Perunggu IEYI untuk Karya Invensi Anak Indonesia

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Kompetisi International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2020 telah usai digelar secara virtual. Tahun ini, dua siswa perwakilan Indonesia berhasil membawa karya invensinya meraih medali perunggu. Kedua siswa tersebut adalah Muhammad Rasyid Albanna dari SMPN 02 Pekalongan melalui invensi SAY NO SMOKING DETECTOR di kategori Safety and Health dan Sandi Pamungkas dari SMA 2 Bunguran Timur melalui invensi SMART CHILI di kategori Food and Agriculture. Kedua siswa ini merupakan bimbingan Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui kompetisi ilmiah National Young Inventor Award (NYIA) ke 11, yang diselenggarakan LIPI 2019 lalu.

SAY NO SMOKING DETECTOR karya Muhammad Rasyid merupakan alat pendeteksi asap portabel untuk mengingatkan perokok agar mematikan rokoknya dengan rekaman suara manusia. “Cara kerja alat ini yaitu sensor akan membaca kualitas udara jika ada asap, lalu diubah menjadi tegangan yang dibandingkan oleh suatu komponen bernama trimmer,” terangnya.

Selanjutnya Rasyid menjelaskan, ada komponen arduino yang berfungsi mengendalikan detector dan mengaktifkan pengeras suara. “Matikan Rokok Anda Karena Ada Anak Kecil di Sekitar,” demikian alat ini bersuara. “Alat ini bertujuan melindungi anak dari asap rokok, menyadarkan perokok aktif akan bahaya rokok, dan mengkampanyekan hidup sehat,” ulas Rasyid.

Delegasi termuda Indonesia dalam IEYI ini mengungkapkan, ide menciptakan alat ini berangkat dari kegelisahannya atas kurangnya kepekaan perokok aktif saat berada di tempat umum, khususnya area dilarang merokok. “Ini berdasarkan pengalaman pribadi ketika saya takut menegur perokok aktif di samping saya,” ujarnya. Rasyid menyebut keunggulan SAY NO SMOKING DETECTOR antara lain perakitan dan penggunaan yang mudah, penggunaan baterai ramah lingkungan, dapat digunakan kapan dan dimana saja, serta peringatan yang berupa suara bukan hanya alarm atau buzzer.

SMART CHILI, invensi buatan Sandi Pamungkas adalah metode perawatan tanaman yang praktis dan otomatis. Sandi menjelaskan prinsip yang mendasari SMART CHILI adalah kepraktisan penyiraman, pemupukan dan perawatan tanaman. “Sistem ini menyediakan air dan pupuk secara otomatis sehingga tanaman tidak perlu disiram setiap hari,” ucap Sandi.

SMART CHILI diciptakan dengan dua metode pemupukan. Sandi menjelaskan, cara pertama adalah air galon diisi dengan pupuk yang dicampur air. Cara kedua, jeriken yang diisi tanah, serbuk gergaji dan pupuk kandang dengan perbandingan 1: 1: 1 untuk memungkinkan tanaman tumbuh bebas. “Metode ini terbukti mampu memperpanjang usia produktif tanaman cabai hingga 3 tahun. Metode ini pun dapat di aplikasikan untuk tananaman sayur lainnya,” paparnya.
Sandi menerangkan, alasannya memilih cabai dalam pembuatan invensinya adalah karena cabai merupakan salah satu bahan utama makanan di Indonesia. Di daerah asalnya, Kabupaten Natuna, Kepulau Riau harga cabai dapat melambung tinggi hingga seharga daging akibat terjadinya krisis makanan selama pandemi COVID19. “Dengan berbudidaya SMART CHILI, kita dapat meningkatkan produksi pangan dari rumah. Masyarakat tidak perlu membeli pasokan pangan dari pasar sehingga mengurangi penyebaran COVID19 dan mewujudkan kemandirian pangan,” jelas Sandi. (iz/ ed:drs)


Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 445