Teknologi LIPI untuk Nilai Tambah Industri Logam Mineral Dalam Negeri

 
 
Serpong, Humas LIPI. Dolomit merupakan mineral yang berbasis karbonat yang terdiri dari campuran magnesium karbonat dan kalsium karbonat dengan kadar magnesium yang berbeda-beda. Saat ini pemanfaatan dolomit hanya digerus menjadi pupuk dolomit dengan nilai jual seharga Rp 1.000 per kg. Selain itu, dolomit dipotong menjadi bata untuk dijadikan bahan bangunan dengan harga jual yang juga sangat murah. “Dolomit, perlu diolah menjadi magnesium karbonat, yang merupakan bahan baku industri kertas dan farmasi. LIPI telah berhasil mengembangkan teknologi proses pengolahan mineral dolomit menjadi produk magnesium karbonat,” terang Eko Sulistiyono, peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dirinya menjelaskan, harga jual magnesium karbonat lebih tinggi dari harga dolomit.

M. Yunan Hasbi, peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI menyampaikan, Indonesia kaya akan bahan baku nikel untuk bahan baku baja laterit. “Saat ini LIPI telah melakukan pengembangan dan pemanfaatan baja laterit untuk menjawab tantangan pembangunan pada sistem konstruksi dan transportasi pada lingkungan darat dan pesisir,” ujarnya. Dirinya menjelaskan, melalui proses modifikasi sifat-sifat paduan baja dengan menonjolkan keunggulan nikel, terlihat adanya peningkatan sifat ketahanan impak, kekuatan menahan beban dan ketahanan korosi.

LIPI juga mengembangkan material biokompatibel untuk aplikasi implan tulang sesuai morfologi tubuh orang Indonesia. “Tingginya ketergantungan pada alat kesehatan impor serta ketidaksesuaian dengan bentuk dan ukuran tubuh Indonesia membuat dokter seringkali harus menyesuaikan implan pada saat tindakan operasi,” ujar Ikhlasul Amal dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI.

Untuk riset ini, LIPI bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo juga Fakultas Kedokterang Universitas Padjajaran dan Rumah Sakit Hasan Sadikin melakukan kegiatan penelitian terkait dengan implan penggganti tulang. “Kami melakukan implan sesuai permintaan pihak rumah sakit yang desainnya sudah dipersiapkan untuk tubuh masyarakat Indonesia,” jelas Amal.

Sementara guna meningkatkan ketahanan sudu turbin terhadap kegagalan dan untuk meningkatkan umur pakainya, LIPI mengembangkan baja tahan karat (stainless steel) 410 modifikasi yang memiliki sifat mekanik dan ketahanan korosi yang lebih baik dari baja tahan karat karat tipe 410 standar yang biasa digunakan untuk sudu turbin PLTU. “Baja 410 modifikasi ini dapat mensubstitusi baja 410 standar yang selama ini impor dari luar negeri’” ungkap Efendi, peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI.

Dirinya menernagkan, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau panas bumi, masih merupakan pilihan yang realistis untuk memenuhi kebutuhan listrik. “Akan tetapi, kegagalan pada sistem turbin PLTU seringkali terjadi terutama pada komponen sudu turbin yang merupakan komponen paling kritis pada sistem turbin,” tutupnya. (har, adl/ed: fz)
 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman M.Eng.
Diakses : 77