Peran Data sebagai Dasar Rekomendasi Kebijakan Perlindungan Kehati

 
 
Bogor, Humas LIPI. Tahun 2018 luas lahan kritis Indonesia telah mencapai 14 juta hektar dengan kemampuan rehabilitasi lahan baru hanya mencapai 3.6%. Diperlukan waktu 48 tahun untuk melakukan pemulihan, namun ancaman degradasi lahan terus berlangsung. “Keberadaan data keanekaragaman hayati menjadi vital dalam menjaga keberlanjutan ekosistem,” ujar Atit Kanti selaku Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Bogor pada Selasa (5/11).

Dirinya menjelaskan pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia erat dengan target pencapaian Sustainable Development Goals terutama poin 14 tentang ekosistem lautan dan poin 15 mengenai ekosistem daratan.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi menjelaskan LIPI terus berupaya membangun pondasi keberagaman kehati dalam bentuk koleksi museum, inventarisasi data, taksonomi, klasifikasi dan peta. “Data-data ini sebagai dasar merekomendasikan kebijakan untuk melindungi keberagaman hayati di Indonesia,” ujar Cahyo.

Ratih Listyo Rini dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan startegi konservasi memang harus diwujudkan melalui kebijakan. “Saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengatur konservasi secara ex-situ dan in-situ. Khusus untuk spesies di luar kawasan konservasi dikelola melalui strategi kawasan ekosistem esensial yang terbagi dalam beberapa tipologi diantaranya lahan basah, koridor kehidupan liar, dan area konservasi bernilai tinggi,” terangnya. (sa/ed: fz)
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Atit Kanti S.Si., M.Sc.
Diakses : 240