Ekspedisi Lengguru, Menguak Kekayaan Hayati Papua Barat

 
 
Bogor, Humas LIPI. Walaupun telah terselenggara akhir 2014 lalu, hasil temuan Ekspedisi Lengguru, Papua Barat masih terus diteliti terkait usaha konservasi dan juga pemanfaatannya di masa depan. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 59 spesies baru dari berbagai taksa baik serangga, amfibi, burung, ikan air tawar, moluska, anggrek, dan diperkirakan masih akan terus bertambah. Ekspedisi ini merupakan ekspedisi ilmiah terbesar di Indonesia.  
 
Ekspedisi keanekaragaman hayati ini melibatkan lebih dari 70 peneliti bidang zoologi, botani, dan juga biologi kelautan kerjasama antara  Institut De Recherche Pour Le Development (IRD) Prancis, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong. “Sebagai bagian dari kode etik, peneliti harus segera melaporkan kepada publik hasil temuannya sebagai bentuk tanggung jawab,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati di sela-sela pembukaan Ekspose Hasil Ekspedisi Lengguru 2014 di Gedung Kusnoto LIPI, Kota Bogor, Jawa Barat pada Rabu (3/5), sekaligus dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati yang akan jatuh tanggal 22 Mei nanti.
 
Lengguru terletak di Papua Barat, dan didominasi oleh batuan karst. Selama jutaan tahun, lingkungan ini telah memberikan mosaik habitat dengan kekhasan yang tinggi, kedalaman, kelembaban, isolasi, salinitas dan suhu yang mendukung proses adaptasi, evolusi dan konservasi spesies hewan dan tumbuhan. Wilayah ini merupakan rumah bagi sejumlah besar spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.
 
Laurent Pouyaud, peneliti genetik IRD menuturkan, dari data terbaru tim peneliti berhasil mengumpulkan lebih dari 4.000 spesimen baik hewan maupun tumbuhan dari daratan, laut, dan bawah permukaan tanah. “Masih sangat banyak potensi di Papua yang belum diinvestigasi. Indonesia merupakan pabrik keanekaragaman hayati yang sangat natural, dengan tektonik aktif yang unik,” imbuhnya.
 
Untuk bunga anggrek, Papua menyimpan 11,5% jenis anggrek dunia dan 95% nya adalah endemik. Direncanakan, akhir 2017 tim akan kembali melakukan ekspedisi di Lengguru dengan fokus terumbu karang dengan zonasi kedalaman 60-150 meter dan hutan awan.
 
Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Indra Bayu Vimono mengimbuhkan, dari hasil penelitian kelautan sendiri, tim mengumpulkan sampel hingga kedalaman 100 meter. “Ini baru pertama kali di Indonesia, dan di setiap titik penyelaman memiliki karakter yang unik dengan keanekaragaman hayati yang tinggi,” jelasnya.
 
Menurut Indra, konservasi ke depannya sangat dibutuhkan. “Nanti juga akan dibuatkan rekomendasi untuk konservasi terumbu karang, termasuk aturan main kapal cruise, sebesar apa, secepat apa, dan sedekat apa dengan pantai di daerah berterumbu karang,” paparnya.
 
Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI yang juga selaku Koordinator Ekspedisi, Gono Semiadi menambahkan, proses identifikasi hasil temuan masih berjalan 50-60%. Dirinya mengungkapkan, ada keunikan di Kaimana, Lengguru. “Normalnya, apabila ketinggian tempat semakin tinggi, keanekaragaman hayatinya semakin rendah. Di Kaimana justru tidak berlaku, tempat dengan ketinggian wilayah yang tergolong tinggi, keanekaragaman hayatinya masih relatife tinggi,” tuturnya. Untuk itu, identifikasi harus terus dilakukan, pungkasnya. (msa/ed: isr)
 
Sumber foto: Tim Ekspedisi Lengguru LIPI-IRD
 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati