Indeks Kesehatan Terumbu Karang Jadi Tolak Ukur Pengelolaan Terumbu Karang Indonesia

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia baru saja diluncurkan pada Senin (20/11) di Kantor Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Ancol Timur, Jakarta. Peluncuran indeks ini diharapkan mampu menjadi tolak ukur dalam pengelolaan terumbu karang dan ekosistem terkaitnya di seluruh perairan Indonesia.
 
Peluncuran Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia ini juga bersamaan dengan peluncuran beberapa buku terbitan P2O LPI, serta penyerahan sertifikat Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P2O LIPI dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Puluhan sivitas peneliti, akademisi, dan para tamu undangan dari Kementerian/Lembaga serta stakeholders terkait hadir pada kegiatan itu.
 
Bambang Subiyanto, Pelaksana Tugas Kepala LIPI mengungkapkan bahwa kehadiran Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia merupakan bagian dari pengelolaan terumbu karang dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Pengelolaan terumbu karang membutuhkan perangkat dan standar tertentu dalam mengukur apakah ekosistem tersebut dalam kondisi baik atau tidak. Salah satu dari perangkat yang dibutuhkan adalah Indeks Kesehatan Terumbu Karang,” jelasnya.
 
Dia melanjutkan, indeks tersebut sangat berguna untuk pengelolaan terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya di masa sekarang dan yang akan datang. Harus diakui tidak mudah untuk menetapkan atau membangun indeks kesehatan untuk suatu ekosistem. Dibutuhkan data yang sangat panjang, pengalaman dan kompetensi keilmuan yang tinggi.
 
Apalagi luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan sekitar 51.000 km2 atau sekitar 18% dari total karang yang hidup di planet bumi ini. Dari sisi kekayaan jenis, perairan Indonesia, terutama Raja Ampat memiliki jumlah jenis karang terkaya di dunia. Di perairan tersebut, lebih dari 75% jumlah spesies karang yang ada di dunia atau sekitar 590 jenis karang, hidup di Perairan Indonesia.
 
Oleh karena itu, sambung Bambang, dapat dipahami bahwa tidak banyak negara di dunia yang sudah memiliki Indeks Kesehatan Terumbu Karang. “Kita patut bersyukur Indonesia adalah satu dari sedikit negara yang memiliki indeks ini,” Bambang menandaskan.
 
 
Tren Positif
 
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin menambahkan bahwa kekayaan terumbu karang Indonesia yang beragam perlu dijaga dan dilestarikan dengan baik. “Untuk itu, layak bagi Indonesia untuk memelihara dan mengelola terumbu karang secara berkelanjutan,” katanya.
 
Upaya yang dilakukan secara terus menerus oleh Pemerintah Indonesia sejak beberapa dekade lalu, telah menuai hasil dan memiliki tren positif. Data hasil monitoring yang dilakukan oleh LIPI melalui Program Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) menunjukkan bahwa kondisi dan status terumbu karang Indonesia memiliki kecenderungan positif atau meningkat lebih baik.


 
Dirhamsyah, Kepala P2O LIPI berharap tren positif status terumbu karang akan lebih meningkat lagi dengan adanya Indeks Kesehatan Terumbu Karang. Indeks tersebut disusun berdasarkan data dan akumulasi pengalaman yang telah dimiliki LIPI selama bertahun-tahun dalam bidang riset dan monitoring terumbu karang di hampir seluruh perairan di Indonesia. “Indeks ini berdasarkan data yang dikoleksi secara intensif oleh P2O LIPI sejak lebih dari 20 tahun yang lalu, pada saat dimulainya Program COREMAP pada 1999 silam,” sambungnya.
 
Pada 2017 ini, LIPI diberi kepercayaan kembali untuk melanjutkan Program COREMAP Fase III yang akan berakhir hingga Desember 2020. Program itu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat peningkatan kapasitas kelembagaan dalam bidang riset dan monitoring ekosistem pesisir (terumbu karang, lamun dan mangrove), serta kapasitas pengelolaan data dan informasi, baik nasional dan daerah. “Hasil yang dicapai dari kegiatan COREMAP sejak fase 1 sampai dengan fase 3 saat ini telah dimanfaatkan oleh para stakeholder, antara lain untuk pembaruan data dan informasi kondisi kesehatan terumbu karang serta lamun di seluruh perairan Indonesia yang dilakukan setiap tahun,” tutur Dirhamsyah. 
 
Selain peluncuran Indeks Terumbu Karang Indonesia, buku-buku dari P2O LIPI yang diluncurkan adalah berjudul Mangrove di Indonesia, Menyerap Karbon, dan 5 Dekade LIPI di Teluk Jakarta. Buku-buku yang ditulis oleh para peneliti P2O LIPI ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh LIPI selama beberapa dekade terakhir.
 
Selain peluncuran buku, capaian penting lain yang menjadi bagian kegiatan kali ini adalah diakuinya P2O LIPI sebagai LSP yang berwenang memberikan sertifikasi kompetensi bidang Penilai Kondisi Terumbu Karang dan Ekosistem Lain yang terkait dari kegiatan COREMAP-CTI. Penyerahan Sertifikat Lisensi LSP P2O LIPI dilakukan oleh Ketua BNSP kepada Kepala LIPI.
 
“Ini adalah bukti bahwa sebagai sebuah lembaga, LIPI layak dan berkompeten untuk memberikan penilaian tentang kompeten atau tidaknya seseorang sebagai seorang surveyor penilai terumbu karang. Di sisi lain, LSP ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab LIPI untuk pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya ilmu kelautan,” tutup Dirhamsyah. (pwd/ed: dig)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Dirhamsyah M.A.