Saat Peneliti LIPI Berbagi Pesan Inspiratif untuk Perempuan Indonesia

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Perayaan global untuk pencapaian para perempuan sedunia dalam berbagai bidang ini telah dimulai sejak 1977.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus mendorong para perempuan menjadi agen perubahan bagi dunia ilmu pengetahuan dan riset di Indonesia. Saat ini terdapat 779 peneliti perempuan yang tersebar di satuan kerja LIPI di seluruh Indonesia. “LlPI selalu mendorong peneliti perempuan untuk meningkatkan kompetensi mereka,” jelas Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati di Diskusi Publik Peringatan Hari Perempuan Internasional 2018 “Perempuan dalam Transformasi Iptek” pada kamis (8/3) lalu di Jakarta.

Menurut Enny, para peneliti perempuan LIPI didorong untuk menonjolkan bidang kepakaran yang unik di jejaring ilmiah dunia. “Hal ini untuk membuktikan kemampuan peneliti dan memberi motivasi perempuan Indonesia untuk berkarya,” jelas Enny.

“Ada tantangan sebagai berkarir sebagai peneliti, perempuan istri, dan ibu. Bukan sesuatu yang  taken for granted tapi dari hasil belajar dari waktu ke  waktu,” ujar Siti Nurul Aisyiah Jenie, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Memulai karier peneliti sejak tahun 2007, perempuan yang akrab disapa Ais ini adalah peraih L’ORÉAL – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 kategori Material Sciences lewat proposal peneltian deteksi dini kanker lewat material silika alam Indonesia. “Selama ini deteksi baru bisa dilakukan di rumah sakit setelah stadium akhir. Penelitian saya merancang semacam  testpack deteksi dini kanker seperti tes kehamilan sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat umum,” papar Ais.



Menurut perempuan yang sangat menyukai matematika ini, keterbatasan dan halangan jangan menjadikan perempuan menyerah. “Semuanya jadi tantangan buat saya. Intinya perempuan bisa maju jika diberi kesempatan yang sama,” ungkapnya.

Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Yuliati Herbani menilai apresiasi pemerintah dan masyarakat Indonesia maupun dunia bagi perempuan peneliti semakin lama semakin meningkat, khususnya dengan ketersediaan porsi-porsi khusus dalam hal pendanaan riset dan beasiswa. “Namun perlu juga diperhatikan mekanisme cuti hamil untuk ga pekerja perempuan. Perlu ada regulasi yang memberdayakan ibu yang baru melahirkan  untuk tetap terhubung dengan pekerjaannya,” jelas Yuli.



Yuli adalah penerima L’ORÉAL – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 kategori Engineering Sciences. “Saya melakukan riset terapi antikanker dengan ekstrak kunyit dan emas untuk mengurangi dosis frekuensi kemoterapi yang punya efek samping,” terang Yuli.

Sedangkan Sri Rahayu memandang semua tantangan sebagai peneliti perempuan adalah peluang mengembangkan diri. “Menjadi istri dan ibu bukan halangan tapi dukungan untuk mengembangkan diri,” ujar penemu dua spesies baru tanaman Hoya serta pemegang tiga paten Perlindungan Varietas Tanaman untuk Aeschynanthus soedjanakassan, Aeschynanthus mahligai, dan  Hoya kusnoto.



Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI ini mulai tertarik meneliti kekayaan hayati Indonesia saat duduk di bangku kuliah di Institut Pertanian Bogor. “Saya menyadari kekayaan alam Indonesia sangat besar. Apa yang kita makan, kita pakai, semuanya berasal dari alam,” ujar Sri.

Menurut Sri, Indonesia memiliki keragaman spesies tanaman Hoya mencapai 100 spesies dan menjadi yang tertinggi di dunia. “Sayangnya di sini belum dikenal luas, namun di Eropa jadi komoditas tanaman hias bernilai ekonomi untuk kastil-kastil bangsawan Eropa,” ungkapnya. Selain itu, Sri juga menambahkaan Hoya juga punya kemampuan menyerap racun dalam ruangan. (fza/ed: dig) 

 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati