Anggrek Alam Indonesia Terancam Kepunahan

 
 

Pembalakan liar, degradasi, dan konversi lahan semakin mengancam 4.500 spesies anggrek alam Indonesia yang hingga kini belum terkonservasi. Menurut Peneliti Anggrek Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor (PKT KRB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Soffi Mursidawati, anggrek alam lebih eksotis ketimbang anggrek hasil persilangan (hybrid orchid).

Tercatat ada lebih dari 5.000 jenis spesies anggrek alam di Indonesia. Angka itu, ujar Soffi, merupakan 30 persen dari total spesies anggrek alam di dunia atau setara jumlah spesies di hutan Amazon, Brasil. Australia yang wilayahnya lebih luas daripada Indonesia hanya memiliki 450 jenis spesies anggrek alam.

Namun sayangnya,baru sekitar 500 jenis spesies anggrek alam Indonesia yang sudah terkonservasi di PKT KRB LIPI. Sisanya, hingga saat ini, itu belum terkonservasi. Padahal, anggrek yang tumbuh di hutan dan pegunungan di seluruh Indonesia mulai tumbuh di tanah, jurang, hingga pepohonan kini terancam punah. Pasalnya, hutan sebagai lokasi di mana ekosistem, termasuk anggrek di dalamnya itu tinggal, kini telah rusak akibat kebakaran, pembalakan liar, dan konversi lahan.

Saat ini, yang baru bisa kami konservasi sekitar 500 jenis spesies. Ini semua karena keterbatasan tempat serta lokasi PKT KRB yang memang tidak mungkin cocok untuk semua jenis anggrek alam di Indonesia, paparnya.

Padahal, ujar Soffi, kelestarian berbagai jenis anggrek alam yang tersebar di sejumlah tempat di Tanah Air sangat bergantung pada kelestarian di mana anggrek itu tinggal. Meskipun dilakukan upaya pengembalian spesies anggrek ke habitatnya, semuanya hanya akan berbuah kesia-siaan apabila alam di mana anggrek itu tinggal tidak terjaga baik.

Beberapa versi catatan lainnya mengungkapkan bahwa tumbuhan yang termasuk dalam famili orchidaceae ini dilaporkan memiliki 800 genus dan lebih dari 50.000 jenis spesies di seluruh dunia. Beberapa genus yang dikenal secara komersial adalah dendrobium, phalaenopsis, arachnis, cymbidium, cattleya, vanda, serta kerabatnya. Kecuali catttleya, seluruh genus tersebut mempunyai daerah penyebaran di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Padahal, untuk mengembalikan anggrek alam ini ke habitatnya amatlah sulit untuk diwujudkan. Menurut dia,Australia membutuhkan waktu belasan tahun untuk mengembalikan anggrek alam mereka kembali berbunga di alam bebas di mana anggrek itu dulunya tinggal. Ini tentu butuh ketelatenan, komitmen kuat, serta biaya tidak sedikit. Untuk ukuran Indonesia, dengan angka penggundulan hutan yang begitu cepat,tentu akan sulit diwujudkan.

Bahkan, ujar Soffi, anggrek yang merupakan salah satu aset kebanggaan Singapura, indukannya merupakan spesies dari Indonesia.Namun sayangnya, Singapura telah menyadari potensi aset anggrek ini semenjak 50 tahun silam. Karena itu, teknologi yang dikembangkan Negeri Kepala Singa itu telah mencapai tahap kemapanan dengan mengekspor bunga anggrek ke seluruh penjuru dunia.

Beberapa spesies anggrek Indonesia yang sudah lazim dikenal untuk dipasarkan secara komersial di antaranya, phalaenopsis dan paphiopedilum. Semua jenis anggrek dendrobium yang bunga potongnya memiliki nilai amat komersial, apabila ditelusuri dengan saksama, ternyata induknya dari Indonesia, kecuali D taurianum yang berasal dari Filipina.

