Repositori Ilmiah Nasional untuk Tingkatkan Kolaborasi Penelitian

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah (PDDI) meluncurkan sistem Repositori Ilmiah Nasional (RIN) pada Selasa (6/8) di Jakarta. "RIN akan fokus pada data primer penelitian karena belum ada yang menangani. Kalau data seperti jurnal penelitian sudah ada ditangani di setiap universitas dan lembaga penelitian,” ujar Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko.

Handoko menjelaskan RIN digunakan untuk menyimpan data primer hasil penelitian sebagai sumber data untuk reproduksi penelitian dan penggunaan kembali data dengan Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah LIPI sebagai fasilitator integrasi data penelitian. “Data primer RIN secara default tidak bisa diakses umum karena merupakan data mentah. Nantinya tergantung peneliti dan afilisiasinya untuk bisa diakses oleh umum. Namun untuk keluaran jurnal dan hasil penelitian dapat diakses oleh umum,” terang Handoko.

Data Primer Hayati
Handoko juga menjelaskan, LIPI akan memulai pengembangan data-data primer penelitian kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. “Data kekayaan hayati Indonesia adalah hal krusial. Data-data primer yang tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense dan Indonesian Culture Collection akan dilengkapi mulai dari foto spesimen fisik, foto 360 derajat, hasil scan 3D MRI, dan data DNA Sequence dalam bentuk barcode,” terang Handoko.

Menurut Handoko, data-data primer ini akan sangat berguna untuk eksplorasi pemanfaatan kekayaan keanekaragam hayati Indonesia. “Adanya pusat data ini akan membuat peneliain menjadi lebih efisien karena fasilitas ini akan kita buka untuk publik,” terangnya. Dirinya menjelaskan, LIPI tengah mengembagkan fasilitas di Cibinong untuk repositori data primer kekayaan hayati Indonesia mulai dari zoologi, botani, hingga mikroba. "Kita akan memperluas gedung dan melengkapi fasilitas mesin  DNA sequencer untuk bisa digunakan seluruh peneliti Indonesia," ujar Handoko. 

Pelaksana Tugas PDDI LIPI, Hendro Subagyo menjelaskan,  pengelolaa RIN berpedoman pada prinsip FAIR atau Findable, Accessible, Interoperable and Reusable. “Nantinya antinya akan diwajibkan untuk seluruh peneliti dan penelitian ke depan berbentuk data digital sebagaimana diatur dalam wajib serah dan simpan data sesuai amanat UU Sisnas IPTEK,” ujar Hendro.

Hendro mengungkapkan, RIN hanya akan mengakomodir data digital. "Publikasi data di RIN akan tergantung pada peneliti, afiliasi, dan pemberi data. Metadata dibuka, info tentang peneliti dan penelitiannya akan dibuka, meskipun data primernya tidak dibuka," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, RIN dikembangkan dengan aplikasi Dataverse yang dapat diakses secara online di http://rin.lipi.go.id/   dan https://data.lipi.go.id/ . “Hingga Juli 2019, data di dalam aplikasi ini ada sekitar 283 Dataverses, 6552 Datasets, dan 15382 files,” sebutnya. “Pengguna yang memanfaatkan sistem RIN sudah mencapai 63 afiliasi, yang terdiri dari lembaga litbang dan perguruan tinggi,” ujarnya.

Bersama dengan peluncuran RIN, juga diselenggarakan 2nd International Conference on Documentation and Information: Library Transformation in Big Data Management dan Lokakarya Manajemen Data Penelitian. Hadir sebagai narasumber . Hadir sebagai narasumber diantaranya Dr. Hendrik E. Niemeijer, Country Director MAIS & Independent  Cultural Consultant, Co-Promotor in Faculty of Humanity, Leiden University, Prof. Dr. Michael Seadle dari Berlin School of Library and Information Science, Humboldt University of Berlin, serta sejarawan Simon Carlos Kemper, Ph.D. (iz, drs/ed: fz)
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.
Diakses : 343