Mengulik Vaksinasi COVID-19

 
 
Cibinong, Humas LIPI. Program vaksinasi Covid-19 secara gratis dari pemerintah telah mulai dijalankan dan akan diberikan kepada sekitar 181,5 juta penduduk Indonesia untuk memperoleh kekebalan komunitas atau herd immunity. Pelaksanaannya pun telah dimulai pada 13 Januari 2021 untuk kemudian akan dilakukan secara bertahap, dengan prioritas utama diberikan kepada para tenaga kesehatan sebagai garda terdepan penanganan Covid-19. Dalam rangka mendukung kesuksesan program vaksinasi tersebut, berbagai upaya sosialisasi pun telah dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan edukasi yang diperlukan masyarakat.

Wien Kusharyoto, Peneliti Bioteknologi Kesehatan, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menegaskan, pada dasarnya virus bukanlah makhluk hidup, melainkan sebuah partikel yang dapat memperbanyak diri di dalam sel makhluk hidup manapun, termasuk manusia. Ketika berada di luar sel manusia, virus belum berbahaya karena akan langsung dieliminasi oleh sistem kekebalan tubuh, terutama oleh antibodi. “Hanya saja jumlah antibodi seseorang bisa saja kurang memadai. Maka dibutuhkan vaksin untuk membentuk antibodi dan respon imun lainnya di tubuh manusia untuk menetralisir atau mencegah agar virus tidak dapat menginfeksi sel,” ujarnya.
 
Vaksin disuntikkan ke dalam tubuh dengan tujuan agar tubuh manusia tidak terinfeksi atau terjangkit penyakit yang ditimbulkan oleh suatu virus “Penyuntikan dengan vaksin itu ibaratnya seperti terinfeksi oleh virus, yang mengakibatkan terbentuknya respon kekebalan namun tidak menyebabkan sakit.”
 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini tengah melakukan proses penelitian pembuatan vaksin yang telah dimulai sejak Juni 2020. Prosesnya diawali dengan mendesain sandi protein dan gen penyandinya berbasis pada sekuen dan struktur protein spike dari virus SARS-CoV-2 itu sendiri. Setelah itu, dilakukan transfeksi gen ke dalam sel, lalu dilajutkan dengan membiakkan sel agar memproduksi protein rekombinan kandidat vaksin. Sel yang digunakan oleh LIPI ini bernama sel CHO (Chinese Hamster Ovary) yang tahapan prosesnya mirip dengan proses produksi vaksin Sinovac.
 
“Diperkirakan pada kuartal ketiga tahun 2021 kita akan uji coba ke hewan. Jika uji ini berhasil, maka akan diproduksi dalam jumlah yang lebih besar dan kemudian dapat dilakukan uji klinis kepada manusia. Prosesnya panjang agar vaksin aman dan efektif dalam menjaga tubuh dari infeksi virus Covid-19,” terang Wien.

Mengenal Vaksin Sinovac
Pembuatan sebuah vaksin memerlukan proses panjang dan waktu yang tidak singkat. Saat ini terdapat bermacam-macam bentuk vaksin untuk Covid-19 yang salah satu perbedaanya dapat dilihat berdasarkan molekul atau komponen dari vaksin-vaksin tersebut. Ada yang dibuat dengan cara mematikan virus, ada juga yang menggunakan protein virus, ada yang menggunakan mRNA, serta ada pula vaksin berbasis adenovirus.

Dalam tahapan pembuatan vaksin Sinovac misalnya, pertama, virus Covid-19 dikembangbiakkan menggunakan sel Vero yang berasal dari sel ginjal Monyet Hijau. Di dalam sel tersebut, virus dapat memperbanyak diri. Setelah memperbanyak diri, virus akan keluar dari sel dan dapat dipanen. Setelah dipanen, virus kemudian diisolasi dan dimurnikan dari komponen-komponen yang mengganggu. Selanjutnya, virus kemudian dimatikan. Caranya pun beragam, salah satunya dengan menggunakan bahan kimia. Tahapan berikutnya yaitu dilakukan permunian kembali agar dapat diperoleh bahan vaksin yang akan ditambahkan komponen lain (adjuvan) untuk peningkatan fungsi bahan vaksin.

