Manajemen Hak Kekayaan Intelektual dalam Proses Transfer Teknologi

 
 
Perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual (HAKI) dan pengelolaannya berperan penting sebagai pendukung untuk mendorong penelitian dan pengembangan (R&D), generasi teknologi, dan transfer teknologi. Hal ini mendorong inovasi bagi lembaga litbang, akademisi, dan perusahaan berbasis teknologi untuk melanjutkan keterlibatan mereka dalam kegiatan inovatif dengan menyediakan sarana pendukung.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK (PPII) bersama Asian and Pacific Centre for Transfer of Technology (APCTT) menggelar workshop internasional ”Intellectual Property Management and Technology Transfer” pada Kamis (19/11) secara virtual.

Kepala LIPI Laksana Tri  Handoko dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan bagi semua peserta baik dari akademisi, industri, instansi pemerintah (pengambil keputusan) untuk saling berbagi pengalaman tentang transfer teknologi dari berbagai negara di Asia dan Pasifik.

Pertemuan internasional ini membahas mekanisme kebijakan yang inovatif, strategi dan tantangan manajemen Intellectual Property (IP) dan transfer teknologi. Peserta diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta tentang peran manajemen IP dalam transfer teknologi, mengeksplorasi strategi dan praktik terbaik dari manajemen IP dan transfer teknologi, dan saling mempromosikan kerjasama regional untuk transfer teknologi lintas batas dan komersialisasi.

Plt. Sekretaris Utama Kemenristek/BRIN sekaligus Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Mego Pinandito menekankan pentingnya produk inovasi dari hasil penelitian sampai ke masyarakat menjadi produk komersial.  “Hak kekayaan intelektual sebagai produk pengembangan inovasi harus dikelola dengan baik. Perlindungan hak kekayaan intelektual sangatlah penting, untuk itu proses transfer teknologi dan manajemen yang efisien adalah kunci sukses,” tandasnya.

Senada dengan Mego, Michiko Enomoto, Ketua APCTT mengatakan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dianggap sebagai sarana kunci untuk mencapai agenda pembangunan berkelanjutan 2030. “Salah satu komponen kunci adalah kerangka kerja yang kuat untuk HAKI, pengelolaan, dan komersialisasinya. Kerangka kerja tersebut memainkan peran katalitik dalam menciptakan inovasi dan mengkomersialkan teknologi yang diperlukan untuk pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Sebagai informasi, acara ini dihadiri narasumber baik dari akademisi, pemerintah, industri, ilmuwan, dan praktisi dari dalam maupun dari luar negeri. Tiga topik yang menjadi pembahasan yaitu policy framework on intellectual property and technology transfer- Global and national perspectives, IP Management tolls, strategies and best practices dan Collaborative research to enhance technology transfer through Science and Technology Parks.  (sti, ed:yl, drs)
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Mego Pinandito M.Eng.
Diakses : 289