Nasib Go-Jek Tergantung Pesaing

 
 
Masa depan Go-Jek mungkin akan suram. Layanan utamanya, ojek, mungkin tak akan bertahan lama. Masa depannya akan bergantung pada pesaingnya, seperti GrabBike dan Blu-Jek.

"Go-Jek kalau mengandalkan user acquisition-nya, tidak mungkin sustain. Sebab, hal itu diperoleh dengan cara buang-buang uang. " kata Laksana Tri Handoko. Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), seperti dilansir Kompas, com.

Menurut Handoko, dengan tarif promo yang kini Rp 15.000 di luar jam sibuk. Go-Jek mengeluarkan dana miliaran untuk mempertahankan pemakai. Hal itu tidak sehat.

Handoko yang juga peneliti fisika teori dan pemerhati teknologi informasi mengatakan, usaha Go-Jek yang justru akan bertahan adalah Go-Food. Go-Food menjadi model bisnis baru dalam antar jemput sekaligus pemasaran makanan. Jumlahnya yang sedikit dan kecepatan antar menjadi keunggulan.

Saat ini Go-Food telah menyediakan banyak jenis makanan. Makanan itu tidak hanya yang dipasarkan di restoran mewah, tetapi juga makanan yang biasa dijual di kedai kecil atau di pinggir jalan.

"Go-Food akan menjadi ancaman buat rumah makan yang high cost. Ancaman luar biasa. Orang tidak akan ke restoran kalau tidak ada tujuan kongko-kongko-nya. " kata Handoko.

Handoko mengatakan, sifat Go-Food yang membuat mampu bertahan adalah dibutuhkan oleh dua pihak, yaitu konsumen dan produsen. "Kalau ojeknya hanya satu pihak. " katanya.

Hal yang bisa menyelamatkan layanan Go-Jek mungkin adalah GrabBike. "Kalau GrabBike mati cepat. Go-Jek akan survive. " kata Handoko, (ang)
Sumber : Warta Kota, edisi 7 Oktober 2015. Hal: 5

Sivitas Terkait : Laksana Tri Handoko

Diakses : 1310