Museum Zoologicum Bogoriense Berumur 120 Tahun

 
 
Jakarta - Pengkoleksian fauna Indonesia sangat penting dilakukan untuk menjadi sumber penyangga kehidupan di masa depan. Di usianya yang ke-120 Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang terbesar dan terlengkap di kawasan Asia Tenggara ini, membutuhkan dukungan pendanaan dan peralatan riset untuk menjaga kekayaan koleksi ilmiah fauna Indonesia.

Salah satu kontribusi MZB yang paling fenomenal adalah penemuan reptil biawak raksasa Varanus Komodoensis dari Pulau Komodo tahun 1912 oleh staf MZB bernama Mr. PA Ouwens.

‪Direktur Museum Zoologicum Bogoriense LIPI Prof. Dr. Rosichon Ubaidillah mengatakan kekayaan koleksi ilmiah MZB hingga sekarang telah mencapai 3.015.846 spesimen. Terdiri dari 2.484 jenis koleksi Moluska, 134 jenis cacing nematoda, 12.000 jenis serangga, 780 jenis krustasea, 1.200 jenis ikan, 498 jenis reptil, 334 jenis amfibi, 1.100 jenis burung dan 470 jenis mamalia.‬

‪Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI ini pun berharap MZB menjadi institusi mandiri. Namun tetap mendapat dukungan dari pemerintah untuk bisa meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dan peralatan riset di bidang fauna Indonesia.

"Ketika SDM dan peralatan riset sudah mumpuni serta terpercaya Indonesia bisa meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa, " kata Rosichon di Jakarta, Minggu malam (5/10).

Sehingga lanjutnya ketika penemuan-penemuan di bidang fauna sudah dioptimalkan maka pemanfaatan fauna Indonesia untuk berbagai bidang bisa dilakukan. Seperti di bidang pangan, obat-obatan bahkan memecahkan kesulitan energi dengan penemuan energi terbarukan.

Rosichon juga berharap kehadiran museum bisa meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk menjaga fauna yang ada. Terutama fauna liar yang dilindungi.

Bahan-bahan mentah untuk industri fashion seperti dari kulit ular, buaya dan ikan pari, ikan hias, bambu laut, ular air tawar, kuda laut di jual ke luar negeri untuk berbagai kebutuhan. Lalu, gaharu kayu yang dijamuri lalu mengeras untuk bahan parfum.

Rosichon berpendapat seiring meningkatnya kemampuan riset dalam negeri melalui MZB penjualan fauna-fauna itu tidak akan terjadi lagi. Menurutnya devisa perdagangan satwa liar mencapai Rp 2,5 triliun.

Di samping itu, menguatnya riset di bidang fauna akan mencegah pencurian sumber fauna lewat riset ilegal pihak asing. MZB telah berdiri sejak 1894 dan sekarang ini menjadi bagian dari Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI. Melalui keterangan tertulis LIPI, Kepala LIPI Prof. Dr. Lukman Hakim mengungkapkan bahwa pada masa awal berdirinya, museum tersebut hanyalah satu laboratorium kecil yang terletak di kawasan Kebun Raya Bogor.

Seiring berjalannya waktu, laboratorium yang awalnya hanya mengoleksi dan meneliti serangga pada tanaman pertanian terus berkembang meneliti jenis fauna lainnya seperti burung, mamalia, ikan dan moluska, jelasnya.

‪Tahun 1997, Lukman melanjutkan seluruh staf dan koleksi ilmiah fauna Indonesia yang dimiliki MZB dipindahkan ke gedung baru Wiyasatwaloka di kawasan Cibinong Science Center yang memiliki fasilitas berstandar internasional. Gedung museum lama di Kebun Raya Bogor tetap menjadi museum pameran, sedangkan seluruh kegiatan penelitian dilakukan di gedung baru.

Komitmen LIPI saat ini akan terus melakukan kegiatan ekspedisi di seluruh wilayah Indonesia sehingga jumlah koleksi ilmiah fauna Indonesia semakin lengkap dan dikenal dun‬ia, " ujarnya.
Sumber : Beritasatu.com, 6 Oktober 2014

Sivitas Terkait : Rosichon Ubaidillah

Diakses : 1104