Potensi Padang Lamun Masih Kurang Diperhatikan

 
 

Jakarta, Humas LIPI. Padang lamun (seagrass bed) merupakan salah satu dari tiga ekosistem penting di kawasan pesisir, selain terumbu karang dan bakau (mangrove). Namun selama ini perhatian terhadap padang lamun masih kurang jika dibandingkan dengan terumbu karang dan bakau. Padahal padang lamun punya banyak potensi ekologi maupun ekonomi. “Padang lamun adalah penyaring polutan dari daratan sebelum masuk ke ekosistem terumbu karang . Juga menjadi habitat komoditas hasil laut bernilai ekonomi tinggi seperti ikan baronang dan rajungan,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Zainal Arifin di Jakarta pada Senin (1/10) lalu.

Menurut Zainal, hasil verifikasi luasan padang lamun Indonesia yang dilakukan Tim Wali Data Lamun Indonesia yang dipimpin oleh LIPI menunjukkan Indonesia setidaknya memiliki padang lamun seluas 292 ribu hektar. “Jumlah luasan tersebut adalah yang tertinggi di negara-negara Asia Tenggara,” Zainal.

Kepala Pusat Penelitian Osenaografi LIPI, Dirhamsyah menjelaskan, informasi luasan padang lamun dapat memberikan indikasi kondisi dan potensi lamun secara menyeluruh. “Jika terjadi penurunan, ini menunjukkan adanya tekanan atau  ancaman pada ekosistem tersebut. Sebaliknya jika luasannya stabil atau naik, ini menunjukkan peluang padang lamun untuk lestari semakin tinggi,” ujarnya.

Peneliti stok karbon Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Aan J. Wahyudi mengatakan padang lamun seluas 150.693,16 hektare di Indonesia mampu menyerap karbon sebesar 992,67 kilo ton  per tahun. “Jika disetarakan sama dengan 3,64 mega ton karbondioksida per tahun,” jelas Aan. Dirinya menuturkan ekosistem padang lamun mampu menyerap dan menyimpan karbon baik di dalam vegetasi maupun di dalam substrat tempat lamun tumbuh. " Indonesia memiliki potensi cadangan dan serapan yang cukup besar," tuturnya.


Padang lamun juga menjadi habitat dugong, mamalia laut yang kini berada dalam status dilindungi karena terancam kepunahan. “ Sekitar 10 jam dalam sehari dihabiskan dugong untuk merumput di padang lamun. Spesies lamun Halodule dan Halophila adalah sumber makanan dugong yang  bisa menghabiskan sampai 30 kilogram dalam sehari,” jelas peneliti dugong Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Sekar Mira.

Menurut peneliti padang lamun Pusat Penelitian Oseanografi , Nurul Dhewani Mirah Sjafrie agar padang lamun tetap mampu memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan, upaya konservasi padang lamun harus mampu mencegah aktivitas yang mengancam kelestariannya. “Kegiatan transplantasi lamun dapat dilakukan untuk memulihkan padang lamun yang telah hilang atau rusak dan menciptakan areal padang lamun yang baru,” pungkasnya. (fza/ed: dig) 


Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Zainal Arifin M.Sc.