Potensi Limbah Kelapa Sawit untuk Produk Ramah Lingkungan

 
 
Serpong, Humas LIPI. Indonesia mengalami permasalahan lingkungan seperti pencemaran air, penumpukan sampah, dan kelangkaan energi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kimia telah melakukan beberapa penelitian untuk produk ramah lingkungan berbasis bahan alam, yakni adsorben polutan, material dan energi terbarukan, serta bahan baku obat alami. "Penelitian LIPI saat ini mengupayakan bagaimana menjaga konservasi sumber daya alam. Penelitian LIPI juga menyesuaikan dengan kebutuhan industri dan masyarakat, ungkapnya Plt. Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Raden Arthur Ario Lelono di Serpong pada Selasa (30/4) lalu.

Peneliti Kimia LIPI, Andreas, memaparkan pengembangan karbon aktif untuk dekolorisasi pewarna tekstil dalam air limbah. “Material adsorben zat pewarna tersebut menggunakan karbon aktif dari lindi hitam hasil samping proses bioetanol dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS),” terang Andreas. Dengan karbon aktif yang digunakan, jelasnya, air limbah yang tercemar pewarna tekstil bisa menjadi jernih kembali.

Terkait material terbarukan, peneliti Kimia LIPI Muhammad Ghozali menjabarkan bioplastik generasi dua dari TKKS. “Produk bioplastik generasi dua dari limbah tandan kosong kelapa sawit memiliki keunggulan tahan air, tahan kelembaban, bukan bahan pangan, dan sifat mekanik lebih baik untuk dijadikan kemasan, dibandingkan bioplastik generasi satu yang berasal dari pati seperti singkong dan jagung,” ujar Ghozali. Dirinya menjelaskan, teknologi di Indonesia siap untuk mengembangkan bioplastik ini.

Sementara untuk penelitian energi terbarukan adalah pengembangan bahan bakar nabati bio-oil dari limbah tandan kosong kelapa sawit. Peneliti Kimia LIPI, Nino Rinaldi menjelaskan bahwa sumber daya alam Indonesia sangat berpotensi untuk pengembangan bio-oil. “Sejak isu CPO sawit Indonesia yang ditolak negara pengimpor, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan sawit untuk menjadi bio-oil,” kata Peneliti Kimia LIPI, Nino Rindaldi. Dirinya menjelaskan, Bio-oil memiliki karakteristik seperti bahan bakar fosil, sehingga dapat menjadi alternatif bensin, diesel, maupun avtur. (adl/ed: fz)
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Raden Arthur Ario Lelono Ph.D.