LIPI Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian pada Flora dan Fauna

 
 
Kota Bogor, Humas LIPI. Kesadaran masyarakat pada keberlangsungan flora dan fauna di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengajak seluruh masyarakat Indonesia meningkatkan kepedulian terhadap flora dan fauna.
 
"Peran masyarakat penting untuk ikut menjaga flora dan fauna kita. Atas dasar itulah setiap tahun diperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) sejak 1993 hingga sekarang," kata Siti Nuramaliati Prijono, Sekretaris Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Kamis (23/11) di Gedung Kusnoto LIPI, Kota Bogor, Jawa Barat.
 
Siti menjelaskan bahwa masyarakat seharusnya bahu-membahu bersama pemerintah menjaga flora dan fauna Indonesia. "Keberhasilan konservasi pada flora dan fauna ini tidak berarti bahwa peran manusia di alam dikeluarkan begitu saja. Namun, justru dengan mengetahui peran penting manusia, maka kita bisa ikut membantu flora dan fauna untuk tetap berada di rantai kehidupannya," ujarnya.
 
Lebih lanjut, dia katakan bahwa selama manusia tidak sadar perannya maka mereka cenderung akan merusak. "Pemahaman yang baik harus dilakukan dan menjadi budaya. Sebagai contoh, negara lain saat musim dingin ada masyarakat yang meletakan makanan di luar rumah untuk makanan binatang. Hal ini menunjukan kepeduliannya pada sesama makhluk hidup," tutur Siti.

 

Di sisi lain, Siti pun menyadari bahwa banyak faktor yang menyebabkan pergesekan antara manusia dengan flora dan fauna, seperti faktor ekonomi dan passion (untuk hobi). Masyarakat semestinya memikirkan ulang faktor-faktor tersebut karena hanya memberikan keuntungan sementara saja. Sementara kerusakan yang mereka buat akan berdampak jangka panjang untuk masa depan anak cucu kita.
 
Senada Joeni S Rahajoe, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, mengungkapkan bahwa LIPI mendorong masyarakat untuk ikut menginformasikan pada pemerintah tentang keberadaan flora dan fauna lokal yang bisa saja tergolong langka melalui Citizen Science. "Citizen Science bila dikelola dengan baik dapat memberikan informasi penting untuk melacak keberadaan flora dan fauna sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat," lanjut Joeni.
 
Dengan keperdulian masyarakat, Joeni menuturkan bahwa data dan informasi flora dan fauna sebagai biodiversitas akan semakin komplit dan membantu pemerintah dalam membuat acuan kebijakan. Dengan demikian, kebijakan biodiversitas di Indonesia bisa selaras dengan konservasinya.
 
Di lain hal, Joeni menyoroti pula keberadaan herbarium di Indonesia. Untuk negara dengan tingkat biodiversitas yang tinggi, negeri ini baru memiliki 30 herbarium dan itu tentunya kurang seimbang. Dia berharap keberadaan herbarium bisa menjadi perhatian pemerintah dan bertambah jumlahnya ke depannya.
 
Dari sisi pendataan koleksi biodiversitas, dia menyebutkan bahwa Indonesia saat ini telah mendata kurang lebih 85 persen dari 960 ribuan koleksi spesimen atau baru sebesar 400 ribuan spesimen yang teridentifikasi. Pendataan ini diharapkan bisa bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun. “Kalau kita melihat negara Tiongkok, mereka memerlukan waktu 250 tahun untuk mendata biodiversiti secara keseluruhan. Kita harapkan waktunya tidak selama itu,” tutupnya. (lyr/ed: pwd,dig)



 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Siti Nuramaliati Prijono
Diakses : 748