Perlu Penelitian dan Pengembangan agar Produksi Bioethanol Lebih Ekonomis

 
 

Jakarta, Humas LIPI. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor. 12 Tahun 2015 yang mengatur tentang pemanfaatan bioethanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM). Dalam peraturan tersebut, pemerintah mewajibkan penggunaan dua sampai lima persen bioethanol sebagai campuran BBM pada tahun 2016. Pemerintah mengharapkan sudah mencapai target 10 persen penggunaan bioethanol pada tahun 2020. Namun hingga tahun 2018, peraturan tersebut belum juga terealisasi. “Perlu penelitian dan pengembangan di sisi teknologi pemrosesan agar ada solusi ekonomi produksi bioethanol,” ujar Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono di Jakarta pada Rabu (3/10) lalu.

Dirinya mengungkapkan, saat ini bahan baku bioethanol yang digunakan banyak berasal dari bahan pangan sehingga harus berkompetisi antara produksi bioethanol dengan kebutuhan pangan. “Selain itu masih ada juga tantangan selisih harga dari konversi bioethanol dengan harga indeks pasar,” jelas Agus.

Untuk menekan biaya produksi, LIPI tengah berupaya meminimalisir penggunaan enzim impor dalam produksi bioethanol. “Penggunaan enzim mencapai 30 persen dari total biaya produksi, selain bahan kimia, peralatan, dan transportasi,” jelas peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Yanni Sudiyani. Menurut Yanni, enzim yang diimpor dari Denmark tersebut punya kadar aktivitas lebih tinggi daripada enzim produksi dalam negeri sehingga masih jadi pilihan sampai sekarang.

Yanni menjelaskan, pihaknya tengah meneliti potensi mikroba Indonesia. “Mikroba ini akan mengeluarkan enzim yang berguna dalam proses produksi bioethanol. JIka ini berhasil, kita tidak perlu impor enzim lagi,” jelasnya. Dirinya berharap upaya penelitian ini mendapat dukungan sehingga produksi bioethanol tidak lagi tergantung pada komponen impor. (rdn/ed: fza)


Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Agus Haryono M.Sc.