LIPI Ajak Content Creator dalam Negeri Lestarikan Pengetahuan Lokal melalui Program Akuisisi

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Di 2021 ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui LIPI Press Kembali menyelenggarakan Program Akuisisi Pengetahuan Lokal dalam bentuk buku dan audiovisual. Program ini dapat diikuti oleh content creator di seluruh penjuru negeri serta ditujukan untuk melestarikan dan menggali sumber-sumber pengetahuan lokal yang seringkali belum banyak diketahui.
 
“Fokus dari program ini tidak hanya pada melestarikan budaya lokal yang tersebar di masyarakat di berbagai daerah, tetapi juga bagaimana pengetahuan lokal tersebut dapat diketahui dan dapat memberikan inspirasi, bahkan untuk riset-riset kekinian,” ujar Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Laksana Tri Handoko dalam Webinar Series #1 “Program Akuisisi pengetahuan Lokal dalam Bentuk Buku dan Audiovisual” pada Kamis (22/07).
 
Handoko menyatakan bahwa selanjutnya BRIN akan terus memperkuat dan memperluas program ini. “Kami akan terus melanjutkan program ini, akan kita perkuat, kita ekspansi. Mengapa ini penting? Karena kita memang memiliki banyak pengetahuan lokal tetaoi belum terdokumentasi karena budaya kita budaya lisan,” terang Handoko. Dirinya pun menyebut program yang baru berjalan dua tahun belakangan ini juga telah mendapat dukungan dari Badan Pengawas Pendidikan Nasional (BAPPENAS) sebagai bagian dari prioritas nasional.
 
Pelaksana Harian Kepala LIPI Agus Haryono menjelaskan program dari LIPI ini juga bertujuan untuk mendukung dan mewujudkan SDM Indonesia yang cerdas dan unggul. “Dan sekaligus kami ingin memberikan kesempatan pada masyarakat untuk berkontribusi menyampaikan muatan-muatan iptek dan pengetahuan lokal, atau saya ingin sebut sebagai citizen science,” katanya.
 
Agus pun menyampaikan program ini bertujuan untuk meningkatkan peran pemerintah dalam upaya penyediaan sumber literasi yang mudah, murah, dan merata bagi masyarakat. Selain itu, program ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal Indonesia. “Kita tahu jumlah peneliti kita sangat sedikit di antara jutaan penduduk Indonesia, dengan kita melibatkan masyarakat umum untuk mempublikasikan hasil risetnya dalam bentuk buku atau audiovisual, kita dapat meningkatkan publikasi nasional,” jelas Agus.
 
Sementara itu menurut Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Herry Yogaswara, pengetahuan lokal terbentuk berdasarkan pengalaman, penggunaanya telah teruji dalam waktu yang lama, serta bersifat dinamis dan adaptif terhadap budaya lokal dan lingkungan sekitar. Pengetahuan lokal sendiri memiliki beragam istilah yang berkembang di masyarakat, antara lain pengetahuan tradisional, kearifan lokal, indigenous knowledge atau pengetahuan asli, pengetahuan rakyat, dan atau disebut Unesco sebagai Local and Indigenous Knowledge System (LINKS).
 
“Kalau kita bicara pengetahuan lokal, maka kita bicara pengetahuan yang hidup pada suatu komunitas, dan itu bisa pengetahuan asli dan pengetahuan-pengetahuan lain yang kemudian memperkaya suatu pengetahuan yang ada di masyarakat. Bisa juga disebut pengetahuan tradisional, karena lebih dilihat dari pewarisan tradisi yang turun temurun,” papar Herry.
 
Herry menekankan bahwa pengetahuan lokal telah banyak berkontribusi dalam kebijakan pembangunan dan mitigasi bencana, contohnya di Aceh dan Yogyakarta. “Pengetahuan lokal bukan hanya sebagai sebuah cerita, masa lalu, tradisional. Itu semua sudah oppression di dalam kegiatan pembangunan,” kata Herry. “Pengetahuan lokal juga telah menjadi isu dan perhatian global. Oleh karena itu, perlunya pendokumentasian pengetahuan lokal secara lebih sistematis dengan berbagai mode teknologi informasi,” imbuhnya
 
Pentingnya kesadaran tentang pengetahuan lokal ini diperkuat oleh penjelasan Dyah Roro Esti dari Komisi VII DPR RI. “Beberapa kali menjadi minoritas dari suatu komunitas membuat saya semakin menyadari pentingnya identitas sebagai suatu bagian dari kearifan lokal. Saya juga meyakini bahwa seluruh aspek kehidupan manusia juga selalu berkaitan dengan nilai-nilai kearifan lokal,” tuturnya.
 
Dyah berharap agar anak-anak muda dapat lebih menggunakan pengaruh dan suaranya untuk turut memberdayakan kearifan lokal dan disebarluaskan sebagai bentuk mencintai negara. “Ojo lali asalmu ben ora ilang sejatine awakmu (Jangan melupakan asalmu agar tidak lupa dengan sejatinya dirimu),” pungkasnya.  (spd/ ed: iz)

Sivitas Terkait : Dr. Eng. Agus Haryono
Diakses : 499