Bagaimana Museum Zoologicum Bogoriense Merawat dan Menyimpan Koleksinya?

 
 
Cibinong, Humas LIPI. Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) memiliki lebih dari 2 juta koleksi spesimen ilmiah  fauna. Koleksi ini terus bertambah setiap tahun yang menjadikan museum yang didirikan pada tahun 1894 oleh Dr. J.C.Koningsberger ini sebagai rujukan penting dalam koleksi specimen ilmiah di regional Asia Tenggara.

Keberadaan koleksi spesimen merupakan bagian penting dari ilmu pengetahuan hayati sebagai bahan acuan identifikasi jenis binatang. Selain itu koleksi spesimen juga menyimpan berbagai jenis spesies asli Indonesia sehingga keberadaannya dapat tetap terpantau.  Di MZB, koleksi spesimen dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu mamalia, burung, ikan, reptil, amfibi, moluska, krustasea, serangga, serta invertebrata.



Koleksi spesiemen di MZB diterima dari berbagai cara. Beberapa di antaranya adalah dari ekspedisi lapangan, pemberian dari sesama peneliti atau masyarakat, tukar-menukar dan titipan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam, atau barang sitaan tindak kriminal.

Dhian Dwibadra, Koordinator Pengelolaan Koleksi MZB, menjelaskan proses penyimpanan koleksi spesiemen dibagi menjadi tiga tahap. “Pertama penerimaan spesimen, kemudian diproses sesuai dengan takson masing-masing, lalu spesimen dapat disimpan di ruang penyimpanan dan terus dirawat,” ujar Dhian.

Koleksi yang sudah diterima tersebut kemudian untuk diawetkan. Menurut cara pengawetannya koleksi dibedakan menjadi koleksi basah dan kering yang dibedakan dari karakter morfologinya. “Misalnya jenis burung dan mamalia masuk dalam koleksi kering, sedangkan reptil masuk dalam koleksi basah karena akan mengkerut jika tidak disimpan dalam cairan,” ujar Dhian.

Ia menjelaskan, koleksi kering  disimpan dengan cara dikeringkan kemudian ditusuk dengan jarum, sedangkan koleksi basah disimpan dalam tabung kaca dan direndam alkohol 70%.

Perawatan koleksi
Perawatan dan pendataan koleksi spesimen menjadi bagian penting dari proses penyimpanan koleksi. Suhu ruang penyimpanan harus terus dipantau dan dijaga pada suhu 18-22 derajat celcius. Kelembaban di dalam ruangan juga tetap dijaga pada angka 45-60 persen. “Suhu dan kelembaban ruangan dapat mempengaruhi keawetan koleksi. Jika suhu dan kelembabannya tidak diatur, koleksi dapat rusak karena debu atau udara lembab dan akan membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk membersihkannya kembali,” sahut Dhian sambil menunjukkan koleksi spesimen tungau yang menjadi bagian dari spesialisasi penelitiannya.

Proses perawatan lain yang harus diperhatikan adalah volume alkohol pada koleksi basah. Dhian menjelaskan,  alkohol pada koleksi basah harus diganti jika sudah keruh atau berkurang. “Spesimen harus terus teremdam alkohol, jika sudah hampir habis, harus segera ditambah,” jelasnya. Sementara untuk koleksi kering, jarum spesimen harus diganti jika sudah berkarat. Koleksi juga secara berkala dibersihkan dari debu.

Koleksi –koleksi spesimen fauna ini disimpan di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berada di Cibinong Science Center-Botanical Garden, Cibinong Jawa Barat. Sementara koleksi yang  dipamerkan untuk umum berada di museum pameran yang berada di dalam area Kebun Raya Bogor, Bogor, Jawa Barat. Museum pameran MZB menampilkan 122 display 954 jenis fauna Indonesia.

Menggeluti profesi peneliti sekaligus mengelola koleksi spesimen bagi Dhian adalah pekerjaan yang menyenangkan. “Lebih banyak suka daripada duka, karena menjaga koleksi spesimen merupakan bagian dari menjaga keberagaman hayati terutama spesies asli Indonesia,” tutupnya. (sr/ed: fz)
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dhian Dwibadra Ph.D.