Alih Teknologi Percepat Hilirisasi Produk Riset dan Inovasi

 
 
 
Cibinong, Humas LIPI. Riset dan Inovasi berperan penting dalam mendorong pergerakan roda perekonomian dalam negeri, khususnya di masa pandemi ini. ”Perlu kita berikan apresiasi kepada para peneliti dan juga industri yang telah bekerjasama dengan baik untuk melakukan riset dan inovasi sehingga menghasilkan karya yang dapat dinikmati dan bermanfaat untuk masyarakat luas,” ungkap Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro saat membuka Talkshow bertajuk ’Success Story Produk Karya Anak Negeri: Riset dan Inovasi sebagai Penggerak Ekonomi di Masa Pandemi’, pada Selasa (30/03).

Bambang berharap acara dapat menjadi ajang untuk saling berdiskusi, khususnya antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kemenristek/BRIN, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Keuangan, dan industri dalam upaya peningkatan kegiatan riset dan inovasi dalam negeri. Kemenristek/BRIN terus memberikan dukungan penuh kepada lembaga litbang maupun universitas dalam upaya-upaya merespon secara cepat atas kebutuhan teknologi industri.  Dukungan tersebut diberikan agar produk-produk hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat ataupun industri, melalui percepatan proses hilirisasi atau alih teknologi,” tuturnya.
 
”Pemerintah juga terus berupaya untuk mendorong partisipasi sektor swasta dalam kegiatan riset dan inovasi serta melakukan percepatan alih teknologi. Salah satunya melalui program insentif pengurangan pajak super (supertax deduction) yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 153/2020. Insentif ini diberikan pada wajib pajak dalam negeri yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan tertentu di Indonesia,” jelas Bambang.
 
Di akhir paparan, Bambang memberikan apresiasi secara simbolis kepada empat perwakilan inventor yang telah berkontribusi dalam menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) lisensi/royalti terbesar ke LIPI untuk periode Januari s.d Maret 2021, yakni: Hendri Maja Saputra untuk ‘Produk Alat Terapi Oksigen Beraliran Tinggi/ GLP HFNC 01’ (S00202004636) dengan nilai PNBP sebesar Rp. 993.192.424; Novik Nur Hidayat untuk ‘Komposisi Pembenah Tanah dan Penggunaanya’ (IDP000040604) dengan nilai PNBP sebesar Rp 94.766.941; Sarjiya Antonius untuk ‘Pupuk Organik Cair Hayati (POH) dan Proses Pembuatannya’ (IDP000064813) dengan nilai PNBP sebesar Rp. 76.269.993; Asep Nur Hikmat untuk ‘Karakterisasi Bahan Makanan Heterogen Dalam Kemasan’ (P00201708914) dengan nilai PNBP sebesar Rp. 45.000.000.
Sementara itu Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko menyampaikan bahwa LIPI sebagai salah satu lembaga penelitian di Indonesia telah banyak melakukan riset penelitian yang dilakukan oleh 31 unit penelitian di seluruh Indonesia. Berbagai hasil penelitian tersebut tidak semua menjadi produk, karena sifatnya penelitian ilmu dasar dan sebagian lagi memiliki potensi untuk dikomersialisasikan.

“LIPI terus mengembangkan infrastruktur baik fisik (laboratorium) dan merekrut sumber daya manusia (SDM) unggul. Semua infrastruktur ini kami buka dan mitra industri turut memanfaatkan bersama-sama dengan LIPI melakukan product development, sehingga ekosistem dan inovasi dapat semakin baik ke depannya. Hal ini berpotensi mendorong potensi serta kreativitas dari peneliti kami dan industri lain untuk memunculkan potensi produk baru yang kreatif yang bisa dikomersialisasikan,” papar Handoko.
Handoko mengungkapkan, keberadaan mitra industri sangat membantu dalam proses penyempurnaan dan meningkatkan fungsi dan fitur dari berbagai produk yang sedang dikembangkan. “Mitra industri berperan sebagai reviewer dan memiliki tuntutan yang luar biasa dalam berbagai kasus belum terpikirkan oleh peneliti kami,” ujar Handoko.

Pada kesempatan yang sama, Yan Rianto selaku Kepala Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK (PPII) LIPI menambahkan saat ini model inovasi sudah berubah lebih dinamis, menjadi model inovasi yang terbuka baik bagi sebuah perusahaan maupun bagi stakeholder lainnya. Inovasi tidak hanya dilakukan di dalam satu perusahaan saja tetapi perusahaan bisa menghasilkan teknologi sendiri atau mengakuisisi teknologi dari luar. “Ada dua pendekatan untuk penelitian yang berpotensi komersial yaitu tecnology push dan customer’s needs yang dapat menciptakan inovasi, seperti kondisi pandemi saat ini menciptakan kebutuhan dari sisi konsumen dan menghasilkan inovasi,” rincinya.

Salah satu inventor yang berasal dari Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik, Hendri Maja Saputra, ikut berbagi success story atas invensi ‘Produk Alat Terapi Oksigen Beraliran Tinggi’ (GLP HFNC 01). Produk ini merupakan hasil kerjasamanya dengan mitra industri PT. Gerlink, dengan Direkturnya Ghozalfan F. Basarah, yang telah menghasilkan royalti hampir mencapai 1 miliar kepada LIPI. Mereka berbagi mulai dari proses awal penelitian, hambatan, tantangan, dan akhirnya berhasil melakukan penjualan yang signifikan di kondisi pandemi ini. ”Harapan industri adalah dukungan pemerintah dari sisi regulasi dan kebijakan, yaitu membatasi ruang gerak produk asing supaya produk karya anak bangsa dapat unggul,” terangnya.

Talkshow menghadirkan pula Direktur Pendidikan Tinggi dan IPTEK Bappenas, Tatang Muttaqien yang menjelaskan anggaran belanja riset dan pengembangan, kebijakan fasilitas perpajakan untuk mendorong penguatan ekonomi, dan peran pemerintah sebagai regulator serta fasilitator yang bersinergi baik dengan lembaga IPTEK dan perguruan tinggi. Sementara Direktur PNBP KL, Kementerian Keuangan, Wawan Sunarjo membahas pengaturan PMK 72/PMK.02/2015 dan PMK 6/PMK.02/2016 tentang imbalan atas royalti Hak Kekayaan Intelektual (HKI). (yl/ ed: sl)
 
 
 
 
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Yan Rianto M.Eng.
Diakses : 220