Kemitraan LIPI-Komisi VII DPR Targetkan UMKM sebagai Aplikator Teknologi

 
 
Purwokerto, Humas LIPI. Berbagai terobosan teknologi hasil riset LIPI terus disosialisasikan dan didiseminasikan. Kali ini, LIPI bermitrakan Komisi VII DPR RI menggelar Pelatihan Pengemasan Produk UMKM pada Sabtu (27/3), di Hotel Luminor Purwokerto. Kegiatan yang merupakan Bakti Inovasi LIPI tersebut dihadiri 50 pelaku UMKM, berasal dari Purwokerto, Banyumas, Cilacap dan sekitarnya.
 
Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto menegaskan, kemitraan ini memudahkan UMKM mendapatkan teknologi yang tepat untuk produknya. “Di lain sisi, kemitraan membantu LIPI dalam menyasar target aplikator teknologi yang sesuai,” ujarnya.
 
Sugeng yang merupakan anggota DPR RI wakil dari Banyumas dan Cilacap mengatakan, dirinya konsisten mengupayakan agar pelaku UMKM tak hanya sekedar bertahan. Ia berharap UMKM terus meningkat, maju dan berkembang, baik skala maupun kualitas produk-produk yang dihasilkan. “Harapan saya UMKM tak hanya menjadi tumpuan bertahan hidup namun sebaliknya dengan adanya UMKM masyarakat tambah berkembang dan makin meningkat kemampuan ekonominya,” tegasnya.
 
“Kelemahan UMKM adalah proses produksi sampai dengan pengemasan yang disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan termasuk modalnya. Inilah alasan kami, Komisi VII DPR RI bersama LIPI sebagai mitra kerja Komisi VII DPR RI menyelenggarakan kegiatan pelatihan bagi para pelaku UMKM,” ungkap Sugeng. Menurutnya, melalui teknologi pengemasan yang baik, produk-produk dapat bertahan lama seperti model pengalengan. “Nantinya produk-produk UMKM dapat dipasarkan tidak hanya nasional namun internasional," imbuh Sugeng saat meninjau produk-produk UMKM peserta pelatihan.
 
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian  LIPI Ocky Karna Radjasa menyatakan, tugas LIPI sebagai Lembaga di bawah koordinasi Kemenristek-BRIN adalah menghasilkan produk hasil riset yang bermanfaat untuk masyarakat dengan teknologi tepat guna. LIPI juga bertugas menghasilkan produk hasil riset untuk subtitusi impor atau meningkatkan ekspor. “Sejak pandemi, LIPI melalui BTBA LIPI telah membina kurang lebih 100-150 pelaku UMKM yang umumnya produk makanan tradisional dan sekitar 50 diantaranya saat ini telah berhasil dengan produk-produknya,” ungkapnya.
 
“Tujuan pelatihan kali ini adalah mencari produk unggulan peserta pelatihan yang bisa diidentifikasi dan didorong oleh LIPI agar segera mendapat izin edar dari BPOM,” tutur Ocky. “Harapan selanjutnya adalah akan adanya satu produk unggulan yang dapat mewakili satu kota di Purwokerto, Banyumas, Cilacap dan sekitarnya,” terangnya.
 
Ocky mengisahkan alasan LIPI membuat kajian teknologi pengemasan karena tidak semua produk dapat dikemas dengan cara yang sama, contohnya ada yang mengemas dengan kaleng atau kemasan lainnya. Dirinya juga menyinggung kajian LIPI mengenai rekomendasi zonasi produk. “Kementerian Agama telah memanfaat zonasi produk, misalnya ketika ada rombongan umrah dari Yogyakarta, maka produk olahan yang disajikan adalah gudeg,” paparnya.
 
Lebih lanjut Ocky menyinggung makanan untuk penanganan stunting atau tengkes seperti ikan sebaiknya diolah dalam bentuk lain agar menarik, misalnya bakso ikan nila yang dikemas dengan baik. "Ini penting sebagai sumber nutrisi bagi anak-anak yang mendapatkan kurang mendapatkan asupan yang cukup," tegasnya.
 
Asep Nurhikmat, Peneliti bidang Pengemasan BPTBA LIPI mengungkapkan, di tahun 2021 kelompok penelitian pengemasan makanan tradisional dari LIPI akan mengembangkan pengemasan makanan dengan menggunakan Retort Pouch dan High Barrier Retort Grade (HRBG). Melalui teknologi pengemasan tersebut diharapkan UMKM di Indonesia semakin terbantu kesejahteraannya.
 
Di masa pandemi Covid-19 permintaan riset pengalengan meningkat signifikan karena Usaha Kecil Menengah harus memasarkan produk mereka secara online untuk mempertahankan siklus usahanya. Sebagai informasi, BPTBA LIPI pada bulan Agustus 2020 secara resmi meluncurkan program pra riset gratis untuk 100 UKM serta percepatan izin edar melalui kerja sama dengan sejumlah pihak.
 
“Program tersebut telah menghasilkan 26 produk makanan tradisonal dalam kaleng yang siap diedarkan, sedangkan sisanya masih dalam tahap riset dan pengurusan izin,” terang Asep. “Produk- produk tersebut antara lain berupa rendang, bakso, gudeg, pesmol ikan nila, opor lele, ayam goreng, mangut lele, sambal goreng, dan sebagainya,” tutupnya. (sl/ ed: drs)
 
 
 
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Asep Nurhikmat M.P.
Diakses : 320