Keunggulan Varietas Kedelai Lokal

 
 

Tanpa tahu, tempe, dan kecap, pasti banyak orang di negeri ini merasa kehilangan. Tak heran karena makanan itu sudah dikonsumsi turun-temurun. Pola makan itu kini menjadi masalah nasional karena kedelai sebagai bahan bakunya ternyata 60 persen lebih masih diimpor dan harganya terus melambung.

Menekan bahkan melepaskan dependensi itu sebenarnya dapat dilakukan dengan mengembangkan budidaya varietas kedelai lokal yang kualitasnya tak kalah dibandingkan produk impor. Dari segi benih varietas kedelai (Glycin max) lokal saat ini, sebenarnya ada puluhan yang telah dikembangkan lembaga riset pemerintah dan swasta. Menurut Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pertanian Ahmad Suryana, Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Departemen Pertanian, Malang, Jawa Timur, telah lama melakukan pemuliaan tanaman kedelai yang menggunakan tanaman tetua atau sumber plasma nutfah yang berasal dari Brasil dan Argentina. "Introduksi kedelai dari Brasil untuk diadaptasi di Indonesia saja telah berlangsung puluhan tahun lalu, " ujarnya.

Varietas kedelai hasil pemuliaan yang dikembangkan Balitbang Deptan dan dilepas ke petani di antaranya yang sudah dikenal adalah Wilis, Anjasmoro, Burangrang, dan Kaba. Varietas Wilis diintroduksi lebih dari 10 tahun lalu, yang dijadikan varietas kontrol atau acuan dari varietas yang dikembangkan kemudian. Sedangkan Anjasmoro tergolong paling banyak digunakan untuk bahan baku tahu dan tempe. Dan varietas yang terakhir diluncurkan adalah Panderman, tahun 2005.

Pengembangan varietas-varietas itu bertujuan meningkatkan produktivitas tanaman, ketahanannya terhadap penyakit, dan tumbuh pada tanah yang masam. Varietas kedelai tahan terhadap kemasaman tinggi hingga pH 3-5 antara lain dihasilkan di Tanggamus, Lampung, pada lahan pasang surut.

Teknik radiasi

Selain Balitbang Deptan, pengembangan varietas kedelai unggul juga dilakukan Badan Tenaga Nuklir (Batan) dengan teknik radiasi sejak 20 tahun lalu, di antaranya adalah Tengger, Muria, Meratus, dan Rajabasa. Rajabasa paling tinggi produktivitasnya, yaitu 3,5 ton per hektar, sedangkan pengujian di 20 lokasi rata-rata 2,3 ton/ha. Temuan paling akhir adalah galur N220 belum diberi nama.

Varietas tersebut dihasilkan Batan dengan teknik radiasi sinar gama dari Kobalt 60 (Co-60). Untuk menghasilkan mutan baru yang unggul dari teknik ini perlu waktu minimal tujuh tahun, di antaranya untuk menjalani uji lapangan minimal di 18 lokasi dengan hasil yang baik. Proses itu harus dilalui sebelum dilepas ke petani untuk budidaya secara luas.

Sementara itu, riset yang dilakukan Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lebih difokuskan pada upaya memacu produktivitas kedelai yang ada. Caranya dengan mencari mikroba yang dapat memacu pertumbuhan kedelai.

Penelitian lebih dari 30 tahun ini, jelas Endang Sukara, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, menemukan isolat Rhizobium BTCC-B64 sebagai satu dari ratusan koleksi isolat terseleksi yang punya keistimewaan karena mampu bersimbiosis secara efektif dengan banyak galur kedelai, kacang hijau, dan sengon. "Mikroba BTCC-B64 kemudian diinjeksikan ke dalam biji kedelai (benih) pada tekanan 1 atmosphere menghasilkan produk yang disebut Kedelai Plus, " kata Harmastini, peneliti mikroba tanah pada Puslit Bioteknologi LIPI.

Keunggulan lain Rhizobium BTCC-B64 ini antara lain dapat bertahan hidup dan memperbanyak diri pada pH yang sangat rendah (pH2), dapat membentuk bintil akar pada kondisi asam (pH3), dapat meningkatkan nitrogen tanah sampai 20 persen setelah penanaman, dan tidak memerlukan pupuk sama sekali bila menggunakan "pupuk hara " dosis rendah atau 2kg/ha.

Dibagikan gratis

Kepala Puslit Bioteknologi LIPI Bambang Prasetya menambahkan, pengembangan lebih lanjut dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan pihak swasta dengan melakukan percobaan skala lapangan di Cicadas, Bogor. Selain itu juga akan dilakukan penanaman dalam skala besar, antara lain sedang dijajaki di Sulawesi Tenggara.

Lembaga riset yang juga melakukan uji coba penanaman kedelai adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Menurut Deputi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional Tien R Muchtadi, penanaman kedelai sedang dilakukan di Agro Techno Park di Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Bali. Pengembangan selanjutnya dilakukan di Jawa Tengah.

Dikemukakan Tien, Indonesia harus mengurangi ketergantungan pada kedelai impor, dengan memberi peluang dan kemudahan bagi petani untuk mengembangkan sumber daya lokal.

Hal ini memerlukan dukungan kebijakan pemerintah untuk mendorong produksi benih unggul oleh lembaga riset. Selanjutnya, mendistribusikan ke petani secara gratis sehingga petani terdorong menggunakan produk lokal. (YUNI IKAWATI, KOMPAS)

Sumber : KRT (16 Januari 2008)

Diakses : 2871