejak 1995, tetapi yang benar-benar menjadi riset tahun 2005-an. Saya mengerjakannya bersama anggota grup saya di Serpong, serta para mahasiswa dari beberapa kampus, " tuturnya.

Salah satu aplikasi yang dibuat Handoko adalah CPNS Online. Menurutnya, aplikasi itu hanya efek dari penelitian terkait manajemen data. Handoko membuatnya untuk memberi solusi agar proses penerimaan CPNS, khususnya di LIPI, bisa dilakukan lebih murah, mudah sekaligus transparan, dan aman.

"Meminimalkan adanya permaianan atau kecurangan pada proses penerimaan CPNS tersebut, " kata ayah dua anak itu.

Beberapa aplikasi lain yang dihasilkan dari hobi informatikanya ialah ISSN Online, LIPI Press Online, OSS Indonesia, BUKU-e, TESIS Online, Indotex, Indeks Ilmiah Indonesia, Memory of the World Indonesia, dan LIPI-IR yang merupakan repository insitusi pertama yang diaktifkan di Indonesia dan teregistrasi di OpenDOAR. Semua aplikasi itu dibuka untuk masyarakat umum secara cuma-cuma.

Aktif berorganisasi

Sebagai peneliti yang terbiasa dengan keteraturan, Handoko juga menginginkan hal yang sama pada relasinya dengan kawan-kawan. Pada awal 2000-an komunitas fisika teori masih sangat sedikit.

"Saat itu bahkan sama sekali belum ada kegiatan ilmiah yang spesifik untuk komunitas fisika teori di Indonesia. Padahal, tanpa komunitas dan kegiatan yang solid, tentu saja akan sangat sulit bagi kami untuk berkembang, " kata dia.

Akhirnya Handoko mendirikan Grup Fisikawan Teoritik Indonesia (GFTI) yang punya pertemuan ilmiah tahunan, yaitu Conference on Theoretical Physics and Nonlinear Phenomena. Hampir bersamaan dengan pendirian GFTI, Handoko juga menggagas berdirinya Masyarakat Komputasi Indonesia.

"Saya mendirikan ini karena grup penelitian saya di Puspiptek Serpong adalah Grup Fisika Teori dan Komputasi (GFTK) sehingga saya merasa harus mengakomodasi staf saya yang sebagian besar terkait dengan bidang komputasi dan bukan fisika teori, " cetusnya.

Bagi Handoko, menyediakan wadah bagi stafnya sama dengan mengakomodasi perkembangan pengetahuan mereka secara mudah dan terorganisasi. (/M-6)


Untuk mencegah kesalahpahaman, ada beberapa klarifikasi dari L.T. Handoko terkait artikel di atas :
  • LTH tidak pernah terkait langsung dengan kegiatan pencarian Higgs secara eksperimental di CERN, serta tidak juga bergabung dalam kolaborasi CERN. Karena LTH seorang fisikawan teori dan bukan eksperimentalis. Justru yang dilakukan para teoris adalah mengembangkan aneka teori yang ada serta memberi prediksi atas partikel-partikel baru yang mungkin bisa dikonfirmasi eksistensinya dalam eksperimen seperti di CERN. Salah satu teori tersebut misalnya teori unifikasi berbasis simetri SU(6) yang dikembangkan oleh LTH dan para mahasiswanya sejak 2005.
  • Yang dimaksud dalam wawancara oleh reporter MI (Khalidah Nizma Fritz), saat ini LTH bersama Suharyo S. sejak 2 tahun terakhir sedang memulai usaha untuk melibatkan Indonesia ke dalam kolaborasi global, salah satunya dengan CERN. Diharapkan dalam 4 tahun mendatang telah bisa dimulai kolaborasi para eksperimentalis Indonesia di CERN dll.
  • Informasi teknis mengenai eksperimen di CERN pada artikel ini kurang akurat, silahkan mengacu ke situs resmi CERN. Termasuk masalah pembangkit listrik diatas, yang dimaksud adalah CERN membutuhkan pembangkit listrik yang besar dan stabil, tidak bisa mati di tengah pelaksanaan eksperimen.
  • Riset dengan topik dinamika DNA / protein tidak dilakukan dan / atau berhubungan dengan CERN. Kajian ini sepenuhnya masih dalam ranah teori.

Sumber : Media Indonesia, 25 Februari 2013

Sivitas Terkait : Laksana Tri Handoko
Diakses : 2610