WISELAND, Solusi LIPI Atasi Ancaman Tanah Longsor

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Bencana tanah longsor merupakan bencana yang kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian besar peristiwa tersebut umumnya terjadi pada musim hujan dan terkait dengan curah hujan yang tinggi. Salah satu contohnya adalah bencana tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur pada Sabtu (1/4) lalu.
 
Bila menilik kejadian bencana longsor di Ponorogo dan berbagai bencana longsor lainnya, tentu kita turut berduka dan prihatin. Selain itu, perlu ada solusi untuk mencegah kejadian bencana serupa tidak terjadi lagi, salah satunya lewat pengembangan teknologi.
 
Terkait dengan hal itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian dan pengembangan instrumentasi pemantau serta metode pengontrol bahaya gerakan tanah atau tanah longsor. Salah satu hasil teknologi LIPI ini adalah Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND).
 
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim peneliti LIPI yang dipimpin oleh  Adrin Tohari, peneliti dari Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi. WISELAND merupakan suatu sistem pemantauan bahaya gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel.
 
“Tujuan dari pengembangan WISELAND adalah untuk menyediakan teknologi pemantauan gerakan tanah yang lebih efektif dan handal dalam memantau dan memberikan peringatan dini ancaman berbagai jenis gerakan tanah di daerah yang luas,” terang Adrin belum lama ini. Teknologi ini dapat digunakan untuk memantau bahaya gerakan tanah dalam maupun dangkal,  baik pada lereng alami, potongan maupun timbunan.
 
Melalui teknologi sistem pemantauan gerakan tanah ini, maka masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana longsor dapat melakukan evakuasi dini. Selain itu, sistem pemantauan gerakan tersebut juga bermanfaat untuk meminimalisasi risiko bencana gerakan tanah karena data pemantauan ancaman gerakan tanah ini bisa diakses secara online melalui website WISELAND.
 
Aplikasi
 
Adrin melanjutkan, WISELAND telah diaplikasikan dan dipasang di dua lokasi rawan gerakan tanah, yaitu Kampung Sidamukti dan Kampung Babakan Salam, Desa Pangalengan, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, Jawa Barat dan di ruas tol Cipularang Km 100 arah Jakarta di Desa Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
 
Bila melihat ke belakang, WISELAND ini telah dikembangkan sejak 2015 dan mengalami berbagai penyempurnaan hingga kini. “Prototipe alat ini mulai diujicobakan di Desa Pangalengan sejak November 2015  dan di lokasi tol Cipularang, Desa Darangdan sejak November 2016,” terang Adrin.
 
Pada proses pemasangan prototipe di desa Pangalengan, Tim Peneliti LIPI bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung dan masyarakat Desa Pangalengan. Sedangkan pemasangan WISELAND tol Cipularang, Tim Peneliti LIPI bekerjasama dengan pihak PT. Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, Bandung, Jawa Barat.
 
Dijelaskan Adrin, sistem pemantauan gerakan tanah ini berfungsi untuk merekam dan mengirimkan data perubahan kondisi hidrologi dan pergerakan lereng di daerah potensi gerakan tanah secara real time. Sistem ini terdiri dari satu unit gateway, empat unit modul sensor tiltmeter, empat unit modul ekstensometer, empat unit modul sensor kadar air dan tekanan air pori tanah, serta satu unit alat takar hujan serta sistem alarm. 
 
WISELAND bekerja dengan cara menggunakan teknologi komunikasi nirkabel berbasis Xbee, sehingga setiap modul sensor berkomunikasi satu sama lain dan juga berkomunikasi langsung dengan gateway.
 
Keunggulan
 
Menurut Adrin, teknologi WISELAND ke depan akan dikembangkan dalam dua tipe, yakni stationery dan mobile type. Dan dari sisi kelebihan, alat pendeteksi gerakan tanah ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain sederhana, praktis dan handal.
 
Alat ini dikatakan sederhana karena berbasis jejaring sensor nirkabel dengan menggunakan baterai dan solar panel. Praktis karena alat tersebut dapat menjangkau daerah yang luas yang dapat diakses melalui jaringan lokal dan global dengan menggunakan kabel LAN, WLAN, dan mobile 3G. Selain itu, alat ini diklaim handal karena kemampuannya menyajikan data riil berdasarkan komunikasi antar jejaring sensor yang bekerja.
 
Ditambahkan Adrin, membangun sistem peringatan dini untuk bencana longsor sangat memungkinkan dengan bantuan alat tersebut. “Alat ini diharapkan bermanfaat untuk masyarakat dan meminimalisir kerugian yang ditimbulkan akibat pergeseran tanah sekaligus nantinya bisa lebih luas diaplikasikan di daerah rawan pergerakan tanah di seluruh Indonesia,” tutupnya. (lyr,pwd/ed:isr)

 

Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Adrin Tohari