Sugeng Tindak, Pak Umar

 
 
Yogyakarta, Humas LIPI. Kamis (26/1) subuh, keluarga besar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dikejutkan dengan sebuah pesan. Umar Anggara Jenie, Kepala LIPI periode 2002-2010 meninggal dunia dengan tenang di kediamannya di Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Pak Umar, begitu sosok kelahiran Solo, 22 Agustus 1950 ini akrab disapa, meninggalkan seorang istri, Titiek Setyanti, dan tiga orang anak, Siti Nurul Aisyiyah Jenie, Yazdi Ibrahim Jenie, dan Iffat Lamya Jenie. Dan tentunya sumbangsih besar dalam kehidupan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Lahir dari keluarga pendidik pasangan Nahar Jenie dan Isbandiyah yang berprofesi sebagai dokter, Pak Umar menunjukkan ketertarikan besar pada dunia riset sejak bangku Sekolah Menengah Atas terutama untuk bidang-bidang ilmu kimia. Tahun 1968, dirinya diterima di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.  Di UGM, Pak Umar semakin tekun dalam riset-riset kimia organik. Alih-alih meracik obat, Pak Umar justru memusatkan perhatian pada penelitian kimia dasar.

Selepas lulus di tahun 1975, Pak Umar kemudian bekerja di laboratorium Kimia Organik Fakultas Farmasi UGM. Pak Umar lalu pergi ke Australia untuk melanjutkan pendidikan. Gelar master diperolehnya dari University of New South Wales pada tahun 1982 sedangkan titel doktor berhasil digenggam dari Australian National University pada tahun 1988. Selama di Australia, Pak Umar giat dalam melakukan riset tentang sintesis produk alam untuk bahan baku obat.

Saat itu Fakultas Farmasi UGM sedang menginisiasi riset kurkumin, senyawa aktif yang terkandung dalam kunyit, kunir, temulawak, atau sejenis tanaman temu lainnya, yang idenya berawal dari Guru Besar Fakultas Farmasi Prof. Dr. RM Mochamad Samhoedi mulai tahun 1988.

Pada tahun 1996, penelitian laboratorium tentang kurkumin usai. Kebanyakan ilmuwan Indonesia akan berhenti pada tahap itu. Beruntung, Prof Samhoedi mempunyai Pak Umar yang gigih mempromosikan sintesis molekul kurkumin itu sehingga berhasil memperoleh 10 paten nasional dan satu dari Amerika Serikat. Tanggal 1 Januari 2000, Pak Umar dikukuhkan sebagai Guru Besar Kimia Medisinal Organik Fakultas Farmasi UGM.

Pemerintah Presiden Megawati Soekarnoputri kemudian memberikan kepercayaan kepada Pak Umar untuk memimpin LIPI sejak 27 September 2002. Pak Umar meletakkan dasar yang kuat dalam mengarusutamakan pentingnya ilmu pengetahuan, memperjuangkan etika keilmuan baik di tingkat nasional dan internasional serta sangat  aktif mengembangkan kerja sama internasional. Selain itu, Pak Umar juga menjadi motor yang membantu Kementerian Agama dalam menafsirkan ayat ilmiah Al Qur’an. Dirinya juga pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dalam pembinaan peneliti, Pak Umar aktif memfasilitasi peneliti muda di Lindau Nobel Laureate Meeting di Jerman sepanjang tahun 2004 sampai 2008. Pertemuan itu sangat prestisius karena mempertemukan para ilmuwan muda yang berumur kurang dari 40 tahun dari negara dunia berkembang dengan para tokoh peraih nobel bidang fisika, biologi dan kedokteran.

Pak Umar juga menjadi representasi Indonesia di Internasional Dialogue on Bioethics of European Group on Ethics of Sciences and New Technology (IDB-EGE) dan berperan aktif dalam Intergovernmental Bioethics Committee. Jasa Pak Umar yang lain adalah  membidani lahirnya Komisi Bioetika Nasional dan menjadi Ketua Komisi Bioetika Nasional selama kurun waktu 2009 hingga 2012.

Beberapa penghargaan yang diterima Pak Umar di antaranya adalah Bintang Jasa Utama Republik Indonesia pada tahun 2007 bersama saudara kembarnya, mendiang Said Djauharsjah Jenie, Kepala  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi periode 2006-2008, yang menjadikan keduanya sebagai kembar pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Pak Umar juga merupakan penerima penghargaan LIPI Sarwono Award IX tahun 2010 di bidang etika keilmuan. Terakhir,  Pak Umar merupakan satu di antara 14 tokoh nasional mendapatkan penghargaan dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Roy Sparringa, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan periode 2013-2016 mengungkapkan sosok Pak Umar sebagai sosok sederhana yang semasa hidupnya berdedikasi luar biasa kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Beliau mengunjungi & memompa semangat saya pada saat saya studi S3 tahun 1999 di Inggris,” ujarnya dalam cuitan Twitter-nya.

Sugeng tindak (selamat jalan), Pak Umar. Semoga segala amal ibadah dan sumbangsihmu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. (fza/ed: isr)
 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas S.IP., M.A.
Diakses : 947