Pengembangan Energi Terbarukan untuk Sumber Listrik

 
 
Serpong, Humas LIPI. Indonesia saat ini sedang mengalami defisit energi listrik karena pasokan listrik  semakin menipis, sementara kebutuhan energi listrik meningkat dengan makin bertambahnya jumlah penduduk dan pesatnya pembangunan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan energi terbarukan untuk sumber listrik lewat teknologi fuel cell, baterai, dan turbin angin yang hasil-hasilnya ditampilkan dalam kegiatan press tour di Pusat Penelitian Fisika LIPI pada Kamis (4/7) di Serpong, Banten.

Fuel cell merupakan salah satu pengembangan Pusat Penelitian Fisika LIPI. “Riset fuel cell yang dilakukan LIPI difokuskan pada pembuatan gas diffusion layer (GDL) untuk aplikasi charger ponsel,” jelas Deni Shidqi Khaerudini, peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI. Material GDL fuel cell berasal dari biomassa sabut kelapa yang ekonomis. sementara bahan bakarnya menggunakan CO2 yang dianggap sebagai penyebab efek rumah kaca. “Kami berusaha menangkap CO2 yang ada sebelum sampai ke atmosfer,” ujar Deni. Dirinya menjelaskan, fuel cell memiliki keunggulan memiliki kerapatan daya yang besar, efisiensi mencapai 60% persen, mudah dibawa, serta waktu start-up yang relatif cepat.

LIPI juga mematenkan baterai ion litium ‘merah-putih’. Tipe ‘merah’ didesain untuk pemakaian daya besar, seperti aplikasi kendaraan listrik. Sementara tipe ‘putih’ digunakan untuk aplikasi daya rendah, seperti alat komunikasi. Yang membedakan adalah material elektroda. “Kebutuhan baterai sebagai penyinpan energi saat ini masih rendah, namun kedepannya akan semakin meningkat tidak hanya sebagai penyimpan, tetapi juga sebagai pembangkit energi,” ungkap Achmad Subhan dari Pusat Penelitian Fisika LIPI.


 
Penghasil listrik lainnya adalah turbin angin. Turbin angin mengkonversi tenaga gerak dari angin menjadi energi listrik. Dalam pengembangannya, LIPI bekerjasama dengan A Wing group Jepang.  “Keunggulan produk ini adalah dapat digunakan dalam jangka panjang, beda dengan yang ada di pasaran”, papar peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Agus Sukarto Wismogroho. Turbin LIPI yang telah dipasang di beberapa titik telah mencapai hampir usia 10 tahun, sementara produk sejenis rata-rata hanya mampu bertahan satu tahun. “Daya yang dihasilkan bervariasi, yaitu 0,3 kW, 0,5 kW dan 1kW, sesuai untuk skala rumah tangga,” tutup Agus. (adl,es/ed: fz)


 
 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Rike Yudianti
Diakses : 1320