Penerapan Internet of Things (IoT) di Era Pertanian Presisi

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam bahan pangan yang melimpah. Curah hujan yang tinggi, serta banyaknya mineral yang terkandung dalam tanah Indonesia membuat banyak jenis tanaman pangan dapat tumbuh di Indonesia dengan subur.

Kemajuan teknologi dalam bidang pertanian sudah selayaknya menjadi isu penting untuk terus dikembangkan. Saat ini, sistem pertanian presisi (precision agriculture) sedang menjadi lingkup kajian yang strategis. Pertanian presisi merupakan sistem pertanian dengan input menggunakan teknik dan teknologi yang tepat untuk mengurangi masalah pemborosan sumber daya.

Agustami Sitorus, peneliti Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), memaparkan penerapan konsep teknologi Internet of Things (IoT) dalam teknologi pertanian pada Stadium General yang diadakan oleh Prodi Teknik Biosistem Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Selasa, (08/09).

Dalam kesempatan tersebut, ia meaparkan tentang sistem telemonitoring. Kendati belum populer, Agustami menyampaikan bahwa sistem telemonitoring dapat diaplikasikan pada alat dan mesin pertanian.

“Secara umum, telemonitoring berarti proses mendapatkan data di suatu tempat dengan menggunakan sensor, dan data tersebut dikirim melalui jaringan nirkabel (wireless) yang dapat berupa Bluetooth atau jaringan lainnya,” terang Agustami. “Data dari lapangan kemudian dapat diakses dari manapun dan kapanpun menggunakan perangkat telekomunikasi,” sambungnya.

Agustami menyebutkan, kekurangan dari telemonitoring ini adalah harus tersedianya cloud server. “Selain itu kita juga harus mempertimbangkan kemananan data yang harus dilengkapi,” ungkapnya.

Dirinya meyakini, di era pertanian presisi, ketepatan dalam pengaturan waktu tanam membutuhkan data yang tepat dan cepat. “Data ini yang akan diolah dan menghasilkan informasi untuk mengambil keputusan. Sehingga, penggunaan telemonitoring berbasis IoT ini menjadi sebuah kebutuhan,” tuturnya.

“Saat ini, riset dituntut harus real-time, sehingga penambangan data harus dilakukan untuk memperoleh informasi yang valid. Di era ‘tsunami data’ ini,  memahami data akan menghasilkan keputusan yang lebih baik, terlebih jika data tersebut dapat diakses setiap waktu,” ucap Agustami.

Ia menyebutkan, perangkat yang digunakan untuk melakukan sistem telemonitoring pada umumnya meliputi perangkat keras dan perangkat lunak yang terdiri dari sensor, box panel/terminal, jaringan internet, dan penyedia database.

Agustami mengatakan, beberapa contoh aplikasi telemonitoring berbasis IoT dapat diterapkan pada mesin pengering mekanis untuk misalnya, mengetahui kadar air tanpa harus menghentikan proses pengeringan, mengetahui suhu, Rh, tekanan udara, dan lain-lain. “Telemonitoring juga dapat diterapkan dalam efektivitas pengairan sawah melalui sistem irigasi telemonitoring untuk mengukur level air,” pungkasnya. (sr/ed:drs)
 
 

Sumber : ttg.lipi.go.id

Sivitas Terkait : M Luthfi Khair A S.Hum.
Diakses : 430