Konsorsium Riset Samudera Diharapkan Dorong Percepatan Pembangunan Maritim

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Sebanyak 11 Kementerian, Lembaga, dan Universitas secara resmi telah membentuk Konsorsium Riset Samudera pada Selasa (26/9) lalu di Jakarta. Konsorsium ini diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan maritim di Indonesia seperti yang ditegaskan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia sebagai poros maritim dunia.
 
Kesebelas Kementerian, Lembaga, dan Universitas yang bersepakat membentuk konsorsium ini adalah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Sriwijaya.
 
Konsorsium Riset Samudera terbentuk dengan sebuah deklarasi bersama yang disaksikan langsung oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro dan Pelaksana Tugas Kepala LIPI, Bambang Subiyanto. Deklarasi sendiri dihadiri pula oleh Rektor ITB, Rektor IPB, dan sejumlah pejabat penting lainnya dari 11 institusi yang terlibat dalam konsorsium tersebut.
 
Menteri PPN, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, pembentukan Konsorsium Riset Samudera merupakan upaya mengembalikan “khittah” Indonesia sebagai bangsa maritim. Langkah untuk mendukung keberhasilan tersebut, pembangunan kemaritiman perlu didukung penelitian samudera yang berkualitas dengan pendekatan lintas disiplin keilmuan. “Artinya, melibatkan seluruh pemangku riset samudera nasional dengan memaksimalkan infrastruktur riset samudera yang tersedia di semua kementerian dan lembaga riset dan teknologi,” tekannya.
 
Bambang menyadari, riset kemaritiman dan kelautan belum memberi kontribusi yang signifikan pada pembangunan kelautan di Indonesia. Riset kemaritiman dan kelautan masih menghadapi berbagai masalah yang bersifat mendasar, antara lain terbatasnya infrastruktur riset yang canggih, minimnya dana riset, dan masih sedikitnya putra-putri Indonesia yang berminat menjadi peneliti di bidang kelautan.
 
“Saya berharap konsorsium ini mampu menjadi solusi mengatasi persoalan tersebut dan dapat bekerja dengan baik serta efektif untuk memfasilitasi riset samudera, sekaligus mendukung pembangunan sektor kemaritiman dan memantapkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia,” harapnya.
 
Peta Jalan
 
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin mengungkapkan, keberadaan Konsorsium Riset Samudera ini penting sebagai pelembagaan kerja sama penelitian. Konsorsium diharapkan mampu membuat kesepakatan untuk menyusun peta jalan (roadmap) riset samudera berbasis keluaran yang dapat dicapai dalam jangka menengah (2018-2021).
 
Dikatakannya, peran Konsorsium Riset Samudera adalah untuk mendorong optimalisasi sumber daya laut bagi pembangunan nasional. Kemudian dari sisi lain, keberadaan konsorsium itu memiliki empat latar belakang penting.
 
Pertama, riset samudera di Indonesia penting dilakukan untuk mendukung pembangunan dan daya saing riset nasional. Kedua, pelaksanaan riset samudera membutuhkan dukungan dana dan sarana, seperti kapal dan instrumentasinya, yang terstandar dan tersertifikasi. Ketiga, sarana riset kapal yang ada saat ini masih belum mampu menjawab kebutuhan riset samudera. Dan keempat, perlunya pusat data sebagai pangkalan data untuk hasil riset samudera.
 
Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah mengimbuhkan bahwa dengan terbentuknya Konsorsium Riset Samudera, maka konsorsium ini membuka keterlibatan seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan riset samudera sehingga lebih maksimal. “Salah satu keluaran yang diharapkan adalah membangun dan mengelola Pusat Data Kelautan Nasional sebagai integrasi data hasil riset samudera di Indonesia,” tutupnya.
 
Isi Kesepakatan
 
Sementara dari deklarasi Konsorsium Riset Samudera, setidaknya ada beberapa kesepakatan yang tercetus. Di antaranya, pertama adalah pembentukan konsorsium sebagai wadah untuk harmonisasi program dan infrastruktur riset samudera.
 
Kemudian yang kedua, konsorsium akan menjalankan riset berdasarkan prioritas nasional. Prioritas ini meliputi ketahanan pangan dan energi, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, serta pembangunan wilayah.
 
Lalu ketiga, adalah klaster riset samudera mencakup beragam aspek, antara lain keanekaragaman hayati dan konservasi, ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia kelautan, ketahanan energi, geosains kelautan, serta observasi laut dan iklim.
 
Dan keempat, lokasi riset mencakup dari barat hingga timur Indonesia. Lokasi tersebut seperti Laut Banda dan sekitarnya, Laut Natuna Utara, Selat Makassar, Perairan Barat Sumatera, Perairan Selatan Jawa dan Nusa Tenggara, Perairan Utara Papua, dan Laut Sulawesi. (pwd)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Dirhamsyah M.A.