Mengenal Tanaman Kola

 
 
Cibodas, Humas LIPI. Tanaman kola (Cola nitida) termasuk ke dalam suku Sterculiaceae. Tumbuh secara liar di kawasan  Pantai Gading  dan Liberia, juga ditanam mulai dari Sierra Leone sampai ke Gabon. Tanaman ini masuk ke Indonesia pada awal abad ke-10. Marga Cola sendiri  memiliki 140 jenis .

Tanaman kola dapat tumbuh di hutan dataran rendah tropik yang panas dengan curah hujan 17.000 mm pada rentang waktu 8 bulan atau lebih per tahun, namun dapat juga tumbuh pada curah hujan 1.200 mm per tahun. Kola dapat tumbuh subur pada tanah berat atau ringan selama kedalaman tanahnya baik, berdrainase baik, dan mengandung banyak humus

Ciri-ciri tanaman kola adalah selalu berdaun hijau (evergreen) dengan ketinggian 9 – 12 meter, namun dapat juga mencapai tinggi 27 meter. Batang bulat, kadang lurus, diameter bisa mencapai 1,5 m. Kulit kayu coklat keabu-abuan bergaris kasar. Daun berseling, tunggal, kasar, tepi daun bergelombang, berwarna hijau tua. Buah berbentuk segi empat panjang atau ellips, berwarna hijau, licin, mengkilat, berbiji empat sampai dengan sepuluh  buah tiap karpelnya dengan warna biji merah atau putih.

Pemanfaatan
Biji kola mengandung 13,5% air, 9,5% protein kasar, 1,4% lemak, 45% gula dan pati, 7% selulosa, dan 3,8% debu. Warna merah dari biji digunakan sebagai sumber yang potensial untuk pewarna makanan. Oleh masyarakat Afrika, biji tanaman kola digunakan untuk berbagai keperluan untuk ritual keagamaan dan kegiatan seremonial, seperti pernikahan, pemberian nama anak, penguburan, dan pengorbanan untuk para dewa mitologi Afrika.

Biji kola kaya alkaloid seperti theobromine, kafein, dan kolatin. Kafein menstimulasi tubuh, sedangkan kolatin menstimulasi hati. Warna merah dari biji digunakan sebagai sumber yang potensial untuk pewarna makanan. Biji kola berasa pahit ketika pertama kali dikunyah (mastikasi), namun meninggalkan rasa manis di mulut.

Sejak John S. Pemberton menemukan formula minuman ringan berkarbonasi dengan merk Coca Cola pada tahun 1886, ekstrak biji kola kemudian populer  sebagai bahan baku minuman ringan. Selain itu biji kola juga digunakan dalam produksi selai karena kandungan pectin yang tinggi. Jus biji kola juga sering digunakan sebagai pengganti kopi.

Biji kola telah terdaftar dalam U.S. Food and Drug Administration (FDA) dan dinyatakan sebagai bahan makanan yang aman untuk dikonsumsi oleh manusia dan diklasifikasikan sebagai bumbu atau penambah cita rasa makanan yang alamiah. FDA juga telah menyetujui bahwa ekstrak biji kola sebagai bahan tidak aktif (inactive ingredient) dalam obat-obatan tertentu.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas telah menanam tanaman kola (Cola nitida (Vent.) Schott & Endl)  sejak tahun 2003 dengan nomor akses C2003070024 dan terkoleksi sampai saat ini sebanyak tiga spesimen. (ns/ed: fz)
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. R. Hendrian M.Sc.
Diakses : 178