Ini Tujuh Spesies Ikan Baru Hasil Temuan Peneliti LIPI dan Prancis

 
 
Kabupaten Bogor, Humas LIPI. Sepanjang 2012 hingga 2016, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan tim peneliti dari Muséum national d'Histoire naturelle (MNHN) dan Institut de recherche pour le développement (IRD) Prancis telah menemukan tujuh spesies ikan air tawar baru. Ketujuh spesies baru tersebut diidentifikasi memiliki potensi sebagai ikan hias.
 
Secara lebih detil lagi, ketujuh ikan jenis anyar ini mempunyai nama latin, antara lain Oxyeleotris colasi Pouyaud, Lentipes ikeae , Lentipes mekonggaensis, Sicyopus rubicundus, Stiphodon annieae, Sicyopterus squamossisimus, dan Stiphodon aureofuscus.
 
“Ikan-ikan spesies baru itu kami temukan di berbagai wilayah di Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan juga Papua,” ungkap Renny Kurnia Hadiaty, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI yang terlibat langsung dalam kolaborasi penelitian dan penemuan spesies ikan baru tersebut di Cibinong Science Center-Botanic Garden (CSC-BG), Rabu (5/4).
 
Renny katakan, proses penyingkapan temuan spesies ikan baru telah dimulai sejak 2012. Kemudian hingga 2016, penemuan ini setelah melalui berbagai tahapan, akhirnya diakui melalui publikasi jurnal ilmiah internasional.
 
Dipaparkannya, ikan-ikan jenis baru tersebut memiliki warna yang cerah, tajam, dan cantik. Temuan ini tentu sangat penting untuk melengkapi data keanekaragaman hayati yang telah ada dan juga potensinya.
 
“Ketika diketahui potensi spesies baru ditemukan, maka kita dapat memberikan treatment yang tepat. Seperti apakah potensi ikan tersebut? untuk dikonsumsi, budidaya, atau sifat-sifat yang tidak memungkinkan ikan tersebut dilepaskan di ekosistem tertentu,” ungkap Renny.
 
Ancaman Kepunahan
 
Dirinya berharap pelestarian jenis baru yang ditemukan bisa dilakukan dengan baik agar tidak dalam ancaman kepunahan. Lalu, eksplorasi terhadap jenis yang belum diketahui agar lebih ditingkatkan. “Jangan sampai ada jenis yang belum diketahui tapi punah lebih dulu,” tuturnya.
 
Ancaman kepunahan ini pun telah kentara di Sungai Ciliwung. Berdasarkan hasil penelitian, 92,5 persen spesies ikan di Ciliwung telah punah. Hal ini disebabkan oleh pencemaran yang terus terjadi.
 
“Kepunahan ikan juga diperburuk dengan mindset masyarakat yang menganggap badan sungai sebagai tempat pembuangan sampah,” ujar Renny. Erosi, sampah, limbah industri maupun rumah tangga menyebabkan spesies ikan tidak bisa bertahan hidup, sambungnya.
 
Menurut data penelitian dari 1910 hingga 2013, ikan seperti belida, soro, berot, nilem, tawes, putak, berukung, lele, brek, keperas dan ikan hitam sudah tidak ada lagi di Sungai Ciliwung. Sementara spesies ikan yang lain seperti ikan hampal, genggehek dan baung sekarang terancam keberadaannya.
 
“Agar spesies-spesies ikan di Ciliwung tidak lagi hilang, peran pemerintah sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi membuang sampah ke sungai,” jelas Renny. Selain itu, agar tidak lagi menebar ikan-ikan yang bersifat predator bagi spesies ikan asli seperti sapu-sapu, nila, bawal, pungkasnya. (msa/ed: pwd)

Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dra. Renny Kurnia Hadiaty