Pesan Konservasi dari Pulau Mursala

 
 
Oleh NAWA TUNGGAL

KOMPAS.com - Tim eksplorasi tumbuhan Kebun Raya Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan tumbuhan kayu yang dinyatakan punah oleh Lembaga Konservasi Alam Dunia pada tahun 1998. Pohon itu Dipterocarpus cinereus Sloot, dari keluarga meranti. Ditemukan di Pulau Mursala, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Temuan ini memberikan pesan. Belum terlambat untuk menyelamatkan isi hutan kita. Kebun raya di sejumlah daerah harus segera direalisasikan untuk menyelamatkan tumbuhan endemik yang terancam kepunahan, kata Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mustaid Siregar, Kamis (11/4), di Cibodas, Jawa Barat.

Pohon yang dinyatakan Lembaga Konservasi Alam Dunia (IUCN) sudah punah itu dikenal sebagai keruing. Jenis pohon dengan kayu keras.

Tim melaporkan, di habitat Dipterocarpus cinereus Sloot terdengar suara mesin gergaji untuk menebang pohon. Para penebang tidak lagi memedulikan kelangkaan jenis kayu, katanya.

Dalam penelitian selama lebih dari dua minggu, Tim Kebun Raya Bogor mencatat lebih dari 70 koleksi dengan 200 spesimen. Di antaranya ada tujuh jenis Dipterocarpaceae langka.

Di Sumatera ada sedikitnya 8 marga dan 112 spesies Dipterocarpaceae. Dua belas di antaranya ada di Pulau Mursala dan 10 spesies ditemukan tim.

Ke-10 spesies Dipterocarpaceae (meranti-merantian) itu adalah Dipterocarpus cinereus Sloot (berdasar pernyataan IUCN sudah punah), Dipterocarpus caudatus Foxw. s.sp. penangianus (Foxw.) Ashton, Dipterocarpus kunstleri King (sangat terancam punah), Vatica perakensis King (terancam punah), Vatica pauciflora Blume (terancam punah), Dryobalanops aromatica C.F.Gaertn (sangat terancam punah), Dryobalanops oblongifolia Dyer, Shorea parvifolia ssp. parvifolia, Shorea macrantha Brandis (sangat terancam punah), dan Hopea cf bancana (Boerl.) Sloot (sangat terancam punah).

Menurut Mustaid, tim eksplorasi mengumpulkan biji berbagai tumbuhan kayu bernilai ekonomi tinggi yang masuk kategori punah, sangat terancam punah, dan terancam punah itu untuk dikembangkan di kebun Raya Bogor. Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, benteng terakhir penyelamatan biodiversitas yang terancam punah adalah kebun raya. Pembangunan kebun raya di daerah perlu dipercepat.

Dari yang sudah ada dan sedang direncanakan sebanyak 25 kebun raya masih kurang jumlahnya. Wilayah Indonesia terbagi atas 47 ekoregion. Setidaknya, setiap kebun raya mewakili minimal satu wilayah ekoregion.

Fungsi penelitian

Menilik fungsi utama kebun raya, ada harapan besar akan penyelamatan tumbuhan yang terancam punah, sekaligus pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan yang dikoleksi. Fungsi utama kebun raya untuk penelitian botani koleksi tumbuhan, penelitian terapan untuk aklimatisasi, dan introduksi tumbuhan bernilai ekonomi.

Kebun raya juga berfungsi menyebarkan produk hasil penelitian. Kebun raya juga menjadi lokasi wisata alam.

LIPI menentukan tema untuk setiap kebun raya. Hal yang membedakan kebun raya dengan hutan ada pada penataan koleksi yang dilengkapi registrasi, pemeliharaan, dan pemantauan. Meskipun koleksi kebun raya merupakan kekayaan negara, belum dihitung sebagai aset, kata Mustaid.

Penemuan pohon keruing yang sudah dinyatakan punah di Pulau Mursala menjadi contoh aset negara yang berharga.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Siti Nuramaliati Prijono mengatakan, setiap kebun raya harus dilengkapi peneliti taksonomi. Untuk menyiasati minimnya ahli taksonomi, sekarang dipersiapkan pendidikan untuk parataksonom. Mereka ini dibekali pengetahuan untuk mendeskripsikan taksonomi meski belum dinyatakan sebagai taksonom.

Dari 21 kebun raya daerah, sudah dipersiapkan minimal dua parataksonom, kata Siti.

Sejarah

Dari sejarah kebun raya, aktivitas ilmiahnya bermanfaat bagi masyarakat. Pada 18 Mei 1817, dibentuk Kebun Raya Bogor. Dalam perkembangannya, kebun raya digunakan untuk introduksi dan penelitian pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis) dari Afrika Barat pada 1848.

Kini kelapa sawit menjadi komoditas penting walau pengembangan kelapa sawit kerap merugikan konservasi alam.

Peneliti utama bidang biologi LIPI Endang Sukara menuturkan, Kebun Raya Bogor pernah digunakan untuk penelitian ubi kayu (Manihot esculenta) dari Pulau Batam. Sekarang, ubi kayu menjadi sumber karbohidrat yang banyak dimanfaatkan.

Di masa Hindia Belanda juga dibuat Kebun Raya Cibodas dan Kebun Raya Purwodadi di Pasuruan. Seusai kemerdekaan tahun 1959, Kebun Raya Eka Karya di Bedugul, Bali, diresmikan.

Melalui berbagai penelitian dan introduksi di kebun raya, lahir komoditas penting. Selain kelapa sawit, ada kopi, teh, kina, dan karet. Pada pengembangannya, kultivar tumbuhan lokal juga dikembangkan melalui kebun raya seperti kopi sidikalang, ubi cilembu, talas bogor, salak condet, dan rambutan binjai.

Temuan keruing di Pulau Mursala yang sudah dinyatakan punah oleh IUCN memberi pesan agar ada penyelamatan plasma nutfah Indonesia. Keberadaan kebun raya dengan kelengkapan peneliti dan sarananya sekarang masih terus diuji untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Sumber : Kompas Cetak

Editor : yunan
Sumber : Kompas.com - Rabu, 17 April 2013

Sivitas Terkait : Mustaid Siregar

Diakses : 1927