Jenis dendrobium ini kebanyakan terdapat di Kep Maluku dan Papua. Soffi menambahkan, Indonesia amat kaya akan keragaman anggrek, mulai yang besarnya hanya seujung pulpen hingga anggrek raksasa dengan berat mencapai 1 ton yang memiliki nama latin genus grammatophyllum. Selain itu,Tanah Air juga memiliki bunga anggrek berbau harum semerbak hingga yang berbau bangkai.

Beberapa genus lainnya,yakni genus aerides, appendicula,bulbophyllum, calanthe, cleisostoma, coelogyne, cymbidium, eria, flickingeria, grammatophyllum, liparis, luisia, malleola, paraphalaenopsis, pholidota pomatocalpa, spathoglottis, taeniophyllum, thrixspermum, trichoglottis, vanda, dan lain-lain.

Untuk jenis anggrek raksasa grammatophyllum yang banyak tumbuh hidup di Pulau Jawa itu, misalnya. Proses pematangannya membutuhkan waktu sekitar 17 tahun hingga berbunga. Memang untuk mencapai berat 1 ton itu membutuhkan waktu lama. Jika hutannya cepat sekali penggundulannya, ya lama-lama anggrek ini akan punah, paparnya.

Menurut dia,paling tidak membutuhkan waktu 20 tahun untuk satu spesies bisa hidup di habitat aslinya kembali tanpa diganggu dan dirusak oleh ulah tangan manusia. Namun, kenyataannya, itu memang sulit diwujudkan di Indonesia. Soffi amat menyetujui diberlakukannya moratorium bagi hutan-hutan di Indonesia untuk berhenti sejenak dari penebangan dan dikonservasi kembali biar utuh seperti sedia kala.

Sebab, hanya itulah satu-satunya cara yang bisa mengembalikan ekosistem tidak hanya anggrek, juga seluruh keanekaragaman hayati di Indonesia. Meskipun tidak ingin dikatakan sebagai sebuah kepesimisan, apabila upaya konservasi tidak segera kunjung dilaksanakan secara jangka panjang, status kepunahan tentu tidak hanya melekat pada spesies anggrek alam dalam negeri, juga spesies flora dan fauna lainnya.

Hingga saat ini,memang minat masyarakat kepada anggrek alam atau yang sering disebut sebagai anggrek spesies belumlah terlalu banyak.Alasannya mulai yang teknologi budi dayanya yang belum modern dan untuk menjadi berbunga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Hingga saat ini, jarang pengusaha yang mau berinvestasi untuk ikut membudidayakan anggrek alam ini karena masih mahal, paparnya.

Namun, kini Soffi beserta teman- teman peneliti satu tim di PRT KRB mulai mengembangkan penelitian bagaimana anggrek alam memiliki kualitas kepraktisan dan ekonomis seperti layaknya anggrek hasil silangan (hybrid). Keunggulan anggrek alam yang memiliki karakter lebih eksotis menjadi daya pikat tersendiri.

Jika budi dayanya menjadi lebih mudah dan cepat, tentu tidak hanya kalangan peneliti dan pihak yang peduli dengan alam anggrek yang akan merawat anggrek ini, kalangan pengusaha dan masyarakat umum pun bisa jadi akan mulai melirik untuk membudidayakan anggrek alam.

Jika hal itu bisa diwujudkan, PRT KRB maupun kalangan peneliti anggrek tidak akan lagi terlalu repot.Pasalnya, setiap lapisan masyarakat bersama-sama memperhatikan dan membudidayakan anggrek alam sehingga terhindar dari kepunahan. Teknologi yang dikembangkan tidak lagi pengawinan bunga, tapi sudah perkawinan sel.

Selama ini,masyarakat jarang memperhatikan anggrek alam karena belum kenal saja. Namun, apabila mereka mulai mengenal anggrek milik merek sendiri yang eksotis, tentu mereka akan menyayanginya. Untuk itulah, kami mencoba melakukan penelitian agar anggrek alam Indonesia tetap eksotis, tapi penanamannya bisa semudah anggrek silangan.Meskipun sudah menjadi tugas kami untuk tetap menjaga spesies anggrek yang kami konservasi adalah genuine, bukan hasil silangan, tandasnya. (abdul malik)

Sumber : Seputar Indonesia (23 Oktober 2007)

Diakses : 340