Keluarga Jadi Kunci Memutus Mata Rantai Terorisme

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Serangkaian peristiwa penyerangan teroris yang terjadi baru-baru ini seperti penyerangan Rutan Mako Brimob, peledakan bom di tiga gereja dan Markas Kepolisian Kota Besar di Surabaya, serta penyerangan Markas Kepolisian Daerah Riau, menunjukkan mata rantai gerakan terorisme belum benar-benar terputus. “Ada peningkatan kekerasan yang terjadi di masyarakat terkait isu keagamaan,” ujar peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Pamungkas dalam Diskusi Publik “Memutus Mata Rantai Terorisme” pada Kamis (17/5) di Jakarta.

Cahyo menjelaskan, temuan tersebut berdasarkan survei yang dilakukan secara random kepada mahasiswa pada tahun 2017 lalu. “Sebanyak 58,5 persen mahasiswa punya pandangan radikal, sedangkan 51 persen mahasiswa memiliki anggapan intoleran,” ujar Cahyo. Pihaknya merekomendasikan agar pihak kampus sebaiknya mengelola kegiatan kerohanian Islam dan pengelolaan masjid dengan mengedepankan nilai Islam sebagai agama yang rahmatan lil’ alamin.

Keluarga dinilai menjadi kunci penting untuk memutus terorisme. “Berkembangnya ideologi terorisme di masyarakat luas karena gerakan gagasan atau ide radikalisme seringkali terjadi melalui keluarga teroris,” jelasnya. Menurut Cahyo, penyelesaian dengan  pendekatan keamanan saja tidak akan mampu memutus mata rantai terorisme yang telah menyebar luas ke berbagai sendi kehidupan masyarakat,” ungkapnya.

Senada dengan Cahyo Pamungkas, Ali Fauzi Manzi, mantan anggota teroris, menyebut adanya radikaliasi di usia dini yang ditanamkan di tataran keluarga. “Terorisme saat ini mengincar keluarga karena memang jaringannya bisa lebih aman dan mudah dipengaruhi. Istri cenderung patuh dan mudah dipengaruhi oleh suami yang telah menganut paham terorisme," ungkap Ali yang kini menjadi praktisi pencegahan radikalisme dan terorisme.

Ali, yang juga adik terpidana kasus bom Bali Amrozi dan Ali Imron, mengatakan, peristiwa pengeboman di tiga gereja di Surabaya memiliki kaitan dengan generasi terorisme bom Bali I pada 2002. "Salah satu pelaku adalah keponakan salah satu narapidana teroris bom Bali I. Inilah bukti bahwa adanya hubungan antara generasi lama dan generasi baru teroris. Teroris melahirkan teroris," ungkapnya.

Dirinya juga menyayangkan masih adanya pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kejadian pengeboman di Indonesia hanya rekayasa. "Ini bukanlah rekayasa, pengalihan isu atau unsur politik ini murni terorisme yang mulai bergejolak di Indonesia. Ini murni dari orang yang mau negara kita tercerai berai. Kita harus waspada dengan pola pikir seperti ini," tutupnya. (lyr/ed: fza, dig)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Cahyo Pamungkas S.E., M.Si.