Tiga Rekomendasi Kebijakan untuk Atasi Tumbuhan Asing Invasif di Pulau Sempu

 
 
Purwodadi, Humas LIPI. Salah satu permasalahan global saat ini adalah ancaman munculnya jenis-jenis tumbuhan asing invasif. Masuknya berbagai jenis tumbuhan asing tersebut dengan cepat mendominasi suatu kawasan. Akibatnya, tumbuhan invasif berpotensi merusak ekosistem dan biodiversitas flora pulau kecil yang sangat rentan, salah satunya adalah Cagar Alam Pulau Sempu di kawasan Jawa Timur.
 
Melihat permasalahan tumbuhan asing invasif di Pulau Sempu ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya Purwodadi telah melakukan penelitian untuk memberi solusinya. Setidaknya ada tiga rekomendasi kebijakan untuk menekan penyebaran jenis tumbuhan asing invasif.
 
Rekomendasi pertama adalah bukaan lahan seperti pembuatan jalan setapak untuk pengunjung di Pulau Sempu agar sebaiknya diminimalisir. Kedua, pihak pengelola Pulau Sempu agar memberikan penyuluhan tentang tumbuhan asing invasif terhadap pemandu lokal yang menjadi mitra konservasi dan para pengunjung.
 
Dan ketiga, monitoring terhadap jenis-jenis tumbuhan asing invasif agar dilakukan lebih intensif. Monitoring ini sebaiknya dilakukan di area atau jalur yang sering dilewati oleh masyarakat seperti area Segara Anakan dan pantai bagian barat.
 
LIPI pun memberikan rekomendasi kebijakan tersebut kepada para stakeholder  terkait, utamanya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Timur melalui kegiatan diseminasi hasil penelitian “Diversitas Flora Pulau Sempu” di BBKSDA Timur pada Rabu (22/11).
 
Dalam kegiatan tersebut, Ridesti Rindyastuti, peneliti BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI mengungkapkan bahwa berbagai jenis tumbuhan asing invasif di Pulau Sempu diduga muncul karena bukaan lahan akibat kunjungan masyarakat dan introduksi oleh manusia. “Temuan ini didasarkan pada hasil kajian yang menangkap korelasi antara lokasi ditemukannya jenis tumbuhan asing invasif dengan kemelimpahan jenis tersebut,” ungkap Ridesti.
 
Kemelimpahan tertinggi populasi jenis tumbuhan asing invasif ditemukan di area Gladakan dan Segara Anakan yang merupakan lokasi yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat.  Selain itu, kawasan Telogo Lele dan Telogo Dowo ditemukan jenis tumbuhan asing invasif yang berhabitus herba akuatik yaitu Enceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan Teratai Putih (Nymphaea alba), yang diduga diintroduksi oleh manusia sebagai sumber datangnya invasi.


 
15 Jenis Invasif
 
Untuk diketahui, berdasarkan penelitian yang dilakukan dari 2015 hingga 2017, Tim Peneliti BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI menemukan 15 jenis tumbuhan asing invasif pada delapan lokasi di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu. Kelima belas jenis tersebut terdiri atas lima jenis semak, lima jenis herba, satu jenis herba merambat, tiga jenis herba akuatik dan satu jenis pohon.
 
Delapan lokasi dimana ditemukannya jenis-jenis tumbuhan asing invasif merupakan lokasi yang cukup sering dikunjungi. Lokasi ini antara lain Segara Anakan, Pantai Baru-baru, Teluk Pandan, Geladakan, Pantai Selatan, Pelawangan, Telogo Lele dan Telogo Dowo.
 
Berdasarkan kajian, lima jenis tumbuhan asing invasif yang ditemukan di Pulau Sempu termasuk ke dalam daftar 100 jenis organisme invasif paling berbahaya di dunia. Kelimanya yaitu Kirinyuh (Chromolaena odorata), Alang-alang (Imperata cylindrica), Kembang Telekan (Lantana camara), Kecrutan (Spathodea campanulata), dan Enceng Gondok (Eichhornia crassipes).
 
 
Empat jenis termasuk ke dalam 10 jenis gulma yang paling sulit dikendalikan di dunia. Keempat jenis itu adalah Rumput Teki (Cyperus rotundus), Rumput Belulang (Eleusine indica), Alang-alang (Imperata cylindrica), dan Enceng gondok (Eichhornia crassipes).
 
Tak hanya itu, Chromolaena odorata dan Lantana camara merupakan dua jenis tumbuhan asing invasif yang perlu mendapat perhatian khusus. “Di habitat lain, kedua jenis ini sukses menginvasi suatu area dan menimbulkan perubahan ekosistem yang signifikan, seperti di Hutan Himalaya Barat, India,” kata Ridesti.
 
Ilham Kurnia Abywijaya, peneliti BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI, menjelaskan bahwa potensi penyebaran tumbuhan asing invasif melalui pendekatan jalur jelajah di Pulau Sempu disebabkan oleh adanya bukaan lahan. “Saat jalur jalan setapak ke Segara Anakan semakin melebar dan banyak yang melaluinya, maka penyebarannya akan melimpah di sekitar jalur tersebut,” tuturnya.
 
Sifat Oportunis
 
Di sisi lain, peneliti BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI lainnya, Lia Hapsari, melihat tumbuhan asing invasif merupakan tumbuhan yang bersifat opportunistic (oportunis). Tumbuhan itu mampu tumbuh di berbagai tempat dengan kondisi yang sangat berbeda dengan habitat aslinya dan sangat kuat dalam bertahan hidup pada kondisi yang ekstrim sekalipun.
 
“Cara perbanyakannya juga sangat efisien baik secara vegetatif dan generatif, sehingga persebarannya sangat cepat dan luas. Oleh karena itu, upaya penanganan dan pengendaliannya  membutuhkan perhatian yang serius,” tekannya.
 
Kepala Sub Bidang Teknis BBKSDA Provinsi Jawa Timur, Indri Faulina menuturkan bahwa ancaman terkait keberadaan tumbuhan asing invasif memang menjadi permasalahan di berbagai kawasan konservasi khususnya di Jawa Timur. “Untuk itu, harus segera mendapatkan perhatian dan penanganan sebelum terlambat,” katanya.
 
Keberadaan payung hukum atau peraturan terkait pencegahan masuknya jenis tumbuhan asing yang berpotensi menjadi invasif, serta peraturan yang mendukung pengelolaan jenis asing invasif mendesak segera diterbitkan.  “Hal itu agar proses penanganan tumbuhan asing invasif bisa berlangsung dengan tepat dan baik,” tutupnya.
 
Sebagai informasi, Pulau Sempu merupakan pulau kecil yang terletak di sisi selatan Pulau Jawa, dengan luas sekitar 877 Hektar. Pulau Sempu digolongkan ke dalam pulau kecil, bahkan digolongkan sebagai pulau sangat kecil dalam kategori lain.


 
Namun, Pulau Sempu menyimpan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang bernilai bagi kehidupan dan ilmu pengetahuan sebagai kawasan konservasi. Pulau ini merupakan miniatur ekosistem Pulau Jawa yang tersisa, sehingga perlu dipertahankan fungsi konservasinya. (BKT Kebun Raya Purwodadi, pwd)

Sumber foto: BKT Kebun Raya Purwodadi
 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI diolah dari BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI

Sivitas Terkait : Ridesti Rindyastuti S.Si.