Peran Penting Keluarga sebagai Pondasi Bangsa

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang berperan penting dalam perkembangan fisik dan mental anak. “Keluarga adalah pondasi karakter bangsa karena dalam keluarga pendidikan pertama pada anak didapatkan,” ujar Sekretaris Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nur Tri Aries Suestiningtyas pada Diskusi Publik Hari Keluarga Internasional, Rabu (15/5) di Jakarta.

Ia menjelaskan perkembangan  teknologi membuat pola pengasuhan dan komunikasi dalam keluarga. “Orang tua dituntut mampu menjadikan perkembangan teknologi bisa berpengaruh positif pada perkembangan fisik dan mental anak,” jelas Nur.

Dalam hal perkembangan fisik, orang tua Indonesia perlu mengerti pola konsumsi yang baik untuk anak. Mengingat  Indonesia masih memiliki masalah stunting. Ainia Herminiati, peneliti Pusat Penelitian  Teknologi Tepat Guna LIPI mengatakan stunting dapat dicegah dengan memperhatikan pola konsumsi anak pada 1000 hari pertama kehidupan."Makanan pengganti ASI (MP-ASI) tidak hanya perlu diperhatikan gizinya, namun juga tekstur dan variasi agar anak tidak bosan dan tetap mau makan sehat,” jelas Ainia.

Terkait aspek perkembangan mental, orang tua saat ini menghadapi tantangan anak remaja yang besar di era digital. “Mereka sangat sangat aktif dalam mengoperasikan gawai bahkan tanpa diajari dan diawasi. Potensi ahaya cyberbullying menjadi tantangan orang tua untuk melakukan pengawasan pada kebiasaan penggunaan internet anak usia remaja.” papar Augustina Situmorang, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI. Menurut Augustina, potensi bahaya cyberbullying sangat besar karena anak dapat menjadi korban maupun pelaku tanpa disadari orang tuanya. “Anak cenderung menyembunyikan masalah dari orang tua karena menganggap orang tua tidak akan paham dan tidak bisa memberikan perlindungan yang dibutuhkan.”

Kecakapan literasi digital menjadi penting bagi orang tua. “Literasi digital tidak hanya soal mengajarkan anak menggunakan gawai, namun juga soal kecakapan emosional, “papar Aulia Hadi, peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI. Dirinya menjelaskan, literasi digitall tidak hanya  pengawasan durasi penggunaan gawai dan media digital. “Namun juga kecakapan emosional seperti memahami konten dan menyeleksi informasi,” jelasnya. (sc/ed: fza)
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas S.IP., M.A.