LIPI, IPGP Perancis, dan EOS Singapura Lakukan Ekspedisi Riset Geosains di Dasar Samudera

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkolaborasi dengan Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) Perancis, dan Earth Observatory of Singapore (EOS), Nanyang Technological University Singapura melakukan kolaborasi ekspedisi riset geosains kelautan untuk mengungkap potensi sumber daya dan bencana alam yang terkandung di dasar samudera. Kolaborasi riset yang diberi nama Marine Investigation of the Rupture Anatomy of the 2012 Great Earthquake (MIRAGE) II ini dilepas secara resmi pada Minggu (24/9) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
 
Riset MIRAGE II menggunakan wahana Kapal Riset R/V Marion Dufresne, kapal riset terbesar yang dimiliki oleh Perancis. Kapal riset ini berkapasitas 161 orang dengan panjang 120,50 meter. Selain fasilitas riset, di dalamnya juga terdapat ruang kesehatan, farmasi, pusat konferensi, perpustakaan, gym, dan toko. 
 
Kapal dilengkapi pula dengan sistem komputer canggih, perangkat keras maupun lunak yang dapat mendukung penelitian tingkat tinggi di lautan. Kapal itu bisa dipakai meneliti geosains kelautan, biologi kelautan, oseanografi, serta fisika dan kimia kelautan.
 
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin mengharapkan, kolaborasi riset geosains di dasar samudera dengan menggunakan kapal canggih tersebut mampu memberikan hasil yang maksimal. Dalam riset MIRAGE II, akan dilakukan akuisisi data seismic refleksi guna mengetahui struktur sesar dan perlapisan kerak samudera yang ada dan sampai seberapa dalam struktur sesar tersebut berakar.
 
“Diharapkan dengan data dan pengetahuan baru nantinya akan dapat dipahami asal mula dan implikasi tatanan geodinamika kawasan ini. Pada akhirnya temuan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk melakukan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami di kawasan Samudera India,” ujar Zainal di sela-sela pelepasan ekspedisi MIRAGE II.
 
Mitigasi Bencana
 
Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Nugroho Dwi Hananto mengungkapkan, riset geosains MIRAGE II berupaya menjawab pertanyaan tentang bagaimana gempa bumi besar terjadi di kerak samudera dengan memanfaatkan teknologi dan fasilitas penelitian mutakhir. Peneliti yang terlibat pun lintas instansi dan juga lintas negara. Riset akan berlangsung kurang lebih sebulan.



Dia menuturkan, riset MIRAGE II itu penting guna melakukan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami di kawasan Samudera India. “Sebab, Indonesia terletak pada zona tektonik aktif yang ditandai dengan proses tumbukan antar lempeng kerak samudera dan kerak benua serta pelamparan kerak samudera,” jelasnya.
 
Sebagai penjelasan, riset MIRAGE II merupakan kelanjutan dari MIRAGE I. Riset MIRAGE I sendiri telah dilaksanakan pada 2016. Pada MIRAGE I telah diakuisisi ~ 90 000 km2 data batimetri (peta dasar laut), 11.400 km gaya berat dan magnetik di Cekungan Wharton, Samudera India.
 
Data riset pertama menunjukkan bahwa kerak Samudera India mengalami deformasi secara aktif dan ditunjukkan dengan adanya beberapa struktur patahan aktif bawah laut yang signifikan dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Selain itu, terdapat sungai-sungai bawah laut pada kedalaman 3.500 – 4.800 m di bawah permukaan laut. Ditemukan pula struktur gunung bawah laut yang terpotong oleh suatu struktur sesar aktif berarah barat laut - tenggara.
 
Floating Summer School
 
Sementara itu selain melakukan riset geosains dalam MIRAGE II, Nugroho menjelaskan bahwa dilaksanakan pula pelatihan ASEAN – Komisi Oseanografi Internasional Pasifik Barat (IOC WESTPAC) Floating Summer School II. Kegiatan ini merupakan pelatihan teknis dan substantif penelitian geosains kelautan bagi para peneliti muda dan mahasiswa dari kawasan ASEAN dan IOC WESTPAC.
 
“Dalam kegiatan ini, para peserta diwajibkan mengikuti beberapa kelas kuliah dan dilibatkan secara langsung dalam akusisi data dan pemrosesannya sehingga mendapatkan pengalaman langsung melakukan penelitian. Diharapkan pelatihan ini menumbuhkan semangat dan kemampuan generasi muda di kawasan untuk menjadi pemimpin pengembangan riset geosains kelautan di masa depan,” jelas Nugroho.
 
Sama seperti MIRAGE, ASEAN – IOC WESTPAC Floating Summer School I telah dilaksanakan pula bersamaan dengan MIRAGE I pada tahun lalu. Pelatihan pertama telah sukses melatih 15 peserta dari Indonesia, India, Singapura, Korea Selatan, Myanmar, Mexico, dan Perancis.
 
Sedangkan pada pelatihan kedua kali ini, sebanyak 14 peserta turut serta dalam floating summer school. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, Tiongkok, Vietnam, Timor Leste, dan Mexico.


 
Kegiatan MIRAGE II dan juga ASEAN – IOC WESTPAC Floating Summer School II sendiri merupakan bagian dari Pesta Sains 2017 “Jelajahi Potensi dan Bahaya Maritim Bersama Marion Dufresne”. Pesta sains ini digelar di Institut Francais Indonesia (IFI) Thamrin Jakarta. Kegiatan tersebut diisi dengan seminar ilmiah terkait riset geosains kelautan, pameran edukatif, permainan interaktif, dan pemutaran film edukatif. (pwd)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Nugroho Dwi Hananto M.Si.