Biopelet LIPI, Tingkatkan Perekonomian Masyarakat

 
 
Cibinong, Humas LIPI. Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 2016  mengembangkan biopelet untuk alternatif bahan bakar yang berasal dari limbah biomassa seperti ampas kopi dan serbuk kayu. “Dengan teknologi sederhana, LIPI telah berhasil membuat biopelet dan menghasilkan paten terkait formulasi dan tungku biopelet. Teknologi biopelet LIPI memiliki keunggulan rendah emisi, tinggi kalori dan murah dengan efisiensi bisa mencapai 40% dibandingkan penggunaan bahan bakar gas” ungkap Plt. Kepala Pusat Penelitian Biomaterial-LIPI, Dede Heri Yuli Yanto pada Rabu (13/3) di Cibinong.
 
Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI,  Lisman Suryanegara menjelaskan, biopelet yang dikembangkan saat ini cocok untuk diaplikasikan pada Usaha Kecil Menengah (home industry) seperti pabrik kerupuk, keripik, tahu, sukro dan makanan lainnya. "Saat ini, bahan bakar yang biasa digunakan oleh home industry adalah gas, kayu bakar, tempurung kelapa dan batu bara. Gas harganya yang cukup tinggi, penggunaan kayu bakar maupun tempurung kelapa menghasilkan asap yang menyebabkan polusi udara, sedangkan penggunaan batu bara  meninggalkan limbah B3 yang dapat mencemari lingkungan,” ungkap Lisman.
 
Lisman mengatakan, saat ini kami berupaya memasyarakatkan teknologi biopelet agar lebih dikenal sehingga proses alih teknologi LIPI ke masyarakat dapat berhasil dilakukan. Upaya ini dilakukan dengan mengadakan kegiatan workshop dengan peserta yang berasal dari pelaku usaha (UKM), calon pelaku usaha, karang taruna, pihak swasta penyedia mesin pelet, peneliti serta akademisi. “Diharapkan dengan diadakannya workshop ini UKM di wilayah bogor dan bandung yang sangat terkenal dengan industri-industri makanannya dapat beralih ke teknologi biopelet untuk menggantikan bahan bakar gas,” pungkasnya.(est,ed:lyr)

Sumber : Biro Kerjasama, Hukum dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Lisman Suryanegara M.Agr.
Diakses : 180