Profesor Riset Diharapkan Mampu Bawa LIPI Mengglobal dan Memasyarakat

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengukuhkan empat orang penelitinya menjadi Profesor Riset baru. Empat peneliti yang dikukuhkan tersebut adalah Dr. Anny Sulaswatty, M. Eng (Pusat Penelitian Kimia LIPI), Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI, serta Dr. Jamilah, M. Si, Dr. Ir. Nina Artanti, M. Sc dari Pusat Penelitian Kimia LIPI. Orasi Pengukuhan Profesor Riset disampaikan pada Selasa (20/8) di Auditorium Utama LIPI, Jakarta.

Keempat peneliti yang dikukuhkan sebagai profesor riset masing-masing berasal dari bidang keilmuan kimia organik, biokima, teknik kimia dan teknik lingkungan. Keempatnya merupakan Profesor Riset ke-131, 132, 133 dan 134 di LIPI dan Profesor Riset yang ke- 528, 529, 530 dan 531 secara nasional.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko meminta keempatnya secara langsung untuk dapat membawa LIPI menjadi lembaga penelitian yang mengglobal dan memasyarakat. “Lembaga yang mampu mempresentasikan Indonesia di kancah internasional, mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat luas, berbasis pada aktivitas dan temuan kebaruan ilmiah yang memenuhi standar dan norma komunitas ilmiah global,” jelas Handoko. Dirinya berharap dengan bertambahnya Profesor Riset di lingkungan LIPI akan mempercepat peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM, serta meningkatkan peran LIPI sebagai penyedia infrastruktur penelitian nasional.

Handoko mengungkapkan Indonesia akan memiliki UU Sistem Nasional Iptek (Sinas Iptek) sebagai pengganti Undang-undang Nomor 18 Tahun 2002. “UU ini juga memperpanjang usia pensiun para peneliti, untuk Peneliti Madya menjadi 65 tahun dan Peneliti Utama menjadi 70 tahun, sehingga kontribusi para peneliti senior khususnya Profesor Riset dalam pembinaan peneliti dan jejaring kerja sama penelitian dapat terus terjaga,” ungkap Handoko.

Orasi Profesor Riset
Dalam orasi berjudul “Peran Uji Bioaktivitas untuk Penelitian Herbal dan Bahan Aktif untuk Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati, Nina Artanti mengungkapkan pengalaman historis manusia dengan tumbuhan sebagai bahan terapi telah membantu memperkenalkan senyawa kimia tunggal dalam pengobatan modern yang ada sekarang. “Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal atau pun dalam penemuan dan pengembangan obat. Ada berbagai macam uji bioaktivitas yang dapat dimanfaatkan yaitu bioaktivitas antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri,” jelas Nina.

Sementara orasi dari Jamilah adalah “Penemuan Senyawa Aktif Baru dari Calophyllum spp sebagai Bahan Baku Obat Antikanker dan Antimalaria” dirinya mengungkapkan, tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai sumber bahan baku obat kanker dan malaria. “Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen, dan steroid yang memiliki aktivitas antiimflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antiplatelet, antitumor, antimalaria dan antibakteri serta antiTBC,” jelas Jamilah. Dirinya menjelaskan, peluang Calophyllum untuk pengembangan obat antikanker dan antimalaria sebagai pengganti obat impor masih terbuka lebar.

Di orasi berjudul “Penerapan Teknologi Non-Konvensional dalam Ekstraksi Komponen Utama Atsiri dan Produk Turunannya di Indonesia”, Anny Sulaswatty mengungkapkan pentingnya memperluas penerapan penelitian fraksinasi, pemurnian, serta perbaikan teknologi ekstraksi untuk meningkatkan nilai jual produk mintak atsiri. “Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri Indonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, food additives, serta perasa makanan,” ungkap Anny.

Dirinya menjelaskan, pemanfaatan teknologi non-konvensional perlu diimplementasikan melalui kerjasama dengan industri, salah satunya telah dilakukan pengembangan green-additives berbasis turunan minyak atsiri yang dapat menurunkan kadar air dalam solar hingga 15% dan menghemat bahan bakar hingga 8%.

Sedangkan Ignasius Dwi Atmana Sutapa lewat orasi “Pengembangan Instalasi Pengolahan Air Gambut (IPAG60) sebagai Sarana Pemenuhan Hak Dasar Masyarakat Atas Air di Daerah Gambut” mengungkapkan ketiadaan sumber air bersih serta kurangnya pengetahuan mengenai dampaknya terhadap kesehatan, memaksa masyarakat yang tinggal di wilayah gambut menggunakan air gambut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “IPAG60 menjadi alternatif teknologi untuk mengolah air gambut menjadi air bersih atau minum yang memenuhi standar kesehatan,” jelasnya.

IPAG60, jelas Ignasisus, dapat mengolah berbagai jenis air gambut menjadi air bersih. “Hasil uji terhadap kualitas air menunjukkan bahwa air produksi IPAG60 memenuhi standard air golongan A,” pungkasnya. (dnh/ed: fz)
 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.
Diakses : 544