Yang Tertekan Akibat Kebakaran Hutan

 
 
Cibinong, Humas LIPI. Kebakaran hutan yang terjadi di pulau Sumatera dan Kalimantan beberapa waktu berdampak serius pada peran ekosistem, keanekaragaman hayati, serta jasa lingkungannya. Tercatat ada  9.956 jumlah total jenis tumbuhan di Kalimantan dan 8.931 jenis di Sumatera, dengan jumlah tumbuhan endemik sebanyak 3.936 di Kalimantan dan 1.891 di Sumatera. 

Nilai total jenis tumbuhan di kedua pulau tersebut berkisar 43 sampai  53 persen  dari total jenis tumbuhan yang tercatat di Indonesia. Sedangkan jumlah total  fauna yang tercatat di Kalimantan sebesar 7.683 spesies dan di Sumatera sebanyak 4.546 spesies.

Tipe ekosistem wilayah Sumatera dan Kalimantan merentang dari ekosistem laut, air tawar, pantai, dan daratan. Daratan Kalimantan dan Sumatera sendiri terdiri dari berbagai jenis hutan seperti  hutan gambut, kerangas, karst, endapan, rawa dan lainnya yang masing-masing mempunyai ciri khas.

Hutan yang umum dijumpai di Sumatera dan Kalimantan adalah hutan dataran rendah Dipterokarpa yang tumbuhan penyusunannya adalah jenis tumbuhan dari famili Dipterocarpacea seperti keruing (Dipterocarpus spp.), meranti (Shorea spp.), dan kamper (Dryobalanops spp.). Tipe hutan ini ditemukan hingga Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Saat ini tercatat sedikitnya 371 jenis Dipterocarpacea dengan konsentrasi persebaran tertinggi ada di Kalimantan. Sebanyak 50 persen  atau 199 jenis Dipterocarpacea ditemukan di Kalimantan dan 103 jenis tersebar Sumatera. Marga tumbuhannya meliputi Anisoptera, Balanocarpus, Cotylelobium, Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Parashorea, Shorea, Upuna, dan Vatica.

Dampak kebakaran hutan
Terjadinya kebakaran hutan tentu berpengaruh besar pada kelestarian dan kekayaan keanekaragaman hayati di  Sumatera dan Kalimantan. Tercatat 90 persen jumlah pohon per hektar atau mencapai 240 pohon mati akibat kebakaran hutan di Kalimantan pada tahun 1998, tetapi jumlah tersebut tentu saja bergantung kepada tingkat kebakarannya.



Mengacu pada kejadian kebakaran hutan di tahun 1998 dan 2015, kebakaran hutan yang terjadi di tahun ini berpotensi menyebabkan 95 persen jenis tumbuhan terbakar dan mengalami kekeringan. Lokasi yang terbakar menyebabkan terbukanya kondisi lahan sehingga menyebabkan lahan langsung terpapar matahari dan menurunkan fungsinya sebagai  penyedia unsur hara bagi tumbuhan di atasnya untuk regenerasi hutan. Tingkat kebakaran yang besar juga berdampak hilangnya sumber sumber biji yang diharapkan akan tumbuh kembali di musim hujan dan menjadi sumber pengkayaan keanekaragaman hayati  di wilayah tersebut.

Setelah dua sampai tiga tahun, jenis paku-pakuan serta tumbuhan pionir lainnnya mulai muncul di beberapa titik lokasi kebakaran hutan. Tumbuhan tersebut seperti tumih (Combretocarpus rotundatus), gerunggang (Cratoxylum arborescens (Vahl.), dan lainnya. Jenis tersebut merupakan jenis yang asli rawa gambut tergenang sampai cenderung kering dan berpasir kuarsa. Tunggul pohon yang terbakar belum memperlihatkan terubusnya, yang kemungkinan disebabkan tingginya tingkat kebakaran hutan. (ed: fz)
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Joeni Setijo Rahajoe
Diakses : 533