Konsep Metode Digital, Strategi Pengembangan Riset Sosial dan Humaniora di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Adaptasi Kebiasaan Baru telah membawa perubahan pada strategi penelitian di lembaga penelitian khususnya bidang Sosial dan Humaniora. Bagi lembaga riset, masa pandemi membawa keterbatasan bagi para peneliti, sehingga harus ada strategi baru yang dikembangkan.
 
“Metode riset digital adalah strategi baru yang dikembangkan dalam upaya pengumpulan dan pengolahan data maupun visualisasi,” terang Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tri Nuke Pudjiastuti dalam Webinar “Transformasi Metode Digital untuk Penelitian Sosial dan Humaniora di Masa Pandemi COVID-19” pada Senin (31/8).  
 
Nuke menerangkan, hal tersebut memudahkan para peneliti untuk dapat mengumpulkan data Primer dan Sekunder tanpa tatap muka secara langsung. Sehingga pemanfaatan metode penelitian berbasis digital dapat menjadi kekuatan baru bagi penelitian sosial dan humaniora, khususnya dalam visualisasi hasil riset, skala penelitian dan intensifikasi waktu penelitian. ”Pengembangan  dengan metode riset digital ini, bukan berarti tatap muka fisik ketika melakukan penelitian lapangan akan ditinggalkan. Kegiatan lapangan tatap muka masih diperlukan dan tidak tergantikan,” sebut Nuke.
 
Dirinya menjelaskan, metode digital bukan merupakan pengganti riset-riset lapangan, tetapi menjadi pelengkap tersendiri yang sudah tidak bisa diabaikan, mengingat adanya adaptasi perubahan pada masyarakat di era revolusi industri 4.0. “Satu hal yang ditekankan didalam penguatan metode digital didalam upaya pembangunan infra struktur digital adalah etika penelitian untuk tetap mempertahankan signifikansi ilmiah dan validasi data,” ungkap Nuke.  
 
Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Bachtiar Rifai, menyebutkan pemanfaatan metode digital bukan berarti menghilangkan metode konvensional yang telah terbangun dalam reputasi ilmiah penelitian. Namun, pengembangan metode ini justru berperan dalam melengkapi metode yang telah ada, utamanya sebagai salah satu alternatif terbaik di tengah pandemi COVID-19.
 
“Metode digital juga relatif efisen secara waktu dengan ketiadaan mobilitas peneliti ke objek,” jelas Bachtiar. Dirinya juga menyebutkan salah satu keunggulan metode penelitian digital adalah mengurangi sekat atas dimensi keruangan, waktu dan jarak antara peneliti dan obyek penelitian sehingga diharapkan mampu mendekati kondisi selayaknya interaksi langsung.
 
Peneliti Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, Ibnu Nadzir, menjelaskan metode riset digital dari sisi pendekatan etnografi adalah sangat adaptif terhadap obyek kajian yang diteliti termasuk pada keragaman variasi perangkat digital. “Etnografi adalah salah satu metode yang relevan dalam konteks riset di tengah pandemi, karena pendekatannya disesuaikan dengan obyek kajian yang diteliti termasuk pada keragaman variasi dari perangkat digital,” sebut Nadzir.
 
Konsep Dasar Metode Riset Digital
 
“Konsep dasar metode digital merupakan pendekatan pengumpulan data yang menstranformasi interaksi tatap muka langsung menjadi tanpa tatap muka berbasis teknologi informasi dalam jaringan internet dengan menggunakan platform sarana komunikasi seperti komputer, Ipad/tablet, dan telpon pintar yang selanjutnya data di proses secara otomatis dengan bahasa pemrograman sebagai luarannya,” terang Bachtiar lebih lanjut.
 
Bachtiar menjelaskan, ada tiga layer model metode riset digital: Pertama, model dengan Basis Data serba digital, mulai dari (pengumpulan, pengolahan dan visualisasi) data; Kedua, Basis Data non Digital tetapi, pengumpulan, pengolahan dan visualisasi yang serba digital; Ketiga, Data non Digital, pengumpulan data digital dan pengolahan data ada yang menggunakan digital atau non digital.
 
“Data non-digital ini menggunakan software dengan platform web survei online dengan contoh studi LIPI di 2020, tema Mengukur Dampak COVID-19 terhadap UMKM dan Dampak Pandemi terhadap Ekonomi Rumah Tangga,” jelas Bachtiar.
 
Selanjutnya, Ibnu menerangkan dari sisi pendekatan etnografi ada dua cara pengambilan data, yaitu: (1). Observasi Partisipatif, mengutamakan: Fitur penelitian spesifik sesuai platform; Memperhatikan etika pengumpulan data; Menggunakan platform yang di kaji; Simpan data di luar platform; (2). Wawancara Mendalam, memperhatikan: Keseimbangan durasi, Menggali aspek mental dan personal; Bahas aktivitas daring.
 
“Jadi pertama kali yang penting dalam kajian etnografi digital, kita harus menerima bahwa memang media digital sudah punya andil dalam cara kita berpraktek sosial maupun budaya yang berpengaruh dalam keseharian manusia,” tutup Ibnu. (mtr/ed:sr)
 


Sivitas Terkait : Dr. Tri Nuke Pudjiastuti M.A.
Diakses : 941