Akselerasi Riset dan Inovasi untuk Industri di Bidang Metalurgi dan Material Maju

 
 
Serpong, Humas LIPI. Pandemi COVID-19 tak menyurutkan upaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam melakukan kolaborasi serta mendiseminasikan ilmu pengetahuan dan hasil risetnya ke masyarakat. Dilaksanakan secara virtual, gelaran Indonesia Science Expo 2020 berlangsung selama 16 hari sejak 10 November lalu. Berbagai konferensi ilmiah internasional diselenggarakan, salah satunya International Seminar on Metallurgy and Materials (ISMM) pada 19-20 November 2020.

Penyelenggaraan ISMM yang ke-4 ini merupakan hasil kolaborasi dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material (P2MM), Pusat Penelitian Fisika (P2F) dan Balai PenelitianTeknologi Mineral (BPTM) LIPI. Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko menyampaikan rasa bangganya dapat menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi sebagai ajang diskusi maupun kolaborasi internasional. “Ini merupakan kehormatan besar bagi kami untuk menjadi tuan rumah konferensi internasional. Saya ucapkan selamat datang, semoga acara ini tidak hanya menjadi sarana untuk saling mengenal, tapi dapat membuka kolaborasi bagi para peserta di kemudian hari,” ujar Handoko dalam pembukaan ISMM pada Kamis (19/11).

The 4th ISMM tahun ini mengambil tema Accelerating Research and Innovation on Metallurgy and Advanced Materials for Inclusive and Sustainable Industry. “Dengan tema ini diharapkan ISMM menjadi wadah dalam mengakselerasi riset dan inovasi di bidang metalurgi dan material maju untuk industri yang inklusif dan berkelanjutan,” papar Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono. Agus juga menyampaikan, para pembicara akan mempresentasikan spesialisasi penelitiannya sesuai dengan topik di lingkup material maju serta material fungsional di bidang energi dan metalurgi. “Harapan kami, konferensi ini tidak hanya sukses sebagai sarana berbagi pengetahuan, tapi juga menjadi ajang terbukanya kesempatan dan pengalaman dalam mengembangkan teknologi material maju di masa depan,” imbuhnya.

Hari pertama ISMM menghadirkan empat pembicara kunci, yaitu Takeshi Kawae dari Kanazawa University-Jepang, Andika Widya Pramono dari P2MM, Bambang Prihandoko dari P2F dan Fatwa Firdaus Abdi dari Helmholtz-Zentrum Berlin, Jerman dengan moderator Deni Shidqi Khaerudini dari P2F LIPI.

Takeshi menyampaikan presentasinya berjudul Inspection of pseudo normally-off operation of ferroelectric gate diamond FET. “Diamond ini memiliki karakterisasi ukuran pita lebar dan konduktivitas termal tinggi” terangnya. Dalam simpulannya, dosen salah satu kampus terkemuka di Jepang ini menyatakan kemampuan diamond dapat diatur dengan mengubah waktu iradiasi ultraviolet. “Diamond merupakan kandidat material yang menjanjikan sebagai perangkat listrik generasi masa depan,” pungkasnya.

Andika, peneliti material biokompatibel menyampaikan topik risetnya terkait aplikasi superkonduktor di bidang pemanenan energi. Pemanenan energi mengacu pada berbagai upaya untuk memperoleh, mengubah dan menyimpan energi dari alam seperti energi surya, angin, termal, dll ke dalam sebuah perangkat. “Pemanenan energi juga dikenal sebagai pemanenan daya, pengumpulan energi atau ambient power, dan ini menyediakan jumlah daya yang cukup untuk elektronik yang berenergi rendah,” paparnya. Indonesia memiliki banyak potensi mineral strategik termasuk mineral tanah jarang yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi masa depan. “Kami mengembangkan berbagai aplikasi superkonduktor berbasis logam tanah jarang,” ungkap Andika.

Sementara pembicara ketiga, Bambang mempresentasikan inovasi baterai litiumnya sebagai kunci dari era energi baru. Peneliti di P2F ini memaparkan fase Revolusi Industri dari 1.0-4.0 yang meniscayakan terjadinya Revolusi Energi. “Revolusi energi didorong oleh adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini didukung oleh terobosan teknologi nano dalam peralatan penyimpan energi (baterai),” ujarnya.

Bambang mengembangkan baterai litium ‘Merah Putih’ berbasis sumber daya lokal yang mempunyai keunggulan dapat diproduksi massal, dapat diisi dengan cepat, awet dan memiliki voltase tinggi. Bahan baku baterai litium ini diambil dari beberapa wilayah Indonesia seperti Laut Jawa, Trenggalek, Kalimantan dan Sulawesi. “Pengembangan nanoteknologi dalam baterai Merah Putih ini diharapkan dapat menjawab tantangan kebutuhan energi baru masa depan, dan meningkatkan peran Indonesia di pasar dunia baterai litium,” ujarnya.

Fatwa Firdaus Abdi sebagai pembicara kunci terakhir di sidang pleno ISMM hari pertama menjelaskan tentang produksi energi surya yang efisien, dari material ke perangkat skala besar. “Sinar surya adalah sumber energi yang melimpah ruah di sekitar kita. Ini salah satu fakta yang dapat kita jadikan rujukan dalam pencarian energi alternatif baru,” jelasnya. Peneliti di Pusat Penelitian Berlin, Jerman ini menjelaskan pentingnya energi baru guna mengurangi pemanasan global yang terus terjadi.

Sebagai informasi, hari kedua the 4th ISMM akan menghadirkan keynote speaker Byungil Hwang dari Chung-Ang University, Korea Selatan dengan presentasinya tentang interkonek untuk elektronik fleksibel/bisa dipakai, Hirofumi Tanaka dari Kyushu Institute of Technology, Jepang menyampaikan risetnya terkait nanokarbon untuk perangkat nano jaringan neuromorphic dan Anne Zulfia Syahrial dari Universitas Indonesia yang akan mempresentasikan metal komposit dan aplikasinya. (nh/ ed: drs)
 
 
 
 
 
 
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Eng. Agus Haryono
Diakses : 177