Tiga Inovasi Anak Bangsa Raih Medali Perak di Kompetisi Sains Internasional

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Pada penyelenggaraan Virtual International Exhibition for Young Inventor (IEYI) 2020, tiga inovasi dari perwakilan dari Indonesia berhasil memenangkan medali silver. Ketiga inovasi tersebut adalah (1) Nanoextractor, di kategori Food and Agriculture, oleh Faustina Amelia dan Imanuellenfa Tantiara dari SMA  Glory Regina Pacis, Bogor, (2) Volta Fork, di kategori Green Technology, oleh Marcelia Sekar Ageng Perdana dan Shabrina Azadirach Putri, SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah, Purwokerto, dan (3) SWAPS 1.0 (Smart Waste Plastic System), di kategori Green Technology, oleh Dyfany Aurariel Syahda dan Ninis Dyah Yulianingsih dari SMA 1, Kediri.

Nanoextractor merupakan alat yang berfungsi untuk mengekstraksi tanaman herbal. Awal mula penemuan alat ini adalah saat Faustina dan Imanuellenfa mengetahui sebuah tanaman yang dapat digunakan sebagai sabun.
 
Melihat peluang herbal di Indonesia yang melimpah, alih-alih hanya berhenti pada pembuatan suatu produk dari daun tersebut, keduanya memutuskan untuk membuat alat yang dapat mengeksplorasi potensi herbal Indonesia. Ide dan rancangan kasar keduanya kemudian dikembangkan menjadi mesin rumah tangga pengesktrak herbal yang diberi nama Nanoextractor.
 
Alat ini dapat dimanfaatkan secara praktis dan mudah dalam skala rumah tangga, tanpa harus mendalami bidang ekstraksi. Sedikit minyak esensial yang dihasilkan dari alat ini dapat dikembangkan menjadi sebuah produk seperti obat-obatan atau parfum dengan kualitas yang baik sehingga dapat menekan modal. Nanoextractor diharapkan juga bisa membantu masyarakat lokal untuk dapat memanfaatkan hasil bumi daerahnya dan membantu perekonomian masyarakat wilayah tersebut.
 
Pada kategori Green Technology, Marcelia Sekar dan Shabrina Azaridach mengembangkan alat yang diberi nama Volta Fork. Keduanya menaruh perhatian pada krisis energi global, tidak terkecuali Indonesia. Sehingga mereka mengembangkan inovasi Volta Fork sebagai alat pemanen energi listrik yang sederhana, terjangkau, dan ramah lingkungan.

Volta Fork dirancang untuk memanen energi listrik dari tanah merah menggunakan konsep elektroda. Volta Fork dipasang di lahan rumput yang ditanam di atas tanah merah sebagai media. Menggunakan batang tembaga dan zinc sebagai anode dan cathode, Volta Fork memancing energi dari tanah merah. Energi ini kemudian disimpan di dalam baterai untuk dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Keduanya berharap alat ini dapat memecahkan masalah krisis energi global, dengan memanen energi dari media alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber energi lain, seperti fosil yang keberadaannya kian langka.
Sedangkan Dyfani Aurariel dan Ninis Dyah mengembangkan SWAPS 1.0 (Smart Waste Plastic System). Inovasi penemuan SWAPS 1.0 didasari atas kepedulian keduanya pada isu sampah plastik yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak dibuang secara benar.
 
Inovasi keduanya ini merupakan alat yang dirancang untuk memancing kebiasaan membuang sampah plastik pada tempat yang sesuai. Konsep dari inovasi mereka adalah dengan menukar sampah plastik dengan rewards berupa poin atau saldo uang.

Alat berbasis sensor ini akan membaca jumlah sampah plastik yang dibuang ke dalam SWAPS 1.0. Selanjutnya, SWAPS 1.0 akan memberikan nota dengan kode batang (barcode) dan jumlah reward yang didapatkan sesuai dengan jumlah sampah plastik yang dibuang.  Karena terkoneksi dengan ponsel pintar, pengguna dapat memindai barcode tersebut sehingga rewards dapat langsung ditransfer ke dompet elektronik pengguna.

Pada ajang IEYI 2020, perwakilan Indonesia juga memenangkan satu emas, dan dua perunggu. Keenam pemenang tersebut sebelumnya adalah pemenang National Young Inventor Awards (NYIA) 2019 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (sr/ed:drs)


Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 450