Pada Uji Klinis Tahap 3 Vaksin Sinovac di Indonesia, vaksin diujikan pada kelompok umur 18 – 59 tahun. Emergency use authorization diberikan dengan mengacu pada kelompok umur dan kondisi tubuh mereka, sehingga vaksin Sinovac pada tahap awal hanya bisa digunakan untuk kelompok umur tersebut.
 
“Sejauh ini belum ada vaksin COVID-19 yang mendapatkan emergency use authorization yang diijinkan untuk digunakan anak-anak. Sehingga anak-anak ini termasuk golongan yang akan menunggu lebih lama untuk mendapat vaksinasi,” jelas Wien.
 
Wien menerangkan bahwa efikasi vaksin Sinovac dinilai berdasarkan data uji klinis tahap 3 saja. Sementara itu, efektifitas vaksin Sinovac baru dapat dilihat saat sudah digunakan di masyarakat. “Misalnya setelah 3 bulan pertama. Ketika seseorang telah melakukan vaksinasi, perlu rentang waktu tertentu bagi tubuh untuk membentuk antibodi, yaitu sekitar 2 minggu – 1 bulan setelah vaksinasi,” tuturnya.

Bagi masyarakat dengan komorbid atau penyakit bawaan, respon kekebalan tubuh terhadap infeksi virus dapat menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan. Sebagai contoh, penyakit darah tinggi atau diabetes efeknya dapat parah ketika terinfeksi virus, karena respon kekebalan tubuh lebih rendah. Dalam hal ini. BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) akan mengkonfirmasi dan memberikan kriteria apakah vaksin tersebut juga bisa diberikan pada mereka yang memiliki komorbiditas. Sementara itu, bagi masyarakat yang memiliki alergi, maka mereka dapat memilih alternatif vaksin lainya. Dianjurkan untuk menunggu di tempat selama 30 menit setelah vaksinasi dilakukan untuk melihat apakah ada efek alergi yang muncul, agar kemudian dapat ditangani dengan cepat oleh tim medis.

Vaksinasi Covid-19 pun dapat diberlakukan bagi masyarakat penyintas Covid-19, sebab adanya risiko terinfeksi kembali oleh virus sedangkan respon antibodi masih lemah. “Namun, tetap perlu konsultasi terlebih dahulu untuk penentuan waktu yang tepat melakukan vaksinasi. Bagaimanapun vaksin tetap diperlukan untuk meningkatkan respon tubuh kita dalam menciptakan antibodi.”

Setelah Vaksinasi
Layaknya vaksinasi pada umumnya, vaksinasi Covid-19 pun dapat menimbulkan efek samping. Wien menyebut, vaksin Sinovac kemungkinan dapat menimbulkan efek samping berupa efek lokal dan sistemik. Efek lokal terjadi di tempat yang disuntik seperti gatal-gatal, kemerahan, pembengkakan, sementara efek sistemik terjadi pada tubuh akibat penyuntikan seperti pusing, mual atau demam ringan. “Namun, dari hasil dari pemantauan sejauh ini, efek samping vaksin Sinovac masih tergolong ringan atau tidak ada sama sekali,” ungkap Wien.

Dirinya mengungkapkan bahwa nantinya akan ada dua kali penyuntikan vaksin, sehingga kewaspadaan dan pelaksanaan protokol kesehatan tetap harus selalu dijalankan.

“Tetap perlu mematuhi protokol kesehatan meskipun telah divaksinasi, setelah beberapa tahap penyuntikan vaksin. Respon tubuh terhadap vaksin berbeda tiap orang. Sebagai contoh, efikasi dari Sinovac hanya 65% di Indonesia. Ibaratnya dari 100 orang, hanya 65 orang yang terlindungi dari infeksi virus COVID-19, bila dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksinasi,” terang Wien.

Selain itu, Wien menambahkan bahwa dalam beberapa kasus biasanya terbentuknya antibodi baru mencapai puncak setelah sekitar dua minggu hingga satu bulan penyuntikan. “Sehingga kita tetap harus berhati-hati, karena sejauh ini kita belum mengetahui secara persis berapa lama vaksin tersebut bisa melindungi, “ tutupnya. (Is/ ed: sl, iz).

Sivitas Terkait : Dr.rer.nad Wien Kusharyoto
Diakses : 385