Karangsambung Sodorkan Konsep Geotourism sebagai Solusi Isu Konservasi Destinasi Wisata

 
 
Kebumen, Humas LIPI. Karangsambung di Kebumen, Jawa Tengah  adalah wilayah yang memberikan cerita panjang tentang jejak sejarah pulau Jawa. Hal ini terlihat pada beberapa singkapan batuan yang muncul ke permukaan. Singkapan batuan tersebut menggambarkan evolusi lempeng tektonik dengan rentang usianya lebih dari 120 juta tahun lalu.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjadikan kawasan ini sebagai laboratorium geologi yang berada di bawah pengelolaan Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI. Sejak Desember 2018, Karangsambung ditetapkan sebagai Geopark Nasional, bersama dengan kawasan Karangbolong di Kebumen.  Geopark Karangsambung Karangbolong yang berada di kawasan seluas 543.599 kilometer pesegi, mencakup 117 desa di 12 kecamatan di Kebumen, akan dikelola sebagai kawasan konservasi, edukasi dan ekonomi masyarakat.

Saat ini dari 41 situs yang sudah terpetakan, ada 10 situs yang sudah dikelola sebagai tempat wisata oleh LIPI dan masyarakat. Kemudian, ada lagi dua geosite yang sudah dikelola secara mandiri oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang juga didampingi LIPI. “Saat ini Pokdarwis  ada di setiap kecamatan yang memiliki situs Geopark. Dampak langsung dari penetapan kawasan Geopark Nasional Karangsambung - Karangbolong berupa pemberdayaan masyarakat dengan Geotourism,” jelas Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI, Edi Hidayat saat mendampingi kunjungan Vice President UNESCO Global Geoparks Network, Dato’ Ibrahim Komoo ke Karangsambung pada Rabu (27/3) lalu.

“Untuk membawa kawasan Geopark Karangsambung supaya go international maka dibutuhkan usaha bersama,” ujar, Dato’ Ibrahim . Menurutnya, dengan bersinerginya berbagai pihak maka diharapkan kawasan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong mampu menjadi salah satu solusi permasalahan konservasi dan wisata.

Salah satu situs Geopark Karangsambung di kecamatan Sadang misalnya memanfaatkan aliran sungai untuk wisata tubing. “Ini salah satu contoh bahwa Geotourism mampu menggabungkan wisata alam dan wisata edukasi,” ujar Dato’ Ibrahim.

Menurut Edi Hidayat, keberadaan BIKK LIPI dengan tugas dan fungsi penyebaran informasi kebumian dan konservasi sejalan dengan pengembangan Geopark. “Masyarakat akan semakin sadar bahwa kawasan Geopark perlu dijaga karena mereka sendiri butuh dan juga dibutuhkan oleh pihak lain,” tutupnya. (dk/ed: fza)
 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Edi Hidayat ST.,M.T.