Sinergi Hasil Riset dan Kebijakan Kunci Tingkatkan Produktivitas Ubi Kayu

 
 
Kabupaten Bogor, Humas LIPI. Jumlah produksi ubi kayu olahan di Indonesia saat ini masih belum mampu mengimbangi kebutuhan industri nasional. Dampaknya adalah kebutuhan ubi kayu olahan nasional masih bergantung pada impor. Sedangkan, pasokan ubi kayu olahan dari lokal cenderung menurun secara kualitas dan kuantitas.
 
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Enny Sudarmonowati mengungkapkan, kunci utama untuk menyelesaikan permasalahan produktivitas ubi kayu yang terus turun adalah adanya sinergi berbagai stakeholders. “Sinergi hasil riset dan kebijakan, begitu pula sebaliknya. Karena satu sama lain saling melengkapi,” ungkapnya dalam Workshop Peran Riset dan Kebijakan untuk Penguatan Rantai Nilai Ubi Kayu Indonesia, Kamis (7/9), di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
 
Dengan sinergi tersebut, maka faktor-faktor penyebab penurunan produksi ubi kayu bisa diatasi. “Misalnya, faktor yang menjadi penyebab ini adalah penurunan luas lahan yang berakibat pada jumlah produksi yang ikut turun. Apalagi, petani juga menanam ala kadarnya tanpa ada teknologi. Jadi, hasilnya tidak maksimal dan malah turun,” jelasnya.
 
Dengan sinergi, maka segala permasalahan bisa diurai dan dicarikan solusi. Lalu, sisi produktivitas juga bisa diangkat melalui hasil riset atau penggunaan teknologi. “Kami (LIPI, red) ingin angkat nilai tambah ubi kayu dengan teknologi agar harkat dan martabatnya terangkat. Thailand saja bisa, kenapa kita tidak?,” selorohnya.



Sebagai solusi agar ubi kayu memiliki kualitas meningkat dan tahan lama, Enny menjelaskan, pihaknya melalui Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI telah melakukan berbagai riset agar menghasilkan ubi kayu unggul. Salah satu ubi kayu hasil riset ini telah ditanam di Kalimantan Tengah pada lahan gambut. Dari penanaman ini ternyata berhasil dengan baik. Alhasil, adanya varietas ubi kayu yang bisa ditanam di gambut, maka memperluas potensi lahan penanaman.
 
Nilai Tambah
 
Bambang Sunarko, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menambahkan, pemanfaatan hasil-hasil riset dari satuan kerja yang dipimpinnya tentu memberi dampak positif dengan peningkatan nilai tambah ubi kayu. “Melalui workshop kali ini, kami berharap semua stakeholers bisa bertemu dan mencari solusi permasalahan ubi kayu di Indonesia,” ungkapnya.
 
Dengan pertemuan ini, maka peran serta akademisi, peneliti, praktisi, dan para pemangku kebijakan bisa saling berkolaborasi. Akhirnya, sinergi agar produksi, kualitas, dan daya saing ubi kayu meningkat segera terimplementasi.
 
Komarudin, Kepala Bidang Cadangan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian RI menuturkan, pihaknya mendukung sinergi antara LIPI dengan Badan Ketahanan Pangan. Melalui riset LIPI, dirinya berharap bisa menambah keuntungan para petani dan juga kualitas ubi kayu olahan.
 
Sementara terkait kegiatan workshop dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, dia mengharapkan bahwa kegiatan ini memberi solusi yang komprehensif. Artinya, solusi itu memberikan dampak nyata untuk mengangkat nilai ubi kayu sekaligus kesejahteraan petaninya.

Sebagai informasi, kegiatan workshop kali ini  diikuti oleh 130 peserta. Kegiatan itu merupakan bagian dari Open House Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI yang diselenggarakan pada 7-8 September 2017. Open house ini juga merupakan bagian dari Bioresource Science Week Fair. Kegiatan yang dipusatkan di Gedung Bioteknologi Peternakan kantor Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI ini diisi beragam kegiatan, seperti pameran hasil riset, pelatihan bidang bioteknologi, kunjungan laboratorium, demo etalase produk teknologi pertanian dan peternakan terpadu zero waste, serta rangkaian focus group discussion dan workshop kegiatan riset unggulan bioteknologi. (pwd)


Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati