Kebun Raya Miliki Peran Penting sebagai Penyeimbang Ekosistem

 
 
Bogor, Humas LIPI. Selain menjadi pusat konservasi untuk tumbuhan, keberadaan kebun raya memiliki peran dalam mengonservasi sumber daya air yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Tak kalah penting lainnya, kebun raya juga berperan utama dalam menyeimbangkan ekosistem suatu wilayah.
 
"Kebun raya menjadi daerah tangkapan air sekaligus mengurangi erosi, kontrol terhadap kenaikan suhu dan kualitas udara. Ini merupakan sumbangan terhadap keseimbangan ekosistem," ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain dalam Seminar Kebun Raya dan Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya LIPI (Kebun Raya Bogor), Kota Bogor, Jawa Barat pada Selasa (9/5).
 
Kebun raya merupakan contoh nyata pembangunan berkelanjutan yang menjadi perhatian pemerintah sejak era Orde Baru. "Konsep pembangunannya terdiri atas tiga pilar, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan," kata Iskandar. Kebun raya menawarkan bagaimana menyeimbangkan aspek konservasi sekaligus memberi manfaat secara ekonomi bagi masyarakat, imbuhnya.
 
Iskandar berharap, semua pihak ke depannya agar lebih serius memberikan perhatian terhadap kebun raya. "Kebun raya akan semakin terasa manfaatnya apabila habitat tumbuhan menjadi habis akibat alih fungsi lahan dan pembangunan," sambung Iskandar. Selain itu, keberadaan kebun raya harus dekat dengan pemukiman masyarakat agar lebih terasa peran dan manfaatnya.
 
Sekretaris Daerah Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat yang turut hadir pada kegiatan tersebut mengatakan, adanya kebun raya di Kota Bogor memiliki fungsi sebagai paru-paru kota. "Tidak hanya melindungi tanaman yang mulai langka, Kebun Raya Bogor juga meminimalisir polusi dan menekan pemanasan global. Kebun raya ini juga telah menjadi ikon bagi Kota Bogor," tutur Ade.
 
Manfaat kebun raya yang besar harus terus dioptimalisasi dengan penataan, namun tetap memegang prinsip pelestarian lingkungan. Selain itu, Kebun Raya Bogor selama ini juga menjadi pendongkrak perekonomian masyarakat dengan kunjungan wisatawan maupun hidupnya sentra kuliber dan bisnis di kota hujan tersebut.
 
Kebun Raya Daerah
 
Sementara itu, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI, Enny Sudarmonowati menuturkan, pihaknya bersama pemerintah daerah terus berupaya untuk melahirkan kebun raya di daerah. "Saat ini sudah ada 32 kebun Raya, lima dari LIPI dan 27 dikelola oleh daerah dengan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), dan diharapkan pada 2030 Indonesia mempunyai total sebanyak 47 kebun raya," jelasnya.
 
Kepala PKT Kebun Raya LIPI, Didik Widyatmoko menyambung bahwa untuk mencapai target 47 kebun raya, maka setidaknya dua atau tiga kebun raya dapat lahir setiap tahunnya. "Dengan begitu, kehadiran kebun raya diharapkan dapat membantu target 30% Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk setiap daerah," ujarnya.
 
Sementara Enny mengimbuhkan lagi bahwa pembangunan kebun raya daerah akan disesuaikan dengan iklim yang ada di daerah setempat. "Kalau di Sumatera cenderung lebih mudah pembangunan kebun rayanya karena curah hujan cukup tinggi. Namun untuk daerah timur, akan lebih disesuaikan dengan curah hujan yang rendah, baik tanaman, fasilitas bangunan yang akan di bangun, dan lain sebagainya," ujarnya.
 
Enny mengharapkan pula agar inovasi teknologi yang telah dilahirkan LIPI juga dapat diaplikasikan di setiap kebun raya. "Seperti pupuk beyonic yang juga cocok untuk daerah kering, atau teknologi dengan sumber energi terbarukan," tutupnya. (msa/ed: pwd)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Didik Widyatmoko M.Sc.