Alat Dapur Limbah Kayu ke Mancanegara

 
 

Siapa yang menyangka, meski hanya mengenyam pendidikan hingga kelas tiga sekolah dasar, Supomo (45), pemilik Usaha Bersama (UD) Aren Jaya, kini memiliki lebih dari 50 karyawan atau pekerja. Usaha yang dirintisnya sejak tahun 2000 itu mengolah limbah kayu aren menjadi perabot dapur akhirnya bisa menembus pasar internasional.

Warga Desa Balung Kulon, Balung, Jember Jawa Timur, ini menuai manfaat dan kesuksesan dari mediasi teknologi hasil kerja sama Politeknik Negeri Jember dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui program Kelompok Intermediasi Alih Teknologi (KIAT).

Limbah kayu aren yang dulu hanya dibuat kayu bakar untuk pembuatan aspal dan batu bata merah itu kini menjadi perabot rumah tangga yang bernilai jual tinggi. Apa lagi, kata Supomo, saat masalah keterbatasan teknologi telah terjawab atas bantuan mediasi Politeknik Negeri Jember dan LIPI sejak tahun 2010.

Bantuan dalam bentuk peralatan canggih itu membutuhkan produksi lebih cepat. Dulu, kami hanya mengandalkan gergaji kuno yang mesti disewa, dan barang sewaan baru datang seminggu setelah dipesan tutur Supomo, di Jember, pekan lalu.

Mengandalkan bahan baku aren dari Tasikmalaya dan tingginya permintaan sagu untuk pembuatan mie putih, kini harga per batang berukuran 20x75 cm mencapai Rp. 6.000 Rp.8.000, karena pengepul tahu limbah kayu aren dapat diolah. Bekas penarik becak ini mengaku, ketika mulai merintis usahanya, harga per batang kayu dengan ukuran yang sama hanya Rp. 400.

Dia menyadari, jaringan pemasaran yang sudah diraihnya harus dijaga dengan baik. Kemudahan teknologi yang didapatnya memuluskan usahanya meski harga bahan baku terus merangkak naik.

Angsuran permodalan teknologi yang diberikan sangat ringan. Ketika saya meminjam uang di bank, saya tidak bisa tidur karena memikirkan bunganya ucap Supomo.

Berkaitan dengan itu, staf sekretariat Program Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Daerah (Iptekda) LIPI Suradi menjelaskan, program pengembangan teknologi dan pengabdian masyarakat yang bekerja sama dengan perguruan tinggi ini sudah berjalan sejak tahun1998, ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi. Suradi memaparkan Iptekda sudah tersebar di 30 provinsi, dan hanya tiga yang belum tersentuh, yakni Gorontalo, Kalimantan Tengah, dan Papua. Sampai saat ini, telah terselenggara 759 kegiatan, dan telah berhasil membina 6.290 usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Omzet Rp 70 Juta

Sebagai UKM, dengan bangga Supomo memaparkan, omzet usahanya per bulan mencapai Rp 70 juta, yakni dari hasil penjualan cobek, sendok, mangkok, nampan gelas, sendok nasi, tempat bumbu, sampai hiasan berupa gelang dan kalung. Harganya bervariasi dari Rp. 1.500 sampai Rp. 15.000 per buah.

Dia menceritakan, setelah menggunakan peralatan teknologi Politeknik Negeri Jember berupa mesin gergaji potong asalan, gergaji pita, mesin rotary sender, bubut kayu, serta teknologi pelapisan kayu dan finishing senilai Rp 163 juta, hasil produksi dalam 1 bulan mencapai tujuh truk, dari sebelumnya hanya tiga truk. Sebelumnya, UKM Supomo hanya mengandalkan gergaji manual, bor duduk, bor tangan, mesin gerinda, peralatan cat, dan rak penyimpangan.

Barang-barang sulapan limbah itu, selain dipasarkan di dalam negeri, seperti Medan, Samarinda, dan Banjarmasin, juga sampai ke Malaysia, Korea, hingga Hawaii. Limbah kayu aren hingga saat ini masih menjadi andalan, seratnya yang eksotik menjadi daya tarik perabot dapur yang tergolong unik ini.

Supomo menjelaskan, untuk mengolah limbah kayu aren, terlebih dahulu kayu aren dikeringkan cukup dengan diangin-anginkan. Setelah itu, digambari sesuai bentuk perabot yang diinginkan, kemudian digergaji atau dilubangi untuk mendapatkan permukaan yang lebih cekung. Pada proses akhirnya, barang yang hampir jadi dihaluskan hingga motif serat kayunya muncul, ujarnya.

Namun ada pula gangguannya. Meski teknologi percepatan produksi sudah terjawab, serangan kutu kayu kerap mengancam. Dia menyiasatinya dengan memproduksi dan mendistribusikan pesanan perabot dapur itu secepat mungkin sampai ke tangan para pemesan. Jika barang sampai ke tangan pemesan dan cepat dipakai lalu terkena air ketika dicuci, justru dengan sendirinya mengusir kutu kayu. Teknologi fumigasi tentu saja tidak diinginkan, karena perabot itu bakal digunakan sebagai wadah atau tempat makanan, ucapnya.

Koordinator Pelaksana Iptekda dari Politeknik Negeri Jember mediator KIAT UD Aren Jaya Sumadi mengatakan, langkah mediasi institusinya dengan LIPI diharapkan bisa memperkuat UKM lainnya juga membutuhkan desiminasi teknologi. [R-15]

Suara Pembaruan

Kamis, 7 April 2011



Sivitas Terkait : Suradi

Diakses : 3719