LIPI: Masih Ada Jarak untuk Mewujudkan Cita-Cita Reformasi

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Dua dekade pasca Reformasi 1998, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menilai masih ada jarak untuk mewujudkan cita-cita reformasi. “Kita harus memperhatikan adanya gap atau kesenjangan untuk mencapai agenda reformasi lantaran adanya praktik yang bertolak belakang dengan agenda reformasi,” jelas Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, Firman Noor, di Jakarta pada Selasa (15/5) lalu.

Firman mengatakan, dalam 20 tahun reformasi memang telah terlihat upaya pembenahan menuju bangsa bermartabat yang telah memberi dampak positif untuk kehidupan rakyat. “Kita sudah bisa merasakan berbagai kemajuan seperti kebebasan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik, supremasi sipil atas militer serta desentralisasi yang telah memberikan kesempatan luas bagi daerah untuk mengelola daerahnya sendiri,” ungkapnya

Namun demikian, Firman menambahkan, permasalahan korupsi juga masih cukup massif. Begitu pula masih adanya pengangguran. “Pemerintah masih berupaya memperbaiki dan menggali potensi yang dimiliki. Tentunya pemerintah sangat memerlukan dukungan dari seluruh masyarakat untuk mencapai keberhasilan program-programnya,” jelas Firman.

Peneliti senior LIPI, Syamsuddin Haris mengungkapkan perlunya evaluasi atas capaian reformasi.  “Meskipun masih banyak agenda yang belum tercapai, tetapi masih ada peluang untuk mewujudkan demokrasi yang substansial,” jelasnya.

Syamsuddin mengatakan, mewujudkan demokrasi yang substansial yakni dengan mengalahkan perbedaan yang berbasis identitas asal seperti agama, suku, ras, dan golongan. “Secara komparatif indeks demokrasi indonesia cukup baik, tidak hanya tingkat Asia Tenggara tetapi juga tingkat global. Bisa dikatakan tingkat ketahanan demokrasi Indonesia cukup baik,” ujarnya. (lyr/ed: fza, dig)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Firman Noor S.IP., M.A