Ketahanan Pangan Meningkat, Tapi Asupan Pangan Masyarakat Masih Kurang Baik

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Indonesia telah mengalami  perbaikan  berarti  dalam  mencapai  ketahanan  pangan. Hal itu tercermin  dari menurunnya wilayah dengan kategori rawan pangan. Perbaikan ini terutama dipengaruhi  oleh  kebijakan pemerintah  untuk  menjaga  sisi  ketersediaan. Kendati begitu,  keberhasilan  ketahanan  pangan tersebut belum  diikuti  oleh  keberhasilan  dari  sisi  akses  dan  konsumsi  terutama  asupan  pangan. 
 
Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Ekonomi memperlihatkan bahwa Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan malnutrisi atau gizi buruk. Berdasarkan hasil penelitian LIPI, satu dari tiga anak Indonesia mengalami tumbuh pendek akibat malnutrisi.
 
“Penyebab malnutrisi karena asupan makanan bergizi yang rendah pada anak Indonesia. Ini tentunya perlu menjadi perhatian dan akan mempengaruhi produktivitas Indonesia di masa depan,” ungkap Esta Lestari, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI pada Jumat (3/11) dalam Media Briefing “Ironi Ketahanan Pangan dan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia” di LIPI Pusat Jakarta.
 
Ada dua provinsi yang masih mengalami kerawanan pangan yakni Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. “NTT memiliki rumah tangga yang rendah pangan bernutrisi bahkan satu dari dua anak mengalami tumbuh pendek. Sedangkan, Papua memiliki ketersediaan pangan yang juga minim, padahal potensi pangan lokal sangat banyak,” jelas Esta.
 
Esta mengatakan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia bisa menjadi dilema apabila kualitas gizi anak saat ini tidak diperhatikan. Hal tersebut menurutnya akan menyebabkan kerentanan penyakit dan lemahnya daya saing SDM di masa depan.
 
“Kecenderungan masyarakat Indonesia yang lebih memilih mengonsumsi pangan karbohidrat sebaiknya mulai diarahkan pada pangan yang mengandung protein tinggi. Karena selain lebih bergizi, protein juga dianggap mampu mengurangi resiko berbagai macam penyakit yang disebabkan konsumsi karbohidrat berlebih,” papar Esta.
 
Selain itu dia menjelaskan, salah satu penyebab tingginya jumlah konsumsi karbohidrat di masyarakat karena masalah budaya dan gaya hidup. “Perlu informasi yang jelas tentang pangan alternatif yang lebih sehat selain karbohidrat. Hal ini ternyata berpengaruh pada sektor pendidikan yaitu kemampuan daya tangkap dan kecerdasan,” katanya.
 
Esta menambahkan, pengaruh gaya hidup dan fluktuasi harga pangan bernutrisi menyebabkan masyarakat cenderung beralih pada makanan kemasan yang mudah diperoleh. “Diharapkan pemerintah mampu bekerjasama dengan industri pangan kemasan agar mereka bisa memproduksi makanan kemasan yang sehat dan bergizi,” imbuhnya. Selain itu dirinya berharap, program bantuan pangan pemerintah tidak hanya pangan berbasis karbohidrat, tetapi juga pangan berbasis protein. (lyr/ed: pwd)
 
Sumber foto slider utama: http://www.antarafoto.com/bisnis/v1488811807/jagung-untuk-pakan-ternak-ayam
 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Esta Lestari S.E., M.Econ.St.