Terumbu Karang dan Padang Lamun Indonesia Masih dalam Kondisi Kurang Baik

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi merilis data terkini kondisi terumbu karang dan padang lamun di Indonesia. Data terbaru dari penelitian pada 2016 ini menunjukkan bahwa status terumbu karang masih didominasi kondisi jelek atau kurang baik. Begitu pula dengan padang lamun, kondisinya hampir 80% adalah kurang sehat.
 
Hasil verifikasi dan analisis data Tim Walidata Terumbu Karang Indonesia, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dari 108 lokasi dan 1.064 stasiun di seluruh perairan Indonesia dilaporkan bahwa sekitar 6,39% terumbu karang masih dalam kondisi sangat baik. Kemudian status terumbu karang dalam kondisi baik sebesar 23,40%, kondisi cukup sebesar 35,06% dan kondisi jelek sebesar 35,15%. Pengukuran kondisi tersebut didasarkan pada persentase tutupan karang hidup yaitu kategori sangat baik dengan tutupan 76-100%, baik (tutupan 51-75%), cukup (tutupan 26-50%) dan jelek (tutupan 0-25%).
 
Apabila dicermati lebih jauh lagi, kondisi terumbu karang di Indonesia mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi yang sama juga dialami oleh sejumlah negara lainnya. “Aktivitas manusia, perubahan iklim global, serta hama dan penyakit merupakan penyebab utama penurunan kondisi terumbu karang,” ujar Suharsono, peneliti senior dan juga ahli terumbu karang Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dalam kegiatan Penyampaian Status Terumbu Karang dan Padang Lamun Indonesia Tahun 2017 di LIPI Jakarta, Rabu (7/6).
 
Dikatakannya, sebaran terumbu karang Indonesia ditemukan mulai dari perairan Sabang sampai Merauke dengan konsentrasi sebaran tertinggi berada di bagian tengah dan timur perairan Indonesia meliputi perairan Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, Maluku dan sekaligus menjadi pusat segitiga keanekaragaman karang dunia (coral triangle).
 
Hasil pengukuran terkini melalui pemetaan citra satelit, luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 (COREMAP-CTI LIPI, 2016) atau sekitar 10% dari total terumbu karang dunia (luas 284.300 km2) dan penyumbang terbesar sekitar 34% dari luas terumbu karang di wilayah segitiga karang dunia (luas 73.000 km2). “Menjadi pusat segitiga karang dunia, Indonesia memiliki kekayaan jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia,” paparnya.
 
Suharsono menjelaskan lebih lanjut, perbedaan kondisi terumbu karang memiliki kaitan erat dengan kondisi lingkungan masing-masing wilayah. “Wilayah tengah dan timur kondisinya lebih baik karena merupakan jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) di mana arus yang berasal dari Pasifik membawa banyak larva dan kaya akan nutrien,” tuturnya. Hal ini akan membuat daerah-daerah yang dilalui mempunyai keanekaragaman yang tinggi dan kondisi habitat yang baik, imbuhnya.
 
Meskipun demikian, gangguan manusia terhadap terumbu karang sangat menentukan kondisi terumbu karang itu sendiri. Penggunaan alat tangkap yang merusak dan peningkatan pencemaran memperburuk kondisi terumbu karang. Frekwensi pemutihan karang yang semakin rapat juga menambah potensi ancaman pada kondisi terumbu karang. “Akibat kematian karang, biota penghuni karang seperti ikan kerapu pun ikut menghilang, padahal ikan kerapu nilai ekonominya cukup bagus,” ujar Suharsono.
 
Padang Lamun
 
Sementara itu untuk padang lamun, berdasarkan verifikasi yang dilakukan oleh Tim Walidata Lamun Indonesia dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Indonesia saat ini memiliki luas padang lamun sekitar 1.507 km2. Lamun sendiri merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang secara penuh beradaptasi pada lingkungan laut. Tumbuhan ini tumbuh pada berbagai macam substrat membentuk hamparan luas yang disebut padang lamun.
 
Secara ekologis, keberadaan padang lamun menciptakan ruang bagi banyak organisme untuk berkembang dan berinteraksi, membentuk satu kesatuan ekosistem di laut dangkal. Fungsi padang lamun sebagai produsen primer sumber makan herbivora perairan dangkal, habitat bagi berbagai macam organisme, menjaga kualitas air, penahan arus dan gelombang, dan juga sebagai pendaur zat hara.
 
Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Udhi Eko Hernawan menuturkan, penentuan kondisi padang lamun mengacu pada tutupan lamun yang ditetapkan pada KepMen LH No. 200 Tahun 2004 dengan kategori sehat untuk tutupan >60%, kurang sehat untuk tutupan 30-59,9%, dan tidak sehat untuk tutupan 0-29,9%. “Secara keseluruhan, rata-rata tutupan lamun yaitu 41,79%. Namun apabila dicermati lagi, hanya 5% yang tergolong sehat, sedangkan 80%nya kurang sehat dan 15% tidak sehat,” tuturnya.
 
Ancaman terhadap kondisi padang lamun sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Nutrien lebih cepat diserap oleh alga dan rumput laut. “Akibatnya, pertumbuhan alga lebih cepat dan mengalahkan lamun,” jelas Udhi.
 
Selain itu, kondisi padang lamun sangat rentan terhadap pengaruh sedimentasi. “Sedimentasi membuat keruh perairan dan menghalangi sinar matahari yang diperlukan lamun untuk berfotosintesis,” imbuhnya.
 
Sebagai langkah penyelamatan, transplantasi perlu dilakukan. Transplantasi dapat memulihkan padang lamun yang rusak serta menciptakan area baru. Kegiatan transplantasi lamun ini dapat dilakukan oleh masyarakat dan menjadi program eko-eduwisata.
 
Sebagai informasi, penyampaian status terumbu karang dan padang lamun ini merupakan tanggung jawab LIPI sebagai Wali Data Terumbu Karang dan Padang Lamun berdasarkan Keputusan Kepala Badan Informasi dan Geospasial No. 54 Tahun 2015. “Hal ini juga bentuk dukungan terhadap kebijakan One Map Policy. Data yang telah dirilis diharapkan dapat digunakan semua pihak dalam penyusunan kebijakan, upaya rehabilitasi, pengelolaan dan konservasi terumbu karang dan padang lamun,  serta dapat memberikan prediksi kondisinya di masa yang akan datang,” tutup Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah. (msa/ed: pwd)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Dirhamsyah M.A.