LIPI Galakkan Budidaya Jamur Pangan di Indonesia

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggalakkan budidaya jamur pangan agar dapat dikonsumsi secara layak dan luas bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya ada enam jenis jamur pangan yang bisa dan boleh dikonsumsi di Indonesia, antara lain jamur merang, jamur kuping, jamur kancing, jamur tiram, jamur shitake, dan jamur lingchi.
 
“Jamur yang dibudidayakan di Indonesia memiliki nilai gizi yang tinggi bahkan jamur mengandung 19-35 persen protein lebih tinggi dibandingkan beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen),” ujar Iwan Sakiawan, peneliti Budidaya Jamur Pangan Pusat Penelitian Biologi LIPI saat Media Briefing “Budidaya Jamur Pangan di Indonesia” pada Senin (6/11) di Media Center LIPI, Jakarta.
 
Menurut Iwan, jamur pangan yang selama ini dikonsumsi adalah tubuh buah dari jamur. Jamur pangan umumnya bersifat saprofit, yakni memperoleh makanan dari sisa-sisa bahan organik.
 
Dijelaskannya, budidaya jamur sangat berpotensi dikembangkan lebih luas lagi di Indonesia karena memiliki nilai ekonomi dan ramah lingkungan. “Budidaya jamur sangat ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah sebagai media tanamnya yakni limbah kapas, merang, ampas aren dan serbuk gergaji. Bahkan sampahnya bisa dijadikan pupuk,” ungkapnya.
 
Selain itu, tekstur jamur yang menyerupai daging dan lezat membuat tanaman ini sering menjadi berbagai macam pangan olahan seperti keripik, rendang, sate, abon, bakso dan suplemen. Bahkan, negara lain sudah menggunakan jamur sebagai suplemen atau vitamin untuk menjaga kesehatan tubuh. “Jamur mengandung zat yang mampu menangkal radikal bebas sehingga bila dikonsumsi secara tepat dapat menjaga daya tahan tubuh,” ujar Iwan.

 
 
Sulit Dibudidayakan
 
Di sisi lain menyoroti soal polemik keripik jamur yang bersifat halusinosic dan termasuk Golongan 1 Narkotika, peneliti Taksonomi Jamur Makro Pusat Penelitian Biologi LIPI, Atik Retnowati mengungkapkan bahwa budidaya jamur dengan efek halusinasi tersebut sulit untuk dibudidayakan.
 
"Jika jamur yang menimbulkan efek halusinasi dijadikan keripik artinya butuh dalam jumlah banyak. Rasanya akan sulit karena jamur 'narkoba' ini sulit dibudidayakan," katanya. Sebab, perkembangan jenis jamur di alam seperti Psilocybe dan Coprinus, dengan kandungan senyawa psilosin yang bersifat halusinosic, dipengaruhi banyak faktor dan itu tidak mudah untuk dibudidayakan.
 
Dirinya mengaku bahwa pernah mencoba mengembangkan dan membudidayakan jamur shitake (jamur pangan), tapi ternyata itu sulit. “Apalagi jenis jamur dengan efek halusinasi atau ‘magic mushroom’, itu tentu juga tidak mudah,” ungkapnya.
 
Apalagi, Atik melanjutkan, jenis Psilocybe cubensis yang diketahui memiliki kandungan psilocybin dan psilocin tinggi belum dilaporkan ada di Indonesia. Sejauh ini, di Asia, hanya ditemukan di India, Thailand, Vietnam dan Kamboja.
 
Untuk itu, dia katakan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara hati-hati terkait keberadaan jamur-jamur bersifat halusinogenik di Indonesia. “Memang tidak mudah melakukannya, sehingga peneliti taksonomi seharusnya bisa melakukan penelitian bersama dengan peneliti fitokimia,” tutupnya. (lyr,pwd)
 
Sumber foto slider: http://beritadaerah.co.id/2013/12/03/budidaya-jamur-tiram-di-rumah-jamur-waru-sidoarjo/

 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Iwan Saskiawan