Kuatkan Pengelolaan Riset dan Inovasi, Indonesia Perlu Berkaca dari Negara Lain

 
 
Bandung, Humas LIPI. Indonesia perlu menggali pengalaman riset dan inovasi dari negara lain agar pengelolaan riset dan inovasi negara ini semakin kuat. Dengan berkaca dari negara lain, maka dapat meningkatkan kreativitas dan membuka wawasan lebih luas lagi.
 
Kemudian agar lebih baik lagi, Indonesia juga harus mampu membangun jejaring riset yang mampu meningkatkan kualitas riset dan inovasi di tanah air. “Dengan jejaring yang kuat, maka kita bisa meningkatkan kolaborasi riset internasional untuk kemajuan Indonesia dan juga global,” kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain dalam Research Technology Organization Management Programme (RTOMP) Workshop di Bandung, Jawa Barat belum lama ini.
 
Melalui kegiatan RTOMP Workshop, Iskandar berharap mampu mendorong pertukaran ide dan pengalaman praktis dalam mengelola lembaga riset dan teknologi, membangun jejaring dan menggali potensi riset antar Negara. Lalu untuk hasil pertukaran ide dan pengalaman ini bisa menjadi acuan bagi riset di Indonesia.
 
Untuk diketahui, workshop tersebut diikuti sembilan negara, yaitu Bangladesh, Tiongkok, India, Yordania, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Turki, serta Indonesia sebagai tuan rumah.  Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama antara World Association of Industrial and Technological Research Organizations (WAITRO), Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO), LIPI, dan Perhimpunan Polimer Indonesia (HPI).
 
Beberapa contoh pengalaman sukses negara lain dalam pengembangan riset dan inovasi pun mengemuka dalam workshop itu. Misalnya berdasarkan pengalaman dari Tiongkok yang dikemukakan Chi Renyong, Director of China Institute for Small & Medium Business, Zhejiang University of Technology.
 
Dikatakannya, hasil riset di negara tirai bambu ini telah terbukti mendukung pengembangan usaha kecil menengah (UKM). Pemerintah Tiongkok menyusun kebijakan pengembangan iptek berbasis transfer teknologi untuk UKM. Sehingga, lebih dari 80 juta UKM di negara itu mampu menggerakkan perekonomian sehingga Tiongkok tumbuh menjadi negara perekonomian terbesar di dunia.
 
Pengalaman menarik lainnya datang dari Youngho Nam, Kookmin University, Korea Selatan. Dia menuturkan, salah satu inovasi riset dan teknologi yang telah berjasa membangun perekonomian Korea Selatan saat ini adalah penemuan games online yang memperkuat industri jasa berbasis pengetahuan yang intensif.
 
Selama kurun waktu sepuluh tahun sejak 2005 hingga 2015, market share games online telah meningkat lebih dari 300 persen. Hal ini dikarenakan tren yang berlaku di Korea Selatan sekarang adalah bukan lagi penekanan pada industri manufaktur, melainkan industri jasa.
 
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko menuturkan, penting bagi Indonesia untuk belajar dari pengalaman negara lain tersebut. “Kreativitas dan inovasi akan muncul dengan sendirinya jika kita bisa belajar dari pengalaman negara lain. LIPI bisa meningkatkannya dengan memperkuat mitra strategis riset dengan negara lain,” tutupnya. (dri/ed: pwd)
 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.