Ini Tiga Komponen Penting Pengembangan Biofuel di Indonesia

 
 
Bogor, Humas LIPI. Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan kebijakan optimalisasi penggunaan biofuel untuk sarana transportasi yang mewajibkan penggunaan bahan bakar minyak jenis solar dicampur 20 persen komponen biofuel berbahan dasar minyak nabati (B20). Kebijakan ini membutuhkan pasokan biofuel yang stabil. “Pengembangan teknologi biorefeneri untuk mengubah biomasa menjadi biofuel dan produk kimia lainnya menuntut perhatian pada tiga komponen penting,” ungkap Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Enny Sudarmonowati, Selasa (10/10) di Bogor, Jawa Barat.

Enny mengatakan, pengembangan teknologi biorefineri untuk mengubah biomasa menjadi biofuel dan produk kimia lainnya menuntut adanya perhatian pada tiga komponen penting. “Pertama, perlu pengembangan teknologi pretreatment biomasa untuk menghilangkan bagian yang tidak diperlukan,” jelas Enny. Hal kedua, lanjut Enny, diperlukan pengembangan teknologi produksi enzim sebagai komponen katalisator (biokatalis). “Sampai saat ini enzim yang diperlukan masih merupakan produk impor sehingga berpengaruh di biaya produksi,” ujar Enny. Sedangkan komponen ketiga adalah teknologi fermentasi dan reaksi terpadu

Dirinya mengungkapkan jika komponen tadi dapat dipadukan dengan komposisi sumber daya lokal, maka proses produksi akan berjalan lebih efisien sehingga menurunkan biaya produksi. “Produksi energi alternatif bisa berbiaya murah dan terjangkau, terlebih lagi saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan B20 yang mendukung sektor energi alternatif," jelasnya.

Saat ini LIPI telah membentuk konsorsium melaksanakan riset biorefineri terpadu. Konsorsium ini terdiri dari LIPI yakni Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Biologi, Pusat Penelitian Biomaterial, dan Pusat Penelitian Kimia dengan dukungan Japan International Cooperation Agency (JICA). “Proyek ini telah menghasilkan lima output yakni pretreatment, enzim, fermentasi, polimerisasi dan studi kelayakan untuk industri,” ungkap Enny. Proyek ini juga telah menghasilkan tiga paten dan dua dalam proses pendaftaran paten. “Paten yang diberikan adalah housed cell untuk produksi enzim, sel ragi untuk produksi bioethanol, serta teknologi polimerisasi untuk membuat bioplastik,” papar Enny.

Untuk kerjasama industri, saat ini LIPI telah bekerjasama dengan PT Sinarmas di Bengkulu. “Kami juga mengajukan proposal kerjasama dengan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) yang merupakan organisasi manajemen riset terbesar di Jepang,” tutup Enny. (rdn/ed: lyr, fza) 
 

Sumber : Biro Kerjasama, Hukum dